animasi-bergerak-selamat-datang-0276
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2018

Cerpen "Hari Lahirku Hari Matiku"


HARI LAHIRKU HARI MATIKU

Aku terlahir dengan paras cantik, keluarga yang serba kecukupan, dan pandai. sampai suatu saat kejadian pahit yang tak mampu dibayangkan menimpaku. kejadian naas saat itu merenggut kebahagiaan ku. laju truk yang bagaikan angin itu menghantam mobil ayah ku. setelah koma selama setahun. beruntung nyawa ayah masih terselamatkan. ayah sadar dari komanya meski aku harus menerima kenyataan bahwa ayah kehilangan indra pendengarannya dan akibat kerusakan sarafnya ayah seperti orang yang tak berakal.

Untuk membiayai pengobatan ayah selama setahun, biaya hidup kami, belum lagi perusahaan yang terbengkalai, akhirnya perusahaan kami terpaksa gulung tikar. Roda pun berputar posisi kami sekarang di bawah. kini, aku tak sanggup lagi membeli barangbarang mewah. Jangankan barang mewah, barang murah pun tak sanggup aku meliriknya.

Pagi itu, waktu nya untuk ku berangkat ke sekolah. sebelum berangkat sekolah seperti biasa kami sarapan terlebih dulu karena ayah dan ibu tak mempunyai banyak uang untuk memberi ku ongkos. ibu membagikan  mie menu kami pagi ini. “ko mie lagi? ibuuuu, aku bosan. kapan kita makan enak lagi seperti dulu bu? Adikku berbicara dengan nada yang lirih sambil menangis. ibu hanya terdiam. tiba-tiba beranjak dari meja makan dan berlari ke kamar. aku menghampirinya, terdengar suara ibu menangis tersedu-sedu meluapkan kesedihannya.  tak sanggup aku menahan kepedihanku air mata ku pun mengalir dengan derasnya. “ibuuu, jangan menangis bu, kita harus kuat. ini cobaan dari allah” sahut ku mencoba menenangkan ibu. “ibu gak kuat nak, ibu gak kuat cobaan ini terlalu beraat ibu gak sanggup lebih baik ibu mati” jawab ibuku. “astaghfirullah bu, istighfar bu kalo ibu gaada aku sama siapa bu? Siapa yang rawat ayah” sahut ku. “cepat pergi sekolah, nanti terlambat gak usah mikirin ibu. Sana pergi”   usir ibuku. aku pun pergi ke sekolah meski air mata ku tak hentinya mengalir merasakan pedihnya takdir ku ini.

Waktu menunjukkan pukul 3.00 sore waktunya aku pulang kerumah. Kejadian tadi pagi masih terngiang diingatanku. Kata kata ibu terus terdengar ditelingaku .

Setibanya dirumah, kaget bukan kepalang. Begitu banyak orang berkerumun di gubuk ku. Aku bertanya-tanya apa gerangan yang membuat mereka berkumpul di rumah ku. Rasa  penasaran bercampur rasa takut menghantui perasaan ku. Namun apalah daya ku beranikan diri mencari tahu kebenaran. Meskipun ragu Kulangkah kan kaki ku masuk kedalam rumah. Bukan main kaget nya aku ketika melihat adik ku tergeletak tak sadarkan diri, busa putih memenuhi mulut nya. Sedangkan ibu, tak kusangka ibu nekad mengakhiri hidupnya dengan seutas tali setelah meminumkan racun tikus kepada adik ku. Badannya tergantung lemas tak bernyawa. Hati ku tercabik-cabik lebih perih dari luka yang terkena air garam. Teganya ibu melakukan ini pada ku. Tak kusangka satu satunya orang tempat ku mengadu kini telah tiada , aku berharap ini hanya mimpi buruk. Mimpi buruk yang segera usai . Ingin ku terbangun dari mimpi buruk ini , namun tak sanggup ku menolak inilah kenyataan takdir pahit ku. Kesal, kecewa, sedih, marah, gundah, semua bercampur aduk. Disamping mayat adikku tergeletak sepucut surat. Pesan terakhir ibu sebelum mengakhiri hidupnya

Anak ku tersayang, maafin ibu. Ibu udah gak bisa dampingin kamu tumbuh dewasa. Ibu udah gak kuat nak hidup seperti ini. hidup kita sekarang gak ada bedanya sama neraka. lebih baik ibu pergi. Ibu gak sanggup nanggung kepedihan hidup kita. Ibu juga ajak adik mu ikut ibu. Jangan ikut ibu ya nak, jaga diri baik-baik. Jaga ayah .maafin ibu. ibu harap kamu bahagia .

Air mata ku mengalir dengan derasnya. Tak sanggup sungguh tak sanggup ku menerima nya. Tubuh ku lemas tak kuasa menopang berat badan ku. bagaikan ditimpa batu seberat 10 ton. Ibu ibu ibu berkali kali ku meneriakkan namanya. Ibu tetap tak kunjung sadar. Teganya ibu meninggalkan ku. Meninggalkan ku bersama pria tua tak berguna ini.  Kulimpahkan semua kekesalan ku kepada ayah. Seolah-olah dialah penyebab semua kepahitan ini.

Sejak kematian ibu, sikap ku terhadap ayah memburuk. Bahkan sebutan anak durhaka pantas untukku. Kondisi ayah membaik meskipun ia masih telihat seperti orang setengah berakal. Hari demi hari kujalani .

Pernah suatu hari, ditengah perjalanan pulang sekolah. Kulihat ayah sedang dipermainkan oleh sekumpulan anak-anak kecil. Kulihat brosur tercecer ditanah. Ternyata ayah mencoba untuk mencari uang dengan membagikan brosur iklan tempat les. Mereka meneriaki ayah ku orang gila. Memang itu tidak sepenuh nya salah ayah memang terlihat seperti orang gila. Tetapi hatiku sedih melihat nya. Pantaskah mereka menghina kami? Apakah kami ingin memiliki takdir seperti ini? Tidak! Tak ada seorang pun yang menginginkan takdir ini. Jika aku boleh memilih, aku pasti akan memilih menjadi orang kaya selama hidup ku. Mendapatkan kebahagiaan. Hidup dengan layak. Tapi allah berkehendak lain, inilah ketentuan yang ia berikan . Hidup seperti binatang
penuh caci maki dan kesedihan.

Dengan tatapan tajam aku lantangkan kalimat kepada anak-anak itu  "tahu apa kaliaan? Ha? Tahu apa tentang hidup kami? Seenaknya mencaci kami. Hidup kami baik-baik saja sebelum ayah ku kecelakaan. Nyawa kalian pun mampu aku beli!!"

"Orang gila! Baju aja compang camping mau beli nyawa" celetuk salah seorang anak sambil melempar uang seribu lecek kewajah ku. "Jangan-jangan uang seribu pun kaka tak pernah megang hahahahahaa" lanjutnya. Habis sudah kesabaran ku. Dengan penuh emosi Kudorong badan kecil nya hingga tersungkur ke tanah. Seketika ia dan temannya terdiam. kutatap wajahnya dengan mata penuh kebencian. Kuteriakkan kepada mereka "PERGI !!!! Cepat PERGIIII atau kubunuh kalian!" Mereka semua menangis dan lari terbirit birit meninggalkan ku dan ayah ku.
Kami pun berjalan pulang, didepan pintu rumah kutatap ayah. Aku begitu jijik melihat penampilannya. Pantas lah mereka semua mengejek dan menghina ayah. Seketika aku lemparkan brosur-brosur yang ada di tangan ayah. Brosur itu berhamburan ditanah. Aku memaki ayah ku habis-habisan aku berkata pada nya "buat apa ayah lakukan itu? Buat apaaa? Apa aku suruh ayah bekerja? Apa iya? Engga kan yah? Apa gak cukup ayah bikin aku malu setiap hari apa gak cukup yaaah?" Teriakku kepada ayah. Tak puas meneriaki nya aku pun menarik baju ayah yang compang camping hingga ia tersungkur ketanah seraya berkata "inilah kenapa mereka memaki ayaah, ayah dekil kumuh pakai baju pun compang-camping pantaslah mereka mengejek ayah. Ayah memang pantas diejek. Ayah itu emang gilaa!!" Kutendang brosur yang berhamburan ditanah kubanting pintu lalu masuk kedalam kamar . Air mata ku kembali mengalir. tak henti-henti nya aku menangis. Bertambah perihnya ketika aku ingat kondisi ayah sebelum kecelakaan. Memakai jas, mengendarai mobil mewah, begitu dihormati begitu disegani oleh orang-orang. Hanya dengan setoreh tanda tangan pun ratusan juta rupiah masuk kekantong ayah. Berbanding terbalik dengan keadaan kami sekarang.

Sekian lama kurenungi nasib. Tiba-tiba Teringat oleh ku bahwa hari ini adalah hari ulang tahun ku. Apalah pentingnya hari ulang tahun bagi ku. Toh tidak ada orang yang akan mengucapkan selamat ulang tahun lagi kepada ku. Tidak ada hadiah, dan tidak ada kata bahagia untuk ku. Sejak kecelakaan ayah, hidupku berubah drastis sepertinya senyum sangat takut menghampiriku.

Tok tok tok terdengar suara orang mengetuk pintu dengan keras nya. Cepat-cepat aku berjalan membukakan pintu, plakkk! betapa kagetnya aku seorang ibu-ibu tiba-tiba menampar pipiku. Belum kering air mata dipipiku kini tamparan sudah menyambahnya. Ya Tuhaan apalagi ini. Cobaan tiada hentinya . Orang itu mencaci ku seenaknya seraya  berkata "orang miskin gak tau diri! Sudah miskin belaga kaya! Gak punya kaca? Oh ya makan saja susah mana punya uang untuk beli kaca! Beraninya bikin anak saya nangis. Ayah kamu itu emang gila. Ya terima aja gak usah belaga mau beli nyawa anak saya! Kamu itu sampah! Sampah masyarakat yang pantas dicaci" dia meludahi ku dan lalu pergi. Tak sanggup ku berkata apa-apa. Aku hanya terdiam. Tak percaya apa yang baru saja aku alami. Sebegitu hina nya kah diriku? Aku sungguh tak memahami hidup ini .

Menangis, menangis, menangis aku lelah dengan hal itu. Baru kusadari bahwa ayah ternyata tak ada dirumah. Kemana dia pergi? Aku cemas. Cemas karna ku peduli? Tidak! Aku hanya takut dia membuat masalah lagi dan menghadiahkan ku sebuah tamparan lagi. Aku pun bergegas mencari nya. Kesana kesini tak kunjung kutemui. Hingga diperempatan jalan kulihat banyak kerumunan. Rasa penasaran membawa ku menghampiri kerumunan itu, tiba-tiba hatiku gelisah entah mengapa.


Tak berhenti ditamparan, penderitaan ku masih berlanjut. Kulihat ayah tergeletak tak bernyawa. Tubuhnya berlumuran darah. Kecelakaan yang kedua kalinya berhasil merenggut nyawanya. Keluarga ku satu-satu nya pergi meninggalkan ku. Kulihat tangan ayah memegang sebuah perekam suara. Aku bertanya-tanya mengapa ayah memegang benda itu. Kuputar rekaman suara itu lalu terdengar suara ayah berkata "nak, ayah merekam ini. selamat ulang tahun nak. Ayah baik-baik saja, ayah baik-baik saja. Selamaayah memiliki mu nak. Maafkan ayah. selama ayah memilikimu ayah baik-baik saja. Ayah tidak sempurna tetapi ayah memiliki cinta yang sempurna untuk mu" tiiiiiiiiiinn tiba-tiba suara klakson berbunyi. Terlintas dipikiran ku ayah meninggal karena ku, hanya untuk membelikan anak durhaka nya ini sebuah perekam suara ayah bahkan tidak memperhatikan jalan yang dilalui nya. Penyesalan yang mendalam melintasi perasaan ku. Bahkan dihari ulang tahun ku pun ayah meninggalkan ku untuk selamanya.

Tak ada lagi alasan ku untuk melanjutkan hidup ini. Terlalu pahit terlalu pedih takdir yang harus ku jalani, satu per satu orang yang kusayangi meninggalkan ku. Satu per satu kebahagiaan mencampakkan ku. Kepedihan tiada henti datang mengeroyokku. Tak ada lagi harapan, hanya keputus asaan. Dihari kelahiran ku pun tuhan tega mengambil ayah ku. Bagiku tuhan begitu kejam. Akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri hidup ku. Aku berjalan dan terus berjalan hingga kutemukan sungai yang mengalir dengan derasnya. Aliran yang menggambarkan deras nya air mata ku. Aku meloncat ke dalam sungai. berharap, kepedihan yang ku alami. hilang bersama ragaku yang terbawa derasnya aliran sungai .



Cerpen Singkat "Kisa Seorang Penjual" dan Cerpen Singkat "Persahabatan"


Kisah Seorang Penjual Koran

Di ufuk timur, matahari belum tampak. Udara pada pagi hari terasa dingin. Alam pun masih diselimuti embun pagi. Seorang anak mengayuh sepedanya di tengah jalan yang masih lengang. Siapakah gerangan anak itu? Ia adalah seorang penjual Koran, yang bernama Ipiin.
Menjelang pukul lima pagi, ia telah sampai di tempat agen koran dari beberapa penerbit. “Ambil berapa Ipiin?” tanya Bang Ipul. “Biasa saja.”jawab Ipiin. Bang Ipul mengambil sejumlah koran dan majalah yang biasa dibawa Ipiin untuk langganannya. Setelah selesai, ia pun berangkat.
Ia mendatangi pelanggan-pelanggan setianya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Begitulah pekerjaan Ipiin setiap harinya. Menyampaikan koran kepada para pelanggannya. Semua itu dikerjakannya dengan gembira, ikhlas dan rasa penuh tanggung jawab.
Ketika Ipiin sedang mengacu sepedanya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Ipiin jadi gemetaran. Benda apakah itu? Ia ragu-ragu dan merasa ketakutan karena akhir-akhir ini sering terjadi peledakan bom dimana-mana. Ipiin khawatir benda itu adalah bungkusan bom. Namun pada akhirnya, ia mencoba membuka bungkusan tersebut. Tampak di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kardus. 
“Wah, apa isinya ini?’’tanyanya dalam hati. Ipiin segera membuka bungkusan dengan hati-hati. Alangkah terkejutnya ia, karena di dalamnya terdapat kalung emas dan perhiasan lainnya. “Wah apa ini?”tanyanya dalam hati. “Milik siapa, ya?” Ipiin membolak-balik cincin dan kalung yang ada di dalam kardus. Ia makin terperanjat lagi karena ada kartu kredit di dalamnya. “Lho,…ini kan milik Pak Edison. Kasihan sekali Pak Edison , rupanya ia telah kecurian.”gumamnya dalam hati.
Apa yang diperkirakan Ipiin itu memamg benar. Rumah Pak Edison telah kemasukan maling tadi malam. Karena pencuri tersebut terburu-buru, bungkusan perhiasan yang telah dikumpulkannya terjatuh. Ipiin dengan segera memberitahukan Pak Edison. Ia menceritakan apa yang terjadi dan ia temukan. Betapa senangnya Pak Edison karena perhiasan milik istrinya telah kembali. Ia sangat bersyukur, perhiasan itu jatuh ke tangan orang yang jujur. 
Sebagai ucapan terima kasihnya, Pak Edison memberikan modal kepada Ipiin untuk membuka kios di rumahnya. Kini Ipiin tidak lagi harus mengayuh sepedanya untuk menjajakan koran. Ia cukup menunggu pembeli datang untuk berbelanja. Sedangkan untuk mengirim koran dan majalah kepada pelanggannya, Ipiin digantikan oleh saudaranya yang kebetulan belum mempunyai pekerjaan. Itulah akhir dari sebuah kejujuran yang akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan kelak.



PERSAHABATAN

ini hujan deras datang seharian lamanya. Aku melihat keluar jendela dan menyaksikan genangan air mulai terbentuk dengan cukup tinggi. Kulihat Ayah dan Ibu sudah mulai membereskan barang-baran dan mengangkatnya satu sama lain dengan posisi menumpuk. Hal ini sudah biasa terjadi di lingkungan tempat tinggalku. Setiap hujan datang, kami sudah tahu untuk mempersiapkan diri dari datangnya banjir.
Sesekali Ayah juga ikut memeriksa ketinggian air di luar rumah melalui jendela. Kemudian ayah berkata “Bahaya ini. Jika hujan masih terus deras seperti ini, sebentar lagi pasti air masuk ke dalam rumah." Aku melihat wajah Ayah yang lebih khawatir dari biasanya. Perasaanku menjadi tidak tenang. Aku memutuskan untuk ikut membantu Ibu membereskan barang-barang untuk menghindari resiko terendam banjir.
Setengah jam kemudian, aku mulai merasakan air mulau menggenang di lantai rumah. “Air sudah masuk, Bu" ucapku pada Ibu. Ibu memandangku dengan sorot mata yang sama khawatirnya. Sepertinya banjir kali ini akan lebih parah dari biasanya. Tentu alasannya tidak lepas dari kebiasaan buruk membuang sampah sembarang ke kali dekat rumah yang masih dilakukan oleh banyak warga.
Ibu pun memanggil Ayah karena air yang masuk ke dalam rumah sudah semakin tinggi dan telah mencapai setinggi lututku. “Ayah airnya semakin cepat masuk. Lebih baik kita segera mengungsi," saran Ibu. Kemudian Ayah pun mengangguk setuju, “Iya Bu, lebih baik kita segera mengungsi dan membawa beberapa barang penting terlebih dahulu."
Ayah, Ibu, dan aku pun kembali bersiap-siap memilih beberapa barang penting untuk di bawa ke tempat pengungsian yang biasanya sudah disediakan di musim-musim banjir seperti ini. Kami pun akhirnya meninggalkan rumah kami yang semakin lama terus semakin tinggi air masuk ke dalamnya. Sesampainya di pengungsian, ternyata sudah banyak keluarga lain yang juga memutuskan meninggalkan rumahnya karena banjir kali ini sepertinya akan lebih parah ketinggian airnya dibandingkan sebelumnya.
Selama di pengungsian hujan pun tidak kunjung berhenti. Aku pun diminta meliburkan diri dari sekolah oleh Ayah dan Ibu karena sebagian besar buku dan pakaian seragam pun tidak ada yang kami bawa ke pengungsian. Tidak ada yang menyangka hujan deras terus mengguyur daerah rumah kami hingga 3 hari setelahnya.
Hari keempat setelah hujan berhenti, kami kembali ke rumah. Kondisi rumah sudah sangat berantakan dan banyak dari barang-barang kami yang rusak serta hanyut terbawa air. Ayah memandang ke arah aku dan Ibu lalu mengatakan “Hujan sudah berhenti, sekarang saatnya kita kembali membersihkan rumah kita. Kalian mau membantu Ayah bersih-bersih kan?" Aku dan Ibu serentak menjawab dengan anggukan.
Saat kami sedang bersih-bersih terdengar salam dari luar rumah “Assalamualaikum." Aku pergi ke depan rumah dan menemukan sahabat-sahabatku di sekolah. Ternyata mereka datang untuk menanyakan kenapa aku tidak masuk sekolah selama 3 hari terakhir. Aku pun menjelaskan mengenai banjir mendadak yang melanda lingkungan tempat tinggalku.
Melihat aku, Ibu, dan Ayah yang sedang bersih-bersih mereka pun menawarkan diri untuk membantu kami. Teman-teman sekolahku membantu hingga rumah kembali bersih dan kemudian menghabiskan waktu bersamaku untuk menginformasikan pelajaran-pelajaran yang aku lewatkan selama tidak masuk. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Sahabat yang ada di kala aku susah dan tidak ragu mengulurkan bantuan di masa sulitku.

Sumber:
https://luthfan.com/contoh-cerpen-singkat/












IBU
Luthfan

Pagi ini Risa berangkat ke sekolah dengan semangat. Sebelum berangkat tidak lupa iya pamit pada Ayahnya yang sedang membaca Koran di depan teras, “Yah Risa pergi sekolah dulu ya. Hari ini hari terakhir di sekolah sebelum kelulusan minggu depan."
Ayah membalas pamitan Risa dengan senyuman, dan menjawab, “Ya sudah hati-hati ya Nak. Jangan pulang terlalu lama, hari ini ada tamu mau bertemu dengan mu." Risa penasaran siapa tamu yang dimaksud Ayah, “Siapa yang mau datang Yah?" Ayah tidak menjawab dan malah menyuruh Risa untuk segera berangkat sekolah dan mengingatkan kembali agar jangan pulang terlalu lama.
Selama di sekolah Risa penasaran siapa tamu yang Ayah maksud. Itulah sebabnya setelah semua urusan di sekolah selesai, Risa segera menuju ke rumah dengan hati bertanya-tanya siapakah tamu yang ingin menemuiku.
Sesampainya di rumah, Risa langsung disapa oleh seorang wanita. “Halo Risa, perkenalkan nama tante Mia. Tante adalah teman Ayah kamu." Risa perlahan-lahan mencerna siapa dan untuk apa Tante Mia datang ke rumahnya. Apakah tante Mia ini tamu yang dimaksud oleh Ayah.
Risa kemudian menyapa kembali tante Mia dengan “Halo tante, aku Risa. Ayah ada di mana ya tante?" Tante Mia menjawab, “Ayah kamu sedang di belakang membantu tante menyiapkan makan siang. Kami sudah menunggu Risa sejak tadi."
Aku kemudian beranjak menuju meja makan dan akhirnya bertemu dengan Ayah. Ayah memeluknya lalu kembali memperkenalkan tante Mia lagi. “Risa, ini tante Mia teman Ayah." Risa hanya menganggukan kepala sekali lagi dan kembali memikirkan apa maksud Ayah memperkenalkan tante Mia padanya.
Apakah Ayah ingin menggantikan posisi Ibu dengan Tante Mia? Memikirkan hal tersebut aku seketika menjadi sedih dan tidak bersemangat. Aku tidak mungkin mengecewakan Ayah dengan tidak ikut makan siang bersama. Tapi aku merasakan perasaan yang sangat sedih ketika memikirkan apakah benar Ayah ingin menggantikan posisi Ibu dengan orang lain.
Tidak lama selesai makan siang, tante Mia kemudian pamit pulang. Ayah mengantarkannya ke luar dan aku mengunci diriku di kamar. Setelah beberapa saat, Ayah menghampiri pintu kamarku. Ayah mengetuk pintu beberapa kali, namun aku tidak ingin berbicara dengan Ayah dahulu. Aku masih belum mengerti kenapa harus ada orang lain yang menggantikan posisi ibu.
Tanpa aku sadari Ayah mengajakku berbicara dari balik pintu. Ayah berkata, “Risa, Ayah tahu kamu pasti kaget dengan kedatangan tante Mia hari ini. Tapi Ayah ingin kamu tahu kalau tante Mia itu baik dan Ayah ingin tante Mia membantu Ayah menjaga dan membesarkan kamu."
Aku menangis mendengar pengakuan Ayah. Aku pun menjawab Ayah sambil menangis, “Tapi Risa tidak mau siapapun menggantikan Ibu, yah." Ibu memang sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu, tepat saat aku berumur 12 tahun. Saat itu aku dan ayah sangat terpukul dengan kematian ibu. Aku tidak pernah menyangka bahwa ayah akan secepat ini mencari pengganti ibu.
“Tante Mia tidak menggantikan Ibu, Nak. Tante Mia ada untuk membantu membesarkan kamu. Banyak hal yang tidak ayah ketahui dalam membesarkan kamu menjadi seorang wanita dewasa. Ayah harap kamu bisa mengerti nak." Ucap ayah lagi kali ini. Akupun menyadari ada banyak hal yang harus aku mepertimbangkan. Ayah sudah bersusah payah selama tiga tahun terakhir bekerja sekaligus membesarkanku sendirian. Aku harus mengerti ayah dan aku pun membuka pintu kamarku.
“Ayah aku mengerti perasaan Ayah. Jika memang tante Mia adalah pilihan terbaik untuk Ayah, Risa tidak akan menolaknya. Risa tahu Ibu juga bahagia ketika Ayah bahagia dan Risa bahagia." Aku memeluk ayah sambil menangis. Aku yakin Ibu mengerti dan tidak akan merasa tergantikan. Ibu tetap anda di hati kami. Ibu tetap hidup di hati kami. Aku dan Ayah sayang Ibu.

Sumber:
https://luthfan.com/contoh-cerpen-singkat/

Cerpen "Bertamasya Bersama Keluarga Besar"


Bertamasya Bersama Keluarga Besar

               Pada liburan kali ini saya bersama keluarga saya sangat senang sekali, liburan kali terasa berbeda dari sebelumnya, karena liburan kali ini kami sekeluarga mengunjungi lebih dari satu tempat wisata. 
               Itu terasa seperti terjadi kemarin, pada tanggal 1 Juli hari Senin saya berangkat dari Surabaya ke Jakarta bersama keluarga saya, tepatnya pada Senin pagi. Saya sekeluarga berangkat naik pesawat. Di Bandara kami sedikit direpotkan oleh pegawai yang kurang ramah, tetapi itu berbeda dengan pramugari pesawat. Kami dilayani dengan sangat menyenangkan, pramugari itu sangat ramah.
               Setelah kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta kami dijemput oleh saudara kami yang berada di Jakarta. Ternyata Jakarta itu sangat macet sekali, banyak kendaraan bermotor dimana-mana. Sampai-sampai dari Bandara ke rumah budhe saya di Jakarta timur memerlukan waktu kurang lebih 2 jam.
               Setelah kami sekeluarga sampai di rumah budhe saya, saya langsung beristirahat karena waktu perjalanannya sangat melelahkan. Saat sore harinya kami pergi ke Restauran untuk makan malam bersama, waktu makan malam saya menceritakan apa saja yang terjadi dibandara Juanda sampai datang ke Jakarta. Setelah selesai makan kami menunaikan ibadah solat Isha berjamaah di masjid dekat rumah. Setelah sampai rumah saya merasa sangat senang sekali karena rasa lelah waktu perjalanankami terbayar dengan makan malam tadi.
               Keesokan harinya saya bangun  dan seperti biasa, saya mengawali kegiatan dengan solat Shubuh dan senam pagi di depan rumah, setelah saya melakukan senam pagi saya mandi  dan melakukan aktifitas pagi lainnya termasuk sarapan pagi. Setelah sarapan selesai saya berangkat ke acara keluarga, di sana saya sangat senang karena banyak sepupu  yang seumuran dengan saya dan kami bermain bersama. Tetapi kami semua dikagetkan dengan adanya kecelakaan yang terjadi di tempat acar, untung saja di sana tidak ada korban hanya sedikit lecet saja. Kecelakaan itu disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk. Tetapi kami semua melupakan kejadian itu dan melanjutkan serangkaian kegiatan  pada acara keluarga. Di tengah acara keluarga adik sepupu saya tercebur di kolam ikan tetapi kejadian itu tidak ada satupun yang mengetahuinya kecuali saya dan sepupu saya. Setelah selesai kami sekeluarga kembali kerumah, karena hari sudah gelap kami sekeluarga tidak mampir-mampir lagi.
               Pada awalnya kami ke Jakarta hanya untuk mendatangi acara keluarga. Karena sudah sampai di Jakarta  kami sekalian berlibur ke tempat wisata. Pada hari itu saya bangun dipagi hari yang cerahsaya melakukan aktivitas seperti biasa, setelah melakukan aktivitas saya berangkat ke TMII ( Taman Mini Indonesia Indah ). Setelah sampai di sana kami langsung naik kereta gantung karena takut hari ini akan turun hujan, saat berada di kereta gantung saya melihat miniatur negara RI tentunya dengan ukuran yang kecil. Pada miniatur Indonesia saya dapat melihat letak-letak gunung berapi yang aktif maupun tak aktif di daerah-daerah Indonesia. Setelah saya naik kereta gantung dan puas melihat-lihat miniatur Indonesia, kami berfoto di setiap rumah adat daerah Indonesia dan setiap Provinsi ternyata memiliki rumah adat yang berbeda, senjata daerah pun berbeda tetapi beberapa memiliki senjata daerah yang hampir sama atau sama. Dan setiap daerah memiliki adat yang berbeda, pakaian tradisional pun berbeda. Di TMII kami juga melihat pesawat pertama Indonesia, pesawat itu adalah pesawat Dakota tetapi masih menggunakan baling-baling, ternyata pesawat pertama Indonesia itu berasal dari Provinsi Aceh dan sekarang diletakkan di TMII Jakarta dan sudah tidak beroperasi karena pesawat Indonesia sudah menggunakan teknologi yang lebih canggih yaitu menggunakan jet, kecepatannya pun juga berbeda. Tetapi pesawat pertama Indonesia masih dirawat dan di jaga dengan baik. Dan tidak lupa kami juga membeli kenang-kenangan dari TMII kami juga membelikan oleh-oleh untuk teman-teman dan lainnya. Setelah itukami pergi ke Keong Mas untuk melihat bioskop, film di bioskop menceritakan tentang segala sesuatu yang berada di Indonesia mulai dari kekayaan alam, budaya dan lain lain. Film itu berdurasi kurang lebih sekitar 1,5 jam. Film itu memiliki arti bahwa Indonesia itu berbeda-beda, memiliki sagala sesuatu yang berbeda di setiap daerah, dan tugas kita adalah untuk menjaga atau melindungi dan tidak terpengaruh terhadap bangsa asing karena kita memiliki segala sesuatu yang lebih berharga dari pada budaya-budaya asing. Setelah puas berkeliling TMII kami kembali pulang, di tengah perjalanan kami mampir ke Mall untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan sekalian jalan-jalan untuk mengisi waktu luang yang ada. Setelah itukami kembali pulang untuk istirahat dan beraktivitas kembali.
               Keesokan harinya kami pergi Monas, kami pergi ke Monas perjalanannya tidak terlalu ramai seperti biasanya. Menurut sejarah Monas dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah Soekarno, tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Waktu masuk ke dalam Monas di sana terdapat prasasti-prasasti yang tertulis tentang sejarah Indonesia. Di sana terdapat sejarah dari kerajaan Kahuripan sampai pada Masa Revolusi. Setelah puas berkeliling Monas kami pergi ke Restaurant karena kami bosan ke Rentaurant kami pergi untuk mencari makanan tempo DOELOE. Ternyata makanan tempo DOELOE tidak kalah enak dengan makanan tempo sekarang ini, hanya saja tidak terlalu terkenal karena kebanyakan restaurant tidak menyediakannya. Bahan dasar yang digunakan juga lumayan sulit untuk didapatkan di daerah perkotaan.
               Keesokan harinya saya juga mampir ke Ancol untuk melihat bioskop 3D, saya sempat kaget terhadap beberapa bagian film. Waktu di Ancol saya juga naik beberapa permainan, seperti contoh Roller Coster, ternyata permainan itu lumayan mengerikan tetapi dengan pengamanan seperti itu saya menjadi tidak merasa takut lagi. Saya juga menaiki permainan Tornado, permainan Tornado lebih menakutkan dari pada permainan Roller Coster. Karena waktu tidak mengijinkan, saya berpindah ketempat wisata lain untuk melanjutkan perjalanan saya.
               Saya melanjutkan perjalanan ke Seaword, di Seaword banyak sekali jenis-jenis hewan laut, dari hewan laut yang langka atau jarang ditemukan sampai ikan-ikan hias dan banyak lagi di sana saya sempat menyelam untuk melihat hewan laut dari dekat, saya juga memegang anjing laut dan kulitnya terasa kenyal dan licin, saya juga memegang anak ikan hiu dan mereka tidak akan menyerang jika kita tidak mengganggu, kulitnya terasa kasar tidak sama seperti kulit anjing laut.
               Setelah kami ke Seaword kami pulang dan membereskan barang-barang kami dan kami pun kembali ke Surabaya, seperti biasa jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta dari rumah budhe saya macet tetapi tidak separah waktu berangkat. Setelah kami di bandara kami langsung membeli tiket dan berangkat ke Surabaya. Waktu sebelum turun di Bandara Juanda pesawat yang kami naiki sulit untuk menemukan lajur pesawat karena cuaca sedang buruk. Setelah lama mencari kami akhirnya dapat turun dengan selamat, kami langsung pulang kerumah untuk bersiap kegiatan seperti biasa.


Cerpen "Air Mata Korek Api"


AIR MATA KOREK API

“Ah, sialan!”, umpat Lena, seorang wanita muda berumur 20an tatkala batang korek api yang ia coba gesek patah karena tangannya begitu gugup memegangnya. Umpatan tersebut tidak terlalu jelas ia ucapkan karena di ujung mulutnya sedang bertengger sebatang rokok yang baru saja ia keluarkan dari bungkusnya. Kemudian tetap dengan sebatang rokok di mulut, kembali ia mengambil sebatang korek api dari kotaknya dan me nggeseknya lagi dengan pelan. Dari gesekan yang kedua keluarlah api yang kemudian ia sulutkan ke ujung rokok hingga perlahan ia mulai menikmati asap demi asap yang ia hirup ke dalam paru-parunya. Ia kini mulai sedikit tenang. Kegugupan dihatinya mulai mereda. Rupanya dengan merokok ia dapat mengantisipasi kegugupannya.

Selang beberapa menit kembali Lena mengumpat,“Brengsek!”. Umpatannya tak lain ditujukan kepada dua orang asing yang duduk di belakangnya. Kedua orang itu adalah wanita muda yang memiiki penampilan sama denganya. Mereka sedang berbisik-bisik membicarakanya. Sesekali mereka tertawa kecil dan membuat Lena bertambah dongkol mendengarnya. Beberapa menit kemudian, Lena segera sadar ketika ia melihat papan peringatan di depannya yang berbunyi “Dilarang Merokok”. Dengan segera ia mematikan rokok di tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia menggerutu dengan suara pelan, “Mereka mentertawankanku karena aku merokok. Ah, dimana-mana dilarang ngerokok. Untung aja di tempat kerja bebas-bebas aja. Mau ngisep rokok atau ganja gak ada yang ngelarang. Ah, siapa juga yang mau ngelarang. Hanya tempatnya saja yang terlarang”.

Sambil menunggu giliran masuk, ia kembali memoleskan gincu merah menyala ke kedua bibirnya. Sambil menatap cermin ia berkata pada dirinya sendiri dengan semangat yang dibuatbuat,”Cukup untuk menarik perhatian dokter Hadi”. Namun ketika menyebut namanya, ia kembali gugup. Hatinya kembali khawatir. Ia berdo’a agar yang dikhawatirkannya tidak terjadi.

“Ah, sudahlah. Aku terlalu berlebihan. Dugaanku pasti salah. Dan apa gunannya aku berdo’a. Tuhan tidak akan mendengar do’a dari makhluk sepertiku”. Gumannya dalam hati.
Dan ketika tiba gilirannya ia dipanggil, dengan gesit ia berdiri hingga terlihat dengan jelas postur tubuhnya yang begitu montok dengan rambut pirang terurai sepanjang punggungnya. Dengan menggunakan setelan rok mini dan atasan u can see serta sepatu hak tinggi ia melenggang masuk ke dalam ruang periksa.

Di ruang periksa wanita itu terkejut karena yang sedang duduk di kursi dokter bukanlah dokter Hadi yang ia kenal. Melainkan seorang dokter muda berusia 20an dengan postur tegap. Berambut cepak berwarna hitam. Dengan kumis halus dan bibir yang tipis ia tersenyum mempersilahkan Lena duduk.
 “Ah, kemana dokter Hadi, dok?”, tanya Lena.

“Dokter Hadi dipindahtugaskan ke rumah sakit lain. Saya disini bertugas menggantikan beliau”.

“Kemana?”. Tanya Lena kaget.

“Maaf. Kami tidak bisa memberitahukan mengenai hal itu”.

Mendengar itu, hati Lena merasa kecewa. Ketakutan dan kekhawatiran kembali menjalari hatinya. Hari ini mestinya ia bertemu dengan dokter Hadi. Karena sudah satu bulan waktu yang ditunggunya untuk bertemu dengannya.

“Nama saya Deny. Saya dokter muda disini, nyonya”

“Jangan panggil aku nyonya. Umurku masih 26 tahun. Panggil saja aku Lena”.

“Baik kalau begitu. Apa keluhan anda?”

“Aku disini sih sebernarnya ingin ketemu dokter Hadi. Setelah beberapa minggu yang lalu melakukan pemeriksaan dengannya. Tapi karena dia sudah tidak disini lagi, mungkin bisa dokter yang melakukannya padaku sekarang. Melakukan pemeriksaan maksudku”. Ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.

Dokter Deny kemudian membuka buku catatan pasien. Ia mencari catatan medis atas nama Lena. Dan setelah menemukannya, ia mulai bertanya,“Anda terinveksi HIV, benar?”

“Seperti yang tertera di situ dok”. Jawabnya.

“Kalau boleh saya pastikan kembali, disini tertulis anda didiaknosis terinveksi HIV sebulan yang lalu dengan pemeriksaan oleh dokter Hadi”.

“Betul sekali, dokter”. Jawab Lena.

“Sebelumnya, nama anda Marlena. Usia 26 tahun. Pekerjaan anda, maaf, seorang penghibur.”



“Begitulah, dok. Tapi tidak cukup kata penghibur untuk menggambarkan pekerjaanku saat ini. Penghibur itu banyak. Ada penghibur di layar televisi, penghibur di radio, dan penghibur di atas panggung. Nah, untukku sendiri dok, penghibur di atas kasur”. Canda Lena untuk menutupi kekhawatiran di hatinya.

Hening sejenak. Tiba-tiba Lena bertanya. “Kalian sudah kenal dekat?. Maksudku kau dengan dokter Hadi”.

“Tidak juga”. Jawab dokter Deny dengan singkat, kemudian kembali terfokus pada catatan di tangannya.

“Emang udah berapa lama kau mengabdi disini, dok?”

“Sudah hampir enam bulan”. Jawabnya lagi dengan singkat.

Dalam hati, Lena berkata. “Dasar para dokter. Atau kalian saja yang sudah lama bekerja  dalam satu tempat belum bisa mengenal dekat satu sama la in. Atau dokter Hadi yang begitu dingin sehingga sulit mengenal seseorang lebih dalam? Atau semua lelaki yang kukenal memiliki sifat seperti itu?. Ah, sudahlah”. 

Kemudian dokter Deny berhenti sejenak dari catatan yang dibacanya. Ia berpaling ke arah Lena dan berkata. “Dari catatan yang saya baca, anda sudah melakukan pekerjaan ini selama lima tahun. Tapi kalau boleh saya tahu, alasan apa yang membuat anda menekuni pekerjaan ini?”.

Mendengar pertanyaan dokter Deny, Lena sedikit tersinggung dan menjawab.“Ah, pertanyaan basi. Gak bisa kujawab untuk pertanyaan seperti itu pada dokter. itu mejadi rahasiaku. Lagipula pertanyaan itu apa gunanya untuk bahan pemeriksaanku, dok? Atau kalau dokter masih penasaran, bisa bertanya langsung pada dokter Hadi. Ah, dia pasti tau benar alasan aku melakukan pekerjaan ini”. Jawab Lena.

Bingung dengan jawaban Lena, dokter Deny kemudian melajutkan memeriksa catatan medis Lena. Sedangkan Lena begitu mengucap nama Dokter Hadi, ia kembali merasa gugup. Kekhawatiran mulai terasa lagi di hatinya. Ia kemdian meraba-raba isi tasnya, mencari bungkus rokok dan korek apinya.

“Ah, ketemu”, gumamnya tanpa membuat dokter Deny perpaling ke arahnya.


Dengan perlahan ia kembali menggesek batang korek api kemudian menyulutkan apinya ke ujung batang rokok yang sudah bertengger di bibir merahnya. Ia menghisap dan menghembuskan asap rokoknya dengan perlahan sambil memejamkan mata. Kemudian ia hisap dan hembuskan lagi sehingga ruang periksa kini penuh dengan asap rokok.

“Maaf, kiranya anda sudah tau bahwa disini dilarang merokok”. Tegur dokter Deny sambil menutup buku catatan medis Lena. Ia melanjutkan, “Sebaiknya kita segera melakukan pemeriksaan dengan cepat”. Ajak dokter Deni. Kiranya ia sudah tidak tahan berhadapan dengan  pasien yang satu ini.

Lena kemudian mematikan rokoknya dan membuangnya bersama dengan batang korek api yang telah menghitam ke dalam tempat sampah di dekat tempat duduknya. “Sebenarnya, selain ingin melakukan pemeriksaan ulang penyakit HIV ini, aku juga ingin memeriksa sesuatu yang lain disini, dok”. Ujar Lena kemudian.

“Apa itu?”

Awalnya Lena sedikit ragu menjawabnya, tetapi denagan sedikit keberanian ia menjawab, “Selama dua bulan ini aku telat datang bulan. Aku khawatir aku hamil, dok. Apa mungkin seorang pengidap HIV bisa hamil, dok?”. Tanya Lena.

“Seorang pengidap HIV memang bisa hamil. Untuk memastikannya mari kita periksa dulu!”

Perlahan Lena berdiri. Berjalan menuju tempat pemeriksaan. Hatinya beredegup kencang. Ia rasanya ingin menagis. Tetapi ia tak sanggup melakukannya disini. Ia berpura-pura untuk tegar. Ia mencoba menghilangkan pikirannya yang bukan-bukan. Namun apa yang dipikirkan Lena memang benar adanya. Kekhawatirannya kini terbukti. Setelah diperiksa, ternyata ia memang benar hamil.

“Sudah kuduga”, ujar Lena dengan suara lirih. Hatinya kini benar-benar pilu. Ia telah merelakan hidupnya terbebani oleh penyakit mematikan. Tapi kini ia harus menanggung beban baru dalam hidupnya. Beban benih di dalam rahimnya yang akan terbebani oleh penyakit yang sama dengan yang deritanya. Ia merasa hidupnya kacau. Tidak terasa setitik air mata keluar dari pelupuk matanya. 

“Anda harus menggugurkannya mumpung masih berusia dua bulan”. Kata dokter Deny tiba-tiba. “Karena tidak ada jalan lain selain itu. Penyakit HIV sudah pasti menurun dari ibu ke anak yang dikandungnya”

“Itu pasti aku lakukan”. Jawab Lena sambil menunduk.

Matanya yang berkaca-kaca tidak mampu ia tunjukan pada dokter Deny. Dia menunduk  menatap tempat sampah yang ada di depannya. Ia melihat batang korek api menghitam tegeletak di dalam tempat sampah tersebut. Batang korek bekas yang ia pakai merokok tadi. Kemudian tanpa sadar ia memungutnya dan menunjukannya pada dokter Deny.

“Dokter tahu aku ini tak ada bedanya dengan batang korek api yang telah menghitam ini. Dokter tahu mengapa?”. Tanya Lena. Tetapi Dokter Deny hanya menggeleng dengan dahi mengkerut.

”Sebatang korek api yang apinya habis dipakai untuk menyulut rokok pasti ia akan terbuang percuma di dalam tempat sampah. Karena apa lagi yang diharapkan dari sebatang korek api bekas. Sama halnya dengan kami, wanita pelacur yang selalu ditinggal pergi oleh para lelaki setelah mereka puas bermain-main. Apalagi aku. Yang lebih kotor dan hitam. Lelaki itu rupanya jijik setelah mengetahui aku terjangkit penyakit ini, sehingga ia tidak mau menemuiku lagi hari ini. Ia lupa pada janjinya untuk membantuku melewati hari-hariku yang sulit ini. Atau itu hanya omong kosong sewaktu ia mengatakannya. Apalagi aku yang kini tengah me ngandung anaknya, dok. Dia mungkin akan lebih jijik dan membenciku setelah ia tahu kenyataannya”.

Dokter Deny mendengarkannya dengan seksama. Kemudian Lena melanjutkan, “Aku masih ingat dua bulan yang lalu ketika kami bertemu di diskotik. Aku kebetulan duduk sendirian waktu itu. Tiba-tiba ia datang menghampiriku dengan membawa dua botol bir penuh. Ia cukup tampan. Wajahnya putih bersih. Ia menggunakan setelan jas dan celana hitam serta sepatu pantovel menandakan ia seorang yang mempunyai pekerjaan mapan dan hidupnya terjamin. Aku terpesona waktu itu. Kemudian ia duduk dan mengajakku berkenalan. Aku tambah terpesona ketika aku tahu dia seorang dokter. Karena rasanya aku belum pernah bertemu dengan seorang dokter di tempat  seperti itu.”Ungkap Lena. Kemudian Dia melanjutkan, “Seperti lelaki lainnya, ia mau membayarku untuk melayaninya semalaman. Kami melakukannya dalam keadaan mabuk sehingga di lupa menggunakan kondom pada waktu itu. Dan akhirnya seperti inilah jadinya”. Lena kembali menunduk. “Kemudian sebulan yang lalu aku menemuinya, selain untuk melihat wajah tampannya lagi, aku juga ingin memeriksa kesehatanku karena pada waktu itu aku mengalami demam yang tidak wajar. Dan setelah diperiksa dan dites darah olehnya, aku ternyata mengidap menyakit HIV. Dia kemudian memberikanku resep obat. Dia juga bersedia membantuku untuk melewati hari-hariku yang sulit ini. Dia mau memberiku semangat. Karena waktu itu aku begitu ketakutan. Aku tahu obat untuk penyakit ini bukan untuk menyembuhkanku, tetapi untuk menunda kematianku saja. Tetapi kenyataannya ia pergi”. Isak tangis Lena mengakhiri kisah singkatnya.

Dokter Deny yang dari tadi menyimak ceritanya, dengan ragu bertanya, “Apa lelaki itu dokter Hadi?”.  Dan Lena hanya mampu mengangguk pelan.



Rabu, 16 Agustus 2017

Cerpen "Kenangan Ayah dan Kumis Lebatnya"



‘’KENANGAN AYAH DAN KUMIS LEBATNYA”

Waktu bagaikan penentu perjalanan manusia yangterjadi dimasa lalu,sekarang hingga masa depan.Waktu dapat dikatakan sebagai perekam yang merekam perjalanan hidup dan proses yang dialami oleh setiap umat manusia yang dapat teringat kembali dimasa yang akan datang. Berbagai waktu senang,waktu sedih, hingga waktu susahpun terselip di antara waktu yang menceritakan perjalanan seseorang yang kemudian terangkai menjadi sebuah kisah yang disebut dengan kenangan . Hal inipun tak luput terjadi pada diriku sendiri, kenangan itu kujadikan sebagai salah satu pelajaran hidup yang berarti maupun candaan yang tak akan terulang kembali dalam perjalanan hidupku. Banyak kenangan masa kecil yang selalu telintas dalam ingatanku seperti salah satunya kenangan ketika aku masih duduk ditaman kanak-kanak, masih teringat dengan jelas bagaimana banyak kenangan yang terjadi pada masa itu padahal sekarang aku telah duduk dibangku sekolah menengah atas ,entah mengapa kenangan ini tak dapat lepas dari ingatanku . Kini kenangan itu kuceritakan kembali untuk mengenangnya.
Inilah salah satu pengalamanku. Ketika aku masih duduk disalah satu taman kanak-kanak di daerah tempat tinggalku, aku selalu dijemput oleh ayahku. Ayahku adalah orang yang sangat baik dan penyayang. Ayahku memiliki badan yang cukup tinggi dan besar serta berkumis lebat. Ayahku bekerja sebagai seorang pegawai negeri yang mengabdi didaerah tempat tinggalku. Setiap aku pulang sekolah dari taman kanak-kanak ,ayahku selalu menjemputku dengan mobil dinasnya dan aku selalu menunggunya didepan kelasku. Seperti biasa yang kulakukan ketika lonceng sekolahku berbunyi disiang hari, aku menunggu ayahku untuk menjemputku.
Namun hari itu tampak berbeda dengan hari-hari biasanya karena aku tak melihat ayahku sehingga membuatku gelisah bukan main .Oleh karena itu kuputuskan untuk berjalan menuju pintu gerbang sekolahku, ketika kuberjalan aku berpapasan dengan sesosok laki-laki yang menyerupai ayahku berbadan besar dan tinggi namun tak berkumis lebat. Lalu orang tersebut berkata “ Ayo, Hana mari pulang!” langkahku terhenti sejenak sambil memerhatikan wajah orang itu, namun tak kukenal sama sekali siapa orang itu .Sehingga membuat begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalaku, “ siapakah dia? Apakah ia adalah orang utusan ayahku untuk menjeputku?”. Tak ada satupun jawaban yang terlintas untuk menjawab pertanyaan –pertanyaan itu. Tetapi aku masih merasa bahwa aku mengenalnya ,lalu kucoba memperhatikan wajahnya kembali. Betapa terkejutnya dan malunya aku waktu itu.Orang tersebut adalah ayahku namun ayahku tanpa kumis lebatnya. Lalu ayahku merangkul bahuku mengajakku jalan bersamanya menuju mobil dan pulang kerumah. Dalam rangkulannya aku tak berani melihat mukanya karena perasaan sangat malu yang bercampur dengan rasa tawa. Selama perjalanan aku masih terheran-heran terhadap diriku sendiri karena aku tak bisa mengenali ayahku ketika ia tidak memiliki kumis, apalagi jika ia botak mungkin aku benar-benar tak mengenalinya sama sekali dalam benakku .
Oleh karena itu,jika kuteringat kejadian ini kembali aku ingin tertawa yang bercampur malu,namun itu adalah salah satu kenangan yang mungkin tak akan kulupakan hingga sekarang dan aku tahu sekarang alasan ayahku tak pernah mencukur habis kumis lebatnya itu,ia takut aku tak mengenalinya lagi hingga sekarang sehingga ia memilih untuk memeliharanya. Itu merupakan salah satu kenangan yang kualami ketika kumasih kecil,mudah-mudahan pengalaman ini dapat menghibur kalian yang membacanya.
Unsur Intrinstik Cerpen antara lain:
Tema: mengenai pegalaman masa kecil yang tidak dapat dilupakan
Tokoh dan penokohan.: -Tokoh : Aku dan ayahku. -penokohan : Aku :pelupa. Ayahku : sangat baik dan penyayang.
Alur: merupakan alur gabungan ( alur yang merupakan gabungan dari alur maju dan alur mundur) .
Latar: -Latar tempat : Lingkungan sekolah taman kanak-kanak(depan kelas,pintu gerbang sekolah). -Latar waktu : Siang hari. -Latar suasana : bingung,menghibur,gelisa.
Sudut pandang: -Sudut pandang orang pertama ( I ). -Sudut pandang orang ketiga (III) .
Gaya bahasa: -Menggunakan bahasa yang efektif sehingga isi cerita dapat dimengerti oleh pembaca.
Amanat :
-Semua orang mempunyai masa lalu yang berkesan
maupun yang mengecewakan namun semua
pengalaman tersebut selalu memiliki makna
tersendiri yang dapat kita ambil dan dikenang
kembali dimasa hidup kita kemudian . Selain
dikenang pengalaman dapat juga menjadi obat
rindu kita terhadap masa lalu kita. Oleh karena itu
apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan
pengalaman yang akan dikenang kembali
dikemudian hari.

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...