animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Senin, 24 Desember 2018

Cerpen "Air Mata Korek Api"


AIR MATA KOREK API

“Ah, sialan!”, umpat Lena, seorang wanita muda berumur 20an tatkala batang korek api yang ia coba gesek patah karena tangannya begitu gugup memegangnya. Umpatan tersebut tidak terlalu jelas ia ucapkan karena di ujung mulutnya sedang bertengger sebatang rokok yang baru saja ia keluarkan dari bungkusnya. Kemudian tetap dengan sebatang rokok di mulut, kembali ia mengambil sebatang korek api dari kotaknya dan me nggeseknya lagi dengan pelan. Dari gesekan yang kedua keluarlah api yang kemudian ia sulutkan ke ujung rokok hingga perlahan ia mulai menikmati asap demi asap yang ia hirup ke dalam paru-parunya. Ia kini mulai sedikit tenang. Kegugupan dihatinya mulai mereda. Rupanya dengan merokok ia dapat mengantisipasi kegugupannya.

Selang beberapa menit kembali Lena mengumpat,“Brengsek!”. Umpatannya tak lain ditujukan kepada dua orang asing yang duduk di belakangnya. Kedua orang itu adalah wanita muda yang memiiki penampilan sama denganya. Mereka sedang berbisik-bisik membicarakanya. Sesekali mereka tertawa kecil dan membuat Lena bertambah dongkol mendengarnya. Beberapa menit kemudian, Lena segera sadar ketika ia melihat papan peringatan di depannya yang berbunyi “Dilarang Merokok”. Dengan segera ia mematikan rokok di tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia menggerutu dengan suara pelan, “Mereka mentertawankanku karena aku merokok. Ah, dimana-mana dilarang ngerokok. Untung aja di tempat kerja bebas-bebas aja. Mau ngisep rokok atau ganja gak ada yang ngelarang. Ah, siapa juga yang mau ngelarang. Hanya tempatnya saja yang terlarang”.

Sambil menunggu giliran masuk, ia kembali memoleskan gincu merah menyala ke kedua bibirnya. Sambil menatap cermin ia berkata pada dirinya sendiri dengan semangat yang dibuatbuat,”Cukup untuk menarik perhatian dokter Hadi”. Namun ketika menyebut namanya, ia kembali gugup. Hatinya kembali khawatir. Ia berdo’a agar yang dikhawatirkannya tidak terjadi.

“Ah, sudahlah. Aku terlalu berlebihan. Dugaanku pasti salah. Dan apa gunannya aku berdo’a. Tuhan tidak akan mendengar do’a dari makhluk sepertiku”. Gumannya dalam hati.
Dan ketika tiba gilirannya ia dipanggil, dengan gesit ia berdiri hingga terlihat dengan jelas postur tubuhnya yang begitu montok dengan rambut pirang terurai sepanjang punggungnya. Dengan menggunakan setelan rok mini dan atasan u can see serta sepatu hak tinggi ia melenggang masuk ke dalam ruang periksa.

Di ruang periksa wanita itu terkejut karena yang sedang duduk di kursi dokter bukanlah dokter Hadi yang ia kenal. Melainkan seorang dokter muda berusia 20an dengan postur tegap. Berambut cepak berwarna hitam. Dengan kumis halus dan bibir yang tipis ia tersenyum mempersilahkan Lena duduk.
 “Ah, kemana dokter Hadi, dok?”, tanya Lena.

“Dokter Hadi dipindahtugaskan ke rumah sakit lain. Saya disini bertugas menggantikan beliau”.

“Kemana?”. Tanya Lena kaget.

“Maaf. Kami tidak bisa memberitahukan mengenai hal itu”.

Mendengar itu, hati Lena merasa kecewa. Ketakutan dan kekhawatiran kembali menjalari hatinya. Hari ini mestinya ia bertemu dengan dokter Hadi. Karena sudah satu bulan waktu yang ditunggunya untuk bertemu dengannya.

“Nama saya Deny. Saya dokter muda disini, nyonya”

“Jangan panggil aku nyonya. Umurku masih 26 tahun. Panggil saja aku Lena”.

“Baik kalau begitu. Apa keluhan anda?”

“Aku disini sih sebernarnya ingin ketemu dokter Hadi. Setelah beberapa minggu yang lalu melakukan pemeriksaan dengannya. Tapi karena dia sudah tidak disini lagi, mungkin bisa dokter yang melakukannya padaku sekarang. Melakukan pemeriksaan maksudku”. Ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.

Dokter Deny kemudian membuka buku catatan pasien. Ia mencari catatan medis atas nama Lena. Dan setelah menemukannya, ia mulai bertanya,“Anda terinveksi HIV, benar?”

“Seperti yang tertera di situ dok”. Jawabnya.

“Kalau boleh saya pastikan kembali, disini tertulis anda didiaknosis terinveksi HIV sebulan yang lalu dengan pemeriksaan oleh dokter Hadi”.

“Betul sekali, dokter”. Jawab Lena.

“Sebelumnya, nama anda Marlena. Usia 26 tahun. Pekerjaan anda, maaf, seorang penghibur.”



“Begitulah, dok. Tapi tidak cukup kata penghibur untuk menggambarkan pekerjaanku saat ini. Penghibur itu banyak. Ada penghibur di layar televisi, penghibur di radio, dan penghibur di atas panggung. Nah, untukku sendiri dok, penghibur di atas kasur”. Canda Lena untuk menutupi kekhawatiran di hatinya.

Hening sejenak. Tiba-tiba Lena bertanya. “Kalian sudah kenal dekat?. Maksudku kau dengan dokter Hadi”.

“Tidak juga”. Jawab dokter Deny dengan singkat, kemudian kembali terfokus pada catatan di tangannya.

“Emang udah berapa lama kau mengabdi disini, dok?”

“Sudah hampir enam bulan”. Jawabnya lagi dengan singkat.

Dalam hati, Lena berkata. “Dasar para dokter. Atau kalian saja yang sudah lama bekerja  dalam satu tempat belum bisa mengenal dekat satu sama la in. Atau dokter Hadi yang begitu dingin sehingga sulit mengenal seseorang lebih dalam? Atau semua lelaki yang kukenal memiliki sifat seperti itu?. Ah, sudahlah”. 

Kemudian dokter Deny berhenti sejenak dari catatan yang dibacanya. Ia berpaling ke arah Lena dan berkata. “Dari catatan yang saya baca, anda sudah melakukan pekerjaan ini selama lima tahun. Tapi kalau boleh saya tahu, alasan apa yang membuat anda menekuni pekerjaan ini?”.

Mendengar pertanyaan dokter Deny, Lena sedikit tersinggung dan menjawab.“Ah, pertanyaan basi. Gak bisa kujawab untuk pertanyaan seperti itu pada dokter. itu mejadi rahasiaku. Lagipula pertanyaan itu apa gunanya untuk bahan pemeriksaanku, dok? Atau kalau dokter masih penasaran, bisa bertanya langsung pada dokter Hadi. Ah, dia pasti tau benar alasan aku melakukan pekerjaan ini”. Jawab Lena.

Bingung dengan jawaban Lena, dokter Deny kemudian melajutkan memeriksa catatan medis Lena. Sedangkan Lena begitu mengucap nama Dokter Hadi, ia kembali merasa gugup. Kekhawatiran mulai terasa lagi di hatinya. Ia kemdian meraba-raba isi tasnya, mencari bungkus rokok dan korek apinya.

“Ah, ketemu”, gumamnya tanpa membuat dokter Deny perpaling ke arahnya.


Dengan perlahan ia kembali menggesek batang korek api kemudian menyulutkan apinya ke ujung batang rokok yang sudah bertengger di bibir merahnya. Ia menghisap dan menghembuskan asap rokoknya dengan perlahan sambil memejamkan mata. Kemudian ia hisap dan hembuskan lagi sehingga ruang periksa kini penuh dengan asap rokok.

“Maaf, kiranya anda sudah tau bahwa disini dilarang merokok”. Tegur dokter Deny sambil menutup buku catatan medis Lena. Ia melanjutkan, “Sebaiknya kita segera melakukan pemeriksaan dengan cepat”. Ajak dokter Deni. Kiranya ia sudah tidak tahan berhadapan dengan  pasien yang satu ini.

Lena kemudian mematikan rokoknya dan membuangnya bersama dengan batang korek api yang telah menghitam ke dalam tempat sampah di dekat tempat duduknya. “Sebenarnya, selain ingin melakukan pemeriksaan ulang penyakit HIV ini, aku juga ingin memeriksa sesuatu yang lain disini, dok”. Ujar Lena kemudian.

“Apa itu?”

Awalnya Lena sedikit ragu menjawabnya, tetapi denagan sedikit keberanian ia menjawab, “Selama dua bulan ini aku telat datang bulan. Aku khawatir aku hamil, dok. Apa mungkin seorang pengidap HIV bisa hamil, dok?”. Tanya Lena.

“Seorang pengidap HIV memang bisa hamil. Untuk memastikannya mari kita periksa dulu!”

Perlahan Lena berdiri. Berjalan menuju tempat pemeriksaan. Hatinya beredegup kencang. Ia rasanya ingin menagis. Tetapi ia tak sanggup melakukannya disini. Ia berpura-pura untuk tegar. Ia mencoba menghilangkan pikirannya yang bukan-bukan. Namun apa yang dipikirkan Lena memang benar adanya. Kekhawatirannya kini terbukti. Setelah diperiksa, ternyata ia memang benar hamil.

“Sudah kuduga”, ujar Lena dengan suara lirih. Hatinya kini benar-benar pilu. Ia telah merelakan hidupnya terbebani oleh penyakit mematikan. Tapi kini ia harus menanggung beban baru dalam hidupnya. Beban benih di dalam rahimnya yang akan terbebani oleh penyakit yang sama dengan yang deritanya. Ia merasa hidupnya kacau. Tidak terasa setitik air mata keluar dari pelupuk matanya. 

“Anda harus menggugurkannya mumpung masih berusia dua bulan”. Kata dokter Deny tiba-tiba. “Karena tidak ada jalan lain selain itu. Penyakit HIV sudah pasti menurun dari ibu ke anak yang dikandungnya”

“Itu pasti aku lakukan”. Jawab Lena sambil menunduk.

Matanya yang berkaca-kaca tidak mampu ia tunjukan pada dokter Deny. Dia menunduk  menatap tempat sampah yang ada di depannya. Ia melihat batang korek api menghitam tegeletak di dalam tempat sampah tersebut. Batang korek bekas yang ia pakai merokok tadi. Kemudian tanpa sadar ia memungutnya dan menunjukannya pada dokter Deny.

“Dokter tahu aku ini tak ada bedanya dengan batang korek api yang telah menghitam ini. Dokter tahu mengapa?”. Tanya Lena. Tetapi Dokter Deny hanya menggeleng dengan dahi mengkerut.

”Sebatang korek api yang apinya habis dipakai untuk menyulut rokok pasti ia akan terbuang percuma di dalam tempat sampah. Karena apa lagi yang diharapkan dari sebatang korek api bekas. Sama halnya dengan kami, wanita pelacur yang selalu ditinggal pergi oleh para lelaki setelah mereka puas bermain-main. Apalagi aku. Yang lebih kotor dan hitam. Lelaki itu rupanya jijik setelah mengetahui aku terjangkit penyakit ini, sehingga ia tidak mau menemuiku lagi hari ini. Ia lupa pada janjinya untuk membantuku melewati hari-hariku yang sulit ini. Atau itu hanya omong kosong sewaktu ia mengatakannya. Apalagi aku yang kini tengah me ngandung anaknya, dok. Dia mungkin akan lebih jijik dan membenciku setelah ia tahu kenyataannya”.

Dokter Deny mendengarkannya dengan seksama. Kemudian Lena melanjutkan, “Aku masih ingat dua bulan yang lalu ketika kami bertemu di diskotik. Aku kebetulan duduk sendirian waktu itu. Tiba-tiba ia datang menghampiriku dengan membawa dua botol bir penuh. Ia cukup tampan. Wajahnya putih bersih. Ia menggunakan setelan jas dan celana hitam serta sepatu pantovel menandakan ia seorang yang mempunyai pekerjaan mapan dan hidupnya terjamin. Aku terpesona waktu itu. Kemudian ia duduk dan mengajakku berkenalan. Aku tambah terpesona ketika aku tahu dia seorang dokter. Karena rasanya aku belum pernah bertemu dengan seorang dokter di tempat  seperti itu.”Ungkap Lena. Kemudian Dia melanjutkan, “Seperti lelaki lainnya, ia mau membayarku untuk melayaninya semalaman. Kami melakukannya dalam keadaan mabuk sehingga di lupa menggunakan kondom pada waktu itu. Dan akhirnya seperti inilah jadinya”. Lena kembali menunduk. “Kemudian sebulan yang lalu aku menemuinya, selain untuk melihat wajah tampannya lagi, aku juga ingin memeriksa kesehatanku karena pada waktu itu aku mengalami demam yang tidak wajar. Dan setelah diperiksa dan dites darah olehnya, aku ternyata mengidap menyakit HIV. Dia kemudian memberikanku resep obat. Dia juga bersedia membantuku untuk melewati hari-hariku yang sulit ini. Dia mau memberiku semangat. Karena waktu itu aku begitu ketakutan. Aku tahu obat untuk penyakit ini bukan untuk menyembuhkanku, tetapi untuk menunda kematianku saja. Tetapi kenyataannya ia pergi”. Isak tangis Lena mengakhiri kisah singkatnya.

Dokter Deny yang dari tadi menyimak ceritanya, dengan ragu bertanya, “Apa lelaki itu dokter Hadi?”.  Dan Lena hanya mampu mengangguk pelan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...