animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Kamis, 30 Maret 2017

Cerpen "Ilalang di Pinggir Jalan"


Nah, yang ini adalah cerpen asli karangan aku sendiri (Anggi Kusumah). dibaca yah!!! sangat menyentuh lohh.. lebayyy.. hehehee
 
Ilalang di Pinggir Jalan
Oleh: Anggi Kusumah

            Banyak insan tuhan yang hanya mementingkan diri sendiri. bahkan hanya untuk kesenangan semata, sanggup menjalankan hal-hal yang tak rasional hingga yang berbau negatif pun ikut andil dalam pemenuhan syarat resminya perilaku menyimpang. Bagiku, tak ada satu pun orang yang ingin ikut serta masuk dalam perangkap tak bertuan itu. Semua itu berlangsung tanpa adanya pagar bersilang yang menghalaunya karena insan itu buta akan sang pencipta dan tuli akan akhirat yang setia menanti kepulangannya. Sama halnya yang dialami oleh teman-temanku, mereka tak tahu apa yang dilakukannya itu benar atau salah, mereka hanya tahu apa yang dilakukannya itu sejalan dengan pemikiran mereka saja. Melihat hal tersebut, aku hanya melihat tingkah laku serta sikap teman-temanku yang mulai membaurkan dirinya pada pergaulan bebas yang tak bermoral. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut yang sebenarnya dekat denganku, aku mencari berbagai referensi di dunia maya dan membatasi pergaulanku dengan teman-temanku. Maka tak heran jika aku tidak begitu akrab dengan teman-temanku yang putus sekolah itu. Lain dunia, maka lain juga pemandangannya. Begitulah rasanya jika mempunyai teman yang putus sekolah.
           
            Setiap hari di sekolah, aku hanya mengikuti alur jalannya jam sekolah tanpa adanya berbuat hal yang akan menjerumuskan aku ke jurang tanpa dasar, seperti apa yang dilakukan oleh teman-temanku. Aku tahu sebenarnya teman-temanku tak ingin melakukan hal-hal seperti berbicara kotor, merokok, berlagak premanisme, serta hal yang buruk lainnya yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Semua hal tersebut terpaksa dilakukannya, karena bagi teman-temanku hal tersebut adalah budaya yang wajib dilaksanakan. Tanpa budaya tersebut, teman-temanku merasa kehidupannya bak berjalan di atas roda.

            Saat-saat hening, aku terdiam dan membayangkan betapa dunia yang fana ini banyak insan-insan yang kurang memelihara lidahnya dan aniaya kepada diri sendiri. Dan aku teringat ibuku pernah berkata apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya paedah dan jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu. Dan satu hal lagi kata yang di sematkan ibuku adalah cahari olehmu akan sahabat yang boleh dijadikan obat.

            Pada hari itu usai pulang dari sekolah, gerah dan dahaga yang menggerogoti kerongkonganku. Langsung ku buka pintu kulkas yang ada di sudut ruang makan dan mengambil sebuah botol berisi air putih yang sejuk.

            “Kamu sudah pulang nak,” tanya ibuku.

            “Iya bu,” jawabku sambil menutup botol.
           
            “Kok pulangnya cepat?”

            “Kan hari ini Jum’at bu,” jawabku sembari membuka sepatu.

            “Ya udah, jangan lupa makan ya nak!,” jawab ibuku sambil melangkahkan kaki ke dapur.

            “Iya bu,” jawabku meninggalkan kulkas dan berjalan ke arah kamar.

            Setelah makan, aku segera mandi dan bergegas ke masjid untuk shalat Jum’at, sebelum masuk masjid aku berwudhu terlebih dahulu untuk membersihkan najis yang menempel di jasmani dan rohaniku. Saat aku memasuki masjid, terasa sejuk dan betapa leganya hati ini. Kulihat barisan hamba Allah sahaya yang sedang duduk bersila dan membaca surat Yasin sembari menunggu waktu shalat tiba. Aku juga ikut membaca surat Yasin dengan harapan ingin meraih pahala yang di ridhoi Allah. Disela-sela aku membaca surat Yasin, ada saja orang-orang yang lewat di sampingku dan bersalaman denganku. Aku merasa tidak terganggu dengan hal tersebut, malah aku merasa lebih dihargai. Kulihat jarum jam yang tajam yang masih berjalan menunjukkan waktu shalat telah tiba, maka tak segan mu’adzin mengambil pengeras suara kemudian mengumandangkan seruan untuk shalat, tak lupa pula para jama’ah shalat Jum’at merapatkan syafnya. Tak berlangsung lama, azan pun berlalu dan datanglah khotbah yang menyapa para jama’ah. Dalam waktu khotbah, kulihat para jama’ah tak kalah ributnya dengan khatib, dan datang sebuah kalimat yang di lemparkan oleh seorang temanku.

            “Jama’ahnya sangat ribut ya Nggi,” dengan mengkerutkan keningnya.

            Aku hanya diam dan menundukkan kepala dengan bicara dalam hati

            “Kamu juga ribut, apabila kita ribut pada saat khotbah, maka tidak sah shalat Jum’atnya”

            Melihat aku tidak menjawab, temanku langsung menundukkan kepalanya dan sepertinya dia sudah mengerti apa yang aku maksud. Tak berselang lama shalat pun tiba, para jama’ah segera bangkit dan merapatkan kembali syafnya serta mengisi syaf yang kosong.

            Aku pulang dari shalat Jum’at bersama teman-temanku Irga, Darta, Alda, dan Andra. Mereka adalah temanku sejak kecil. Langkah demi langkah kami meniti jalan menuju ke rumah masing-masing sembari berbincang-bincang yang tak tahu apa maksudnya. Kemudian dengan nada yang agak keras aku sedikit berteriak.

            “Tunggu!,” dengan mengangkatkan tanganku ke atas.

            “Ada apa Nggi?,” jawab Andra.

            “Apa kalian tidak menyadari apa yang dilakukan kalian di masjid tadi?”

            “Apa yang kami lakukan?” jawab teman-temanku serentak.

            “kalian telah berbuat dusta hari ini,” sambil menunjukkan tangan ke arah teman-temanku.

            “Dusta apa?” jawab Irga.

            “ibuku pernah berkata apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya paedah,” jawabku.

            “Maksudnya?,” tanya Alda.

            “Apabila kita dapat menjaga lidah kita, maka banyaklah kita mendapat pahala”
            Mendengar kata-kataku itu, teman-temanku hanya tertawa dan berbicara kotor di depanku.

            “Itu sih aku sudah tahu,” kata Darta dengan sinisnya.

            “Kalau kamu sudah tahu, kenapa kalian berbuat hal demikian?,” tanyaku.

            “Berbuat apa?,” tanya teman-temanku.

            “Seperti bicara kotor, membicarakan orang lain, menghina, dan waktu di masjid kalian malah asyik ngobrol,” jawabku.

            “oh, itu khilaf,” jawab Irga singkat.

            “Segampang itu kalian mengatakan khilaf, bagaimana hati orang yang kalian hina?” tanyaku lagi.

            Mereka hanya diam dan kami sudah sampai dirumah masing-masing. Berselang satu jam, terdengar suara hentakan kaki yang beralaskan sedal jepit dan terdengar seseorang mengetuk pintu rumahku. Ku lihat dari jendela kamarku yang kebetulan dekat dengan teras rumahku, ada sesosok orang yang duduk di kursi teras rumahku, dia adalah Arga. Tak perlu berpikir lama aku segera membuka pintu dengan perlahan tapi pasti.

            “Hai Arga, ada apa?,” tanyaku basa-basi.

            “Cuma mau main aja,” jawab Arga sedikit gugup.

            “Ayo masuk!” ajakku.

            Aku mengambil dua gelas jus buah di dapur, dan mempersilahkan Arga meminumnya.
           
            “Sesesesebenarnya ada yang mau aku katakan padamu Nggi,” kata Arga sedikit gemetar.

            “Kamu mau mengatakan apa Ga?,” jawabku penasaran.

            “Apa yang dikatakan kamu itu tadi benar sekali,” dengan nada yang menyenangkan.

            “Terus, kenapa kamu berpihak dengan Darta, Alda, dan Andra?,” jawabku sedikit kesal.

            “Aku hanya ingin mereka senang denganku, dan mengganggap bahwa aku ini anak gaul dan kekinian,” jawabnya sambil menundukkan kepalanya.

            “Aku tahu posisimu sekarang, tinggal kamu saja mau pilih kedustaan atau kebaikan”

            “Aku mau jadi orang yang baik, tapi aku harus mengikuti pergaulan yang mereka lakukan supaya mereka mau berteman denganku,” jawab Arga mulai meneteskan air mata.

            “Kita harus punya pendirian yang tetap, tak mudah tergoyahkan oleh angin apapun, hidup kita ini bukan orang yang menentukan, melainkan diri kita sendiri,” sambil menepuk pundak Arga.

            Tak lama kami berbincang, datanglah Andra dengan wajah yang penuh dengan keringat. Dengan cepat ia melepaskan alas kakinya kemudian duduk di samping Arga.

            “Aku tahu apa yang kamu inginkan Ga, kamu ingin menjadi orang biasa dan tidak mau berbuat dusta. Karena aku juga ingin begitu, itulah sebabnya aku kesini,” kata Andra sedikit ngos-ngosan.

“Kita harus membahagiakan hati orang lain, tetapi kita juga harus menjaga diri kita sendiri dan tidak berlebihan sampai kita yang akan menjadi tumbalnya,” kataku.

Keesokan harinya seperti biasa, pulang dari sekolah kami bermain di halaman rumahku sambil duduk-duduk disana. Darta dan Alda merasa aneh kepada Arga dan Andra, mereka melihat sikap Arga dan Andra yang berbeda seperti biasanya.

“Kok, kenapa Andra dan Arga bersikap aneh sekarang?,” tanya Darta.

“Saya sudah menerka, kalian pasti merasa aneh dengan Arga dan Andra,” jawabku sedikit mencibir.

“Jangan-jangan kamu sudah mencuci otak mereka,” kata Alda.

“Emang saya dukun, pakai cuci otak segala, yang ada itu mereka sudah sadar atas apa yang mereka telah perbuat selama ini,” jawabku sedikit keras.

“Oh gitu, kalo begitu saya ingin mengaku, sebenarnya saya merasa bersalah selama ini. Saya merasa tidak ada gunanya hidup dengan dusta,” jawab Darta meraih tanganku.

“Saya juga sadar, bahwa selama ini saya cuma ikut-ikutan saja. Itu semua demi kalian supaya kalian mau berteman dengan saya,” sahut Alda dengan mata yang berbinar-binar.

“Sudahlah kawan, kita semua pasti ingin menyenangkan hati orang-orang yang ada di dekat kita. Hanya kita saja kurang tahu bagaimana cara menyenangkan hati semua orang tanpa kita yang akan kena getah hitamnya,” jawabku menenangkan teman-temanku.

Akhirnya teman-temanku saling mengerti satu sama lain dan mereka akhirnya tahu bahwa mereka sama-sama ingin jadi orang lebih baik. Aku sangat senang sekali melihat pemandangan baru ini, betapa indahnya dunia tanpa adanya ketidak salah pahaman. Itulah namanya teman, kita harus saling memahami satu sama lain baik dari segi sikap maupun dari segi perilaku yang di tuturkan. Itulah sebabnya dalam berteman aku memilah teman yang baik maupun yang kurang baik, karena bagiku semua orang itu baik tapi keinginan yang mau jadi panutan semua oranglah yang membuat kita menjadi lupa diri bahwa kita adalah manusia.


Langsung aja download filenya di sini bro, sis, gan, om, tan, "GREENTHREE"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...