animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Selasa, 04 April 2017

Artikel "Biografi Delsy Syamsumar"



Delsy Syamsumar

Lahir                : 7 Mei 1935 Medan, Hindia Belanda
Meninggal       : 21 Juni 2001 (umur 66) Jakarta
Kebangsaan     : Indonesia
Pekerjaan         : Seniman , pelukis
Agama             : Islam
Pasangan         : Adila

Delsy Syamsumar (lahir di Medan, 7 Mei 1935 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 2001 pada umur 66 tahun) adalah seorang pelukis “Neoklasik” Indonesia berasal dari Sungai Puar, Sumatera Barat . Pelukis ini telah menampakkan bakat melukisnya sejak usia 5 tahun. Di waktu perang revolusi keluarganya memilih tinggal di Bukittinggi. Delsy melalui sekolah dasar dan menengah umum bahkan pendidikan agama Islam, ia selalu menonjol dalam pelajaran seni lukis dan menjadi juara pertama pada setiap sayembara di sekolah sekolah di Sumatera Barat. Pada usia 17 tahun Delsy telah mampu melukis komik sejarah dan karangannya sendiri yang ia kirim sendiri per pos ke majalah ibukota. Karyanya seperti Komik “Mawar Putih” tentang “Bajak Laut Aceh” dimuat di majalah “Aneka” telah membuat ia terkenal diseluruh Indonesia pada usia yang amat muda. Kalau perantau-perantau Minang umumnya cenderung mengadu nasib sebagai pedagang, maka berbeda dengan bocah Delsy ini yang di panggil ke Jakarta oleh penerbit dengan fasilitas cukup. Atas adanya kepastian itu Barulah ibunya mau melepas Delsy dan menginginkan anaknya tersebut menjadi “pelukis terkenal” seperti Raden Saleh dan Basuki Abdullah. Delsy sejak di SD sudah dibelikan cat minyak oleh ayahnya seorang yang pengukir Rumah Gadang. Meskipun Delsy dikenal sebagai sosok seorang pelukis komik sejarah,illustrator, wartawan masmedia dan penata artistik di berbagai banyak Film nasional,namun ia tidak meninggalkan kanvas dan cat minyak.
Lukisan karyanya pernah tercatat sebagai lukisan termahal yang terjual pada Pameran bersama pelukis-pelukis (Basuki Abdullah, Affandi, Lee Man Fong dsb.) ternama Indonesia yang di Gedung Kesenian Jakarta(Taman Ismail Mardzuki). Dan pada pameran-pameran bersama di Balai Budaya saat pra reformasi, lukisan-lukisan Delsy selalu mencatat rekor sebagai lukisan yang paling banyak diminati para kolektor lukisan. Pada tahun 1992 ia juga sempat melakukan pameran bersama dengan Basuki Abdullah .
Dunia film telah membenamkan Delsy cukup lama dalam kreatifitasnya dan puncaknya menjadi Art director di beberapa film legenda Indonesia, antara lain “Saur Sepuh”. Terlalu lama mendalami dunia film yang bertema legenda sejarah mendorong kreativitas Delsy di dalam banyak lukisan yang bertemakan legenda dan sejarah, termasuk di dalamnya merekam sejarah perjuangan bangsa Indonesia disekitar tahun 1945. Karyanya antara lain: Sentot Alibasya Prawiradirdja (cergam), Gadjah Mada (Cergam), Christina Maria Tiahahu (cergam) dan beberapa lukisan yang menggambarkan Heroisme Cut Mutia, Kereta Api terakhir Yogyakarta, Sepasang mata bola, Dapur Umum dan karya terakhirnya pada tahun 2000 “Gelar Perang Sentot Alibasya Prawiradirdja" cukup kolosal.

Bio Data
1.             Nama: Delsy Syamsumar (Delsy Sjamsumar)
2.             Tempat/tanggal lahir: 7 mei 1935 : Lahir di Medan. Asal Minang (Sungai Puar) Sumatera Barat.
3.             1945 - 1949: Basis pendidikan dari guru Arifin Zainun Exs INS Kayu Tanam 1950 –
4.             1954: Bergabung dalam SEMI (seniman Muda Indonesia) d/p Zetka dan A.A. Navis. Menjuarai berturut turut lomba melukis
5.             1954: Ditempatkan ke Jakarta oleh penerbit, untuk mengarang dan melukis komik
6.             1955 – 1959: Mendapat sambutan baik dari instansi PP&K seluruh Indonesia mengenai komik sejarah Pahlawan. Tergabung dalam “Seniman Senen” orang- orang Film, teater dan pers (masmedia) melibatkannya kerja di panggung, dapur film dan kewartawanan sekaligus illustrasi di berbagai majalah dan Surat Kabar. Mendapat sambutan baik Instansi PP&K dan Japen di seluruh Indonesia atas karyanya serial “Komik Sejarah Pahlawan Tanah Air
7.             1960: Pertama sekali sebagai Art Director film
8.             1961: Mendapat penghargaan kritisi melukis credit title film PERFINI “Pejuang” dalam bentuk sketsa
9.             1962: Sebagai Art director film “Holiday in Bali”. Persari memenangkan dekor tata warna terbaik dalam Festival Film Asia, Tokyo. Memenangkan hadiah I sayembara karikatur PWI.
10.         1964 – 1966: Dekorator Hotel Indonesia d/p Teguh Karya.
11.         1966 – 1970: Sebagai wartawan dan illustrator tetap majalah “CARAKA” Ditpom, Memperoleh predikat “I’exellent Dessinateur” (lecture seni Paris)
12.         1970 – 1978: Kembali sebagai Art Director Film. Mempelopori teknik cetak poster film dan majalah (“Lavita”, “Variasi” dan “Kartini”)
13.         1978 – 1982: Terpilih menjadi Wakil Ketua kelompok seluruh Art Director Film dan Televisi Indonesia (KFT). Ditunjuk sebagai Art Director film “Buaya Deli” yang sempat mendapat penghargaan sebagai film berlatar-belakang sejarah terbaik.
14.         1982 : Terpilih jadi wakil ketua “Yayasan Bengkel Seni”
15.         1983 : Menata artistik 3 film (Jayaprana” dll). Ikut pameran ikatan illustrator Indonesia, Menjadi Art Director untuk Film legenda Saur Sepuh (seri 3,4,5)
16.         1985 - 1986 : Pameran tunggal di Balai Budaya – Sarinah – TIM (surprise nasional) *
17.         1991 : Masuk nominasi artistik film “Saur Sepuh” bersama El Badrun (FFI 1991)
18.         1992 - 1994 : Training animasi film kartun. Pameran lukisan bersama Basuki Abdullah. Pameran Tunggal Hotel Indonesia, Gedung kesenian.
19.         1995 : Sebagai Production Designer beberapa sinetron Televisi.
20.         1996 : Supervisor artistik dan arkeologi film kolosal Fatahilah.
21.         1997-1998 : Pameran-pameran bersama di balai budaya – Menteng Parada dan lain lain.
22.         1999 - : Diusia 64 menyatukan kreasi pada melukis cat minyak.
23.         2000 : Menyelesaikan karya kolosal : Gelar Perang Sentot Prawirodirjo.
24.         2001: Awal tahun 2001 sebagai aksi sosial bantuan bencana alam di Bengkulu dengan meneruskan goresanan Abdul Rahman Wahid (Gusdur) dan Megawati sebagai Presiden dan Wakil Presiden Reformasi. Karyanya lukisannya tersebut dilelang untuk disumbangankan bagi peristiwa bencana Bengkulu.
25.         2001 : tepat tanggal 20 Juni 2001 Delsy Syamsumar dipanggil Yang Maha Kuasa, dimakamkan di TPU Kramat Jati.



Prestasi
Delsy Syamsumar adalah pelukis dengan segudang prestasi mulai dari cergamis Unggul, Art Director Film Legenda Indonesia seperti Saur Sepuh dan film sejenisnya, yang terakhir berpredikat sebagai pelukis neo klasik. Predikat ini muncul karena kecendrungannya melukis dengan tema klasik dan teknik modern.

Dimulai Dengan Komik
Bergaya, ekspresip dan romantik. Itulah ciri lukisan- lukisan komik ciptaan Delsy Syamsumar di awal kariernya yang sekaligus mengangkat popularitasnya sebagai pelukis di usia masih belasan. Pasukan Sentot Alibasya bermanouver mengacaukan resimen Jenderal Vol Jett dekat selarong, sementara pasukan besar Diponegoro menyerbu Yogyakarta. Atau Srikandi Ambon Martha Tiahahu berhasil membakar kapal Belanda, lalu dengan gesitnya berayun di tempali sambil “menggigit pedang”. Apa boleh buat fantasi Delsy dengan argumentasi sejarah cukup cukupan dan kecanduannya nonton film-film Amerika semacam “Aphace atau “ The buccaneer” mungkin, telah menghadirkan suatu temperamen yang khas dalam pertumbuhan ilustrasi penerbitan kita dikemudian hari, menjadikannya “applied illustrator” pertama yang digandrungi begitu banyak publik pembaca di Tanah Air. Namun tentu saja didukung oleh bakat dan kemampuan berimprovisasi melukiskan ekspresi dan situasi yang merupakan dinamika ciri khas lukisan-lukisan ilustrasi maupun cat minyaknya hingga akhir hayatnya.

Seniman Senen
Delsy alias Dalasi Syamsumar asal Minang berada di Senen Jakarta sekitar 1955 , bukannya berdagang di kaki lima, malah nongkrong sepanjang malam di warung kopi menyimak diskusi-diskusi “Seniman Senen” berkepanjangan, melalui tahun-tahun yang panjang pameo kelompok seniman gondrong yang terusir dari warung ke warung itu, hingga berkali-kali terpaksa mangkal di trotoar dan pom bensin. Agaknya tidak diharapkan oleh guru-gurunya melukis cat minyak ex. INS Kayutanam di Sumatera Barat yang menjagoinya untuk terus di ASRI jogja agar menjadi Delacroix atau Goya yang “momentum schilderij ” kata gurunya. Delsy sendiri tidak mengerti apa itu. Malah ia lebih paham kemudian omongan rekan-rekan senior orang-orang film dan teater atau wartawan di senen seperti ceramah Misbach Yusabiran tentang neo realisme Italia, teater Ibsen dan Lorca bahas Wayhu Sihombing , Sukarno M. Noor dan Wim Umboh , lalu hal pers film oleh Zulharmans sampai debat keras mengenai batu cincin Wahid Chan. Biasanya Delsy memang jarang bicara apa-apa, cukup mojok dengan sobatnya Harmoko dan Khaidir Rachman sambil corat- coret di kertas bekas atau kertas sisi putih bungkus rokok. “Awas ada BKM liwat!” semua terkesima, melihat satu keluarga dalam beca, bapak, ibu, anak semua berkacamata. “Barisan Kaca Mata” kata Harmoko.

Ilustrasi
Meledaknya novel-novel Motinggo Busye sekitar tahun 70 an membuat Delsy ikut naik daun kata pers gossip di Tanah Air. Lektur-lektur di Perancis mengenai pengarang-pengarang Indonesia, tak luput menyebut “I’exellent dessinatur Delsy Syamsumar” terutama untuk illustrasi-illustrasi untuk Motinggo Busye sesuai dengan tuntutan cerita, maka penerbitan gossip yang tadinya menyorot artis film, dengan popularitas Delsy melihat peluang lain untuk meningkatkan oplag. Disinyalir bahwa illustrasi-illustrasi Delsy yang sexy identik dengan wanita-wanita, isteri atau modelnya yang silih berganti meninggalkannya. Beberapa Koran dan majalah mingguan saling mengutip, dan polemic tak dapat dihindarkan termasuk karikatur Delsy sendiri mempertahankan diri. Dia bukan artis film, malah kuli film, katanya. Ia bukan milioner Picasso yang mampu memelihara banyak model bantahnya. Setelah kegaduhan ranjangnya ini memuncak pula jadi problem kode etik pers nasional (ditutup oleh topik majalah “Tempo” Desember 1973), maka kehidupan Delsy yang selalu stabil dalam kesulitan, suksesnya itu malah sebagai pelengkap penderita.

Pra Design
Kegatalan Tangan membuat poster film langsung oleh Delsy telah dimulai sejak ikut mendekor Film . Usmar Ismail Sendiri juga memesan langsung poster pertama “Pejuang” kepada Delsy untuk diteruskan oleh studio poster biasa. Dengan sanggar pertama bekas garasi sepeda yang terletak di pusat republik ini, di Menteng Raya untuk bekerja, Delsy lebih tertarik membuat eksperimen-eksperiment poster, kerja artistik, dan sebagainya, daripada membuat biro reklame yang selalu gagal. Namun ciptaan-ciptaan merek terkenal seperti logo pesawat terbang “Bouraq”, majalah jantung “Sartika” dan yang paling terkenal logo huruf majalah “Kartini” adalah gaya Delsy dalam eksperiment huruf. Eksperimen huruf berbentuk rumah minang yang dikirimnya buat Koran “Singgalang” di padang ditiru mulai dari hotel, restoran-restoran Padang, para penjahit(tailor) sampai gerobak-gerobak sate Padang diseluruh pelosok Tanah Air. Untuk kalender dan poster temple serta brosur, gaya Delsy dikenali di puskesmas dari peringatan digigit nyamuk sampai burut dan penyakit kaki gadjah. Karyanya telah mewarnai Guide Book pertama perusahaan minyak negara PERTAMINA berjudul“”penggunaan minyak pertama dalam pertempuran di laut Aceh”, yang sampai kini-pun masih dikenal dan dibicarakan pada acara-acara peringatan ditemukannya minyak pertama di Indonesia. Teristimewa dalam eksperimen poster film (1 sheet), dalam peralihan dari cetak klise timah ke offset 1970. Delsy muncul dengan poster pertamanya yang di offset “Biarkan Musim Berganti” yang disutradarai oleh Motinggo Busye” Konon 1975 rekannya sejak di senen bintang film komedi Alm, Mansursyah mengajaknya bikin perusahaan poster film secara serius. Tapi tempat yang disediakan Mansur untuk Studio di Sentiong sering Banjir dan banyak kambing milik penduduk sehingga ia harus melukis poster dengan bergelimang air dan kambing-kambing yang baunya menyengat.






download file docnya supaya bisa lihat gambarnya "GREENTHREE"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...