animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Senin, 24 Desember 2018

Penerimaan dan Pengeluaran Rumah Tangga Petani Desa Kali Padang Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong


TUGAS AKHIR PENGANTAR EKONOMI PERTANIAN
PENERIMAAN DAN PENGELUARAN RUMAH TANGGA PETANI
DESA KALI PADANG KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG




DISUSUN OLEH

Riza Arpina                  E1D017011
Sarlamun                      E1D017027
Erma Hanita                 E1D017039
Tri Wahyuningsih        E1D017083
Anggi Kusumah           E1D017102



PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Asumsi lama dan klasik yang menyatakan bahwa penduduk di pedesaan adalah kebanyakan petani subsisten (yang dapat memproduksi untuk konsumsi sendiri) sudah tidak perlu lagi. Walaupun demikian, seringkali dijumpai rumah tangga di pedesaan menjual bahan makanan berkualitas lebih baik yang diproduksinya, sehingga uang hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk membeli makanan yang berkualitas lebih rendah. Hal ini menunjukkan adanya upaya memaksimumkan konsumsi segi kuantitas. Berdasarkan uraian diatas maka permasalahan  menyangkut perilaku rumah tangga petani yang perlu diteliti adalah bagaimana alokasi waktu kerja, kontribusi pendapatan, dan pola pengeluaran rumah tangga petani, dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi keputusan ekonomi rumah tangga petani (waktu kerja, produksi, dan pengeluaran) rumah tangga petani. (Lokollo, 2001)
Aspek yang terkait dengan tingkat pendapatan adalah tingkat pengeluaran masyarakat. Secara umum diketahui bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi pola dan tingkat pengeluaran. Dari pendapatan yang diperoleh, pengeluaran untuk pemenuhan kebutuhan keperluan sehari-hari baik dari segi jumlah dan skala. Pengeluaran untuk konsumsi berupa pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari menempati urutan pertama. Pemenuhan kebutuhan untuk keperluan anak sekolah, baik dari segi besarnya maupun skala prioritas menempati urutan kedua. Pemenuhan kebutuhan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang sering tidak terduga menempati urutan ketiga. Lain-lain pengeluaran yang kadang kala relatif cukup besar jumlahnya menempatiurutan keempat dan seterusnya. (Nurmanaf dkk, 2000).
Secara umum, pengeluaran rumah tangga merupakan belanja yang dilakukan oleh rumah tangga untuk membeli berbagai kebutuhan dalam satu tahun tertentu atau disebut pula pengeluaran konsumsi dimana pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga dalam perekonomian tergantung pada pendapatan yang diterima. Alokasi atau struktur rumah tangga untuk kebutuhan pangan dan non pangan dimana pengeluaran untuk kebutuhan pangan meliputi sumber karbohidrat, protein, vitamin/mineral serta kebutuhan pangan lainnya. Sedangkan kebutuhan non pangan meliputi pendidikan, pakaian, perumahan,transportasi, rekreasi, kegiatan sosial, listrik, air minum, dan minyak tanah. (Badan Pusat Statistik, 2009).
Alokasi untuk kebutuhan konsumsi adalah pengeluaran pada suatu saat untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu. Pengertian lain dari alokasi untuk kebutuhan konsumsi adalah semua dana atau pendapatan yangdigunakan untuk konsumsi yang terdiri dari penggunaan untuk makanan, pembelian pakaian, pemeliharaan rumah dan pemeliharaan alat-alat transportasi, rekreasi serta pemeliharaan kesehatan dan partisipasi sosial keagamaan. (Talumingan (1996)
Dalam perekonomian tujuan untuk mengkonsumsi adalah memperoleh kekuasaan setinggi tingginya dan mencapai tingkat kemakmuran dalam arti terpenuhinya berbagai macam kebutuhan, seperti:
a.    Kebutuhan untuk bahan makanan.
Kebutuhan bahan makanan sangat diperlukan oleh manusia untuk kelangsungan hidup selain sebagai kebutuhan pokok (primer). Konsumsi untuk bahan makanan menempati tempat tertinggi dalam masyarakat, dimana sebagian besar pendapatan petani dibelanjakan untuk kebutuhan bahan makanan, dalam hal ini bahan makanan pokok dan tambahan.
b.    Kebutuhan pakaian.
Kebutuhan pakaian sama seperti kebutuhan makanan merupakan kebutuhan primer yang dibutuhkan manusia. Pakaian adalah kebutuhan yang minimal harus dipenuhi manusia untuk dapat hidup. Dan tentunya ada sebagian pendapatan petani digunakan untuk membeli pakaian.
c.    Kebutuhan untuk pemeliharaan kesehatan, rekreasi, partisipasi sosial dan keagamaan. Pemeliharaan kesehatan mencakup konsultasi, pengobatan dan perawatan dari pada medis (dokter, perawat). Dan kegiatan rekreasi yang dilakukandalam hal ini adalah nonton film, berkunjung ketempat wisata, berkunjung kesanaksaudara, olah raga, musik dan sebagainya. Sedangkan untuk kebutuhan sosial dan keagamaan adalah kegiatan kelompok tani dan kegiatan hari besar. (Talumingan, 1986)

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan penulisan laporan ini, adalah :
1.    Mengetahui karakteristik petani.
2.    Mengetahui struktur penerimaan keluarga petani.
3.    Mengetahui struktur pengeluaran keluarga petani.
4.    Mengetahui kelembagaan usaha tani.


BAB II
GAMBARAN UMUM DAERAH PRAKTIKUM

A. Keadaan Penduduk
Pada kesempatan ini penulis mencoba mengartikan arti dari kependudukan dalam perspektif budaya setelah pengamatan yang dilakukan pada Desa Kali Padang. Pengertian kependudukan dalam perspektif budaya lebih kepada pengertian people dalam pandangan antropologi yaitu manusia sebagai pemangku budaya dalam segala aspek kehidupan (pendekatan holistik). Dalam proses perkembangannya ia melahirkan ciri-ciri yang spesifik yang kemudian berlanjut dengan munculnya pengelompokan-pengelompokan yang disebut pluralitas (plurality). Ciri-ciri spesifik yang dimiliki suatu kelompok penduduk menempatkannya ke dalam ragam budaya tertentu.
1.    Berdasarkan Kelompok Umur
Distribusi penduduk Desa Kali Padang berdasarkan kelompok umur dapat dilihat oada tabel berikut.
No
Kelompok umur (Tahun)
L
P
Jumlah
Persentase
(%)
1
0-4
83
63
146
7,02
2
5-9
92
96
188
9,04
3
10-14
96
104
200
9,70
4
15-19
73
78
151
7,16
5
20-24
69
79
148
7,11
6
25-29
88
88
176
8,46
7
30-34
74
77
151
7,26
8
35-39
98
100
198
9,52
9
40-44
74
75
149
7,16
10
45-49
76
61
137
6,58
11
50-54
51
54
105
4,95
12
55-59
44
48
92
4,42
13
60-64
40
45
85
4,08
14
65-69
64
21
85
4,08
15
70-74
19
18
37
1,77
16
75 ke atas
13
18
31
1,49
Sumber: Profil Kependudukan Desa Kali Padang Tahun 2017
Berbicara mengenai kependudukan untuk daerah Desa Kali Padang merupakan daerah yang memiliki jumlah penduduk tidak begitu padat bila dibandingkan dengan luas wilayah. Desa Kali Padang memiliki jumlah kepala keluarga sebanyak 639 KK yang terdiri dari jumlah keseluruhan warga sebanyak 2.079 jiwa.
Penduduk Desa Kali Padang Mayoritas penduduknya dari kalangan muda, dilihat dari jumlah penduduk menurut umur dan saat kami ke Desa Kali Padang tak jarang banyak penduduk yang masih berumur muda.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah tertinggi penduduk Desa  Kali Padang yaitu penduduk dengan kelompok umur 10-14 tahun dengan jumlah sebanyak 200 jiwa dari 2079 jiwa dengan persentase 9,70%. Hal tersebut terjadi karena banyak masyarakatnya yang putus sekolah, lapangan kerja yang kurang sehingga daya perekonomian di sana rendah dan mengakibatkan angka kelahiran yang tinggi. Jumlah penduduk terendah yaitu penduduk dengan kelompok umur >75 tahun dengan jumlah sebanyak 31 jiwa dari 2079 jiwa dengan persentase 1,49%. Di Desa Kali Padang penduduk lansia sangat dikit dikarenakan penduduknya tidak terlalu padat serta tingginya angka kematian akibat fasilitas kesehatan yang masih belum memadai.

2.    Berdasarkan Pendidikan
Distribusi tingkat pendidikan penduduk Desa Kali Padang dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Tingkat pendidikan
Jumlah penduduk
Persentase (%)
1
Belum Sekolah
126
7,77
2
Tamat SD/Sederajat
206
12,70
3
SLTP/Sederajat
323
19,92
4
SLTA/Sederajat
922
56,84
5
Diploma (D1, D2, D3)
-
-
6
S1
33
2,03
7
S2
-
-
8
S3
-
-
9
Buta Huruf
12
0,03
Sumber: Profil Kependudukan Desa Kali Padang Tahun 2016
Berdasarkan data yang kami dapatkan, terlihat bahwa 56,84% atau lebih dari setengah penduduk Desa Kali Padang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTA/Sederajat. Selebihnya hanya sampai tingkat SD, SMP hingga S1. Data diatas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Desa Kali Padang ini masih tergolong rendah karena mayoritas penduduknya yang hanya tamatan SLTA/Sederajat. Bahkan terdapat 7,77%  penduduk yang belum sekolah dan 0,03% penduduk yang buta huruf. Ini karena kurangnya perhatian masyarakat di Desa Kali Padang terhadap pendidikan dan karena masalah perekonomian untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
            Rendahnya tingkat pendidikan di Desa Kali Padang ini tentunya dipengaruhi beberapa faktor, faktor yang paling mencolok ialah faktor ekonomi. Faktor ekonomi begitu berpengaruh terkait dengan biaya dari pendidikan itu sendiri, dengan mayoritas masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani penghasilan mereka biasanya hanya cukup untuk keperluan rumah tangga, anak-anak pun lebih banyak membantu orang tua bekerja daripada pergi ke sekolah untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Faktor kedua yaitu sarana pendidikan di desa yang terbatas. Faktor berikutnya ialah pola pikir yang instan,  pola pikir instan disini yaitu para pemuda yang berpikir bahwa sekolah tidak terlau penting karena mereka bisa langsung bekerja dan dengan mudah mendapatkan uang, mereka masih tetap bisa bekerja dan memiliki uang bahkan tanpa harus bersekolah. Ketiga faktor tersebut merupakan tiga faktor utama yang mempengaruhi tingkat pendidikan di Desa Kali Padang.
3.    Berdasarkan Mata Pencarian
Mata pencarian penduduk Desa Kali Padang yang sebanyak 1.517 penduduk dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Jenis Mata Pencaharian
Jumlah Penduduk
1
Petani/Pekebun
892
2
Buruh Tani
492
3
Wiraswasta
73
4
Pegawai Negeri Sipil
13
5
Pelajar
47
Sumber: Profil Kependudukan Desa Kali Padang Tahun 2016
Mayoritas mata pencaharian penduduk  di Desa Kali Padang adalah petani/pekebun. Hal ini disebabkan karena sudah turun temurun sejak dulu bahwa masyarakat adalah petani dan juga minimnya tingkat pendidikan dan lapangan pekerjaan yang lainnya menyebabkan masyarakat tidak punya keahlian lain dan akhirnya tidak punya pilihan lain selain menjadi petani.
Disamping itu, masyarakat Desa Kali Padang juga bekerja sebagai buruh tani, sebagian kecil sebagai swasta dan pelajar, serta beberapa orang bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Masyarakat Desa Kali Padang juga banyak yang belum bekerja/tidak bekerja namun bukan berarti mereka pengangguran akan tetapi mereka yang belum bekerja yaitu merupakan usia anak-anak yang belum sekolah atau anak balita. Namun pekerjaan yang yang dilakukan masyarakat mayoritas sebagai petani dan buruh tani. Tidak hanya dibidang pertanian namun ada pula sebagian masyarakat yang berwirausaha seperti pengrajin beronang, pengrajin tikar, usaha pengolahan susu dan lain sebagainya yang masuk dalam kriteria berdagang dan berwirausaha. Dilihat dari tabel diatas terlihat jelas bahwa masyarakat di Desa Kali Padang banyak yang berprofesi sebagai petani.

B.  Keadaan Lahan
1.    Batas Wilayah
Desa Kali Padang terletak di Kecamatan Selupu Rejang. Luas wilayah Kecamatan Selupu Rejang 17295 Ha. Kecamatan ini terletak pada astronomi antara 0o-3o, 4558 Lintang Selatan dan antara 102o, 6131 Bujur Timur. Topografi Kecamatan Selupu Rejang bergelombang hingga berbukit. Rata – rata ketinggian tempat dari permukaan air laut 968,31 m dpl, memiliki udara yang sejuk dengan suhu udara rata-rata berkisar 23,24oC. Kecamatan ini di sebelah utara berbatasan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sindang Kelingi, Kecamatan Padang Ulak Tanding dan Kecamatan Binduriang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kepahiang dan wilayah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Curup Utara dan Kecamatan Curup Timur.
2.    Tata Guna Lahan
            Masyarakat Desa Kali Padang kebanyakan menggunakan lahan untuk ladang tidak jauh dari rumahnya, tak heran bila setiap masyarakat Desa Kali Padang jarang menginap di ladangnya. Memang pada umumnya masyarakat setempat kebanyakan melakukan aktivitas di sekitar pekarangan rumah alasan yang kami dapat dari warga setempat lebih dekat dari tempat tinggal. Bila dilihat dari luas lahan pertaniannya rata-rata sekitar ± 0,5 ha, tidak heran bahwa luas setiap lahan Desa Kali Padang banyak tidak terlalu banyak macam komoditi yang ditanaminya.
Masalah penggunaan lahan, masyarakat Desa Kali Padang rata-rata status lahannya adalah milik sendiri. Dulunya lahan Desa Kali Padang sangat sedikit diminati oleh masyarakat karena letaknya yang jauh dari pusat kota dan pasar, sehingga masyarakat yang betah tinggal di Desa Kali Padang menggunakan lahan kosong tersebut untuk sektor pertanian.
3.    Keadaan Topografi
Desa Kali Padang bila dilihat dari bentang alam berada pada wilayah pegunungan dengan tanah bergelombang yang memungkinkan untuk usaha membudidayakan ternak dan bercocok tanam. Pegunungan sendiri merupakan kumpulan atau gugusan beberapa gunung besar dan juga kecil yang memanjang dan sambung menyambung menjadi satu antara satu dengan yang lainnya, dataran yang menjulang dari sekelilingnya, perbukitan yang memiliki ketinggian antara 500 m hingga 600 m dari permukaan air laut, rangkaian dari beberapa gunung, area geografis dengan gunung- gunung yang terkait secara geologis, barisan dari gunung- gunung yang terdapat dalam suatu barisan di suatu wilayah serta serangkaian gunung yang terhubung bersama- sama yang pada umumnya membentuk garis panjang gunung- gunung.

C.  Keadaan Sarana dan Prasarana
Pertumbuhan perekonomian suatu wilayah tentunya tidak dapat berjalan dengan mudah, diperlukan sarana pendukung dalam mengusahakan pertumbuhan ekonomi tersebut. Sarana tersebut digunakan dalam transaksi baik benda maupun jasa. Keadaan sarana dan prasarana yang terdapat pada Desa Kali Padang dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Sarana/Prasarana
Jumlah
Satuan
Keterangan
1
Kantor Desa
1
Unit
-
2
Masjid
1
Unit
-
3
Musholla
1
Unit
-
4
Poskamling
4
Unit
-
5
Posyandu
1
Unit
-
6
Polindes
1
Unit
-
7
Taman kanak-kanak
-
Unit
-
8
SD Negeri
-
Unit
-
9
SMP Negeri
-
Unit
-
10
Madrasah Ibtidaiyah
-
Unit
-
11
Madrasah Tsanawiyah
-
Unit
-
12
Tempat pemakaman umum
1
Unit
-
13
Kelompok tani
13
Unit
-
14
Sumur bor
-
Unit
-
15
Kantor kopwan
-
Unit
-
16
Perpustakaan desa
1
Unit
-
17
Lapangan olahraga
1
Unit
-
18
Panjang jalan aspal
1
Km
-
19
Panjang jalan macadam
4
Km
-
20
Panjang jalan tanah
2,7
Km
-
21
Panjang jalan rabat beton
1
Km
-
22
Jumlah jembatan beton
2
Unit
-
23
jumlah jembatan besi
1
Unit
-
24
jumlah jembatan kayu
1
Unit
-
Sumber: Profil Kependudukan Desa Kali Padang Tahun 2017
Dalam memenuhi akan kebutuhan akan kesehatan di Desa Kali Padang. Hanya terdapat bidan desa. Namun, pemerintah menyediakan Sarana Polindes dan posyandu yang  berada di ruas jalan utama Desa Air Duku yang tidak jauh dari Kantor Kecamatan. Letaknya sangat strategis karena terletak dekat dengan pusat pemerintahan Kecamatan Selupu Rejang. Polindes dan Posyandu berada di wilayah Desa Air Duku, namun karena letaknya sangat dekat maka jangkauan pelayanannya sudah bisa dirasakan oleh masyarakat Desa Kali Padang.
Jalan merupakan poin penting dari pembangunan suatu wilayah. Jika telah terdapat jalan, maka secara tidak langsung hal tersebut mampu membuka akses keluar-masuk menuju wilayah tersebut. Jalan yang terdapat di Desa Kali Padang sangat beragam mulai dari Jalan aspal, Jalan macadam, jalan beton dan Jalan tanah. Kondisi prasarana jalan umumnya sudah baik, hanya saja terdapat beberapa ruas jalan yang masih belum di perbaiki.
            Sarana pendidikan di Desa Kali Padang pada tingkat pendidikan SD, SMP dan SMA penduduk Desa Kali Padang menyekolahkan anaknya ke desa tetangga yang ada SMP /SMA. Walaupun Desa Kali Padang baru saja pemekaran dari Desa Air Duku, Desa Kali Padang sudah ada gedung intansi pemerintahannya seperti gedung kantor desa, Aula Desa dan lain-lain

D. Keadaan Usaha Tani
Dilihat dari pekerjaan masyarakat Desa Kali Padang bisa digolongkan masyarakat miskin. Perlu kita ketahui bahwa kependudukan di Negara Indonesia didominasi dengan masyarakat miskin, dengan demikian tidak heran bila suatu daerah hampir keseluruhan warganya bisa dikatakan masyarakatnya kurang mampu. Walaupun demikian bukan berarti pemerintah daerah membiarkan hal tersebut membudaya di Negara Indonesia. Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, Desa Kali Padang mendirikan lembaga yang menangani bidang kesejahteraan masyarakat yaitu KUD (Koperasi Unit Desa). Dengan didirikannya koperasi tersebut mengurangi pengangguran dan sedikit meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.  Tetapi akhir-akhir ini KUD sudah mulai tidak berjalan lagi di Desa Kali Padang.
Mayoritas masyarakat Desa Kali Padang bekerja mengolah perkebunan sayur-mayur, karena menurut petani iklim daerah Desa Kali padang sangat cocok untuk tanaman sayur-mayur dan buah-buahan.
Masalah yang sering dialami para petani adalah kurangnya perhatian pemerintah daerah untuk mengembangkan pertanian rakyat Desa Kali Padang. Sehingga sosialisasi untuk bercocok tanam sangat kurang dan mengakibatkan para petani kekurangan informasi dalam bercocok tanam. Maka oleh karena itu kebayakan para petani bercocok tanam dengan cara masing-masing sehingga tidak adanya keseragaman dalam melakukan penanaman, sayuran, buah-buahan. Untuk melakukan kegiatan taransaksi dalam jual beli hasil produk pertanian, masyarakat Desa Kali Padang biasanya menjual hasil pertanian langsung ke tengkulak.
Bila dilihat dari segi bentang alam di Desa Kali Padang dapat dikatakan daerah yang memiliki potensi yang cukup lumayan bagus dengan bercirikan tanah basah. Sayangnya masyarakat setempat tidak dibekali ilmu yang berbentuk penyuluhan bagi para petani, sehingga para petani tidak mengerti dan kewalahan menghadapi kebutuhan tanaman sehingga tanaman dapat berproduksi optimal.
Pada saat penulis mengadakan wawancara kepada masyarakat tani Desa Kali Padang, keluhan demi keluhan menjadi pokok permasalahan yang harus penulis uraikan di laporan ini. Salah satunya yang menjadi narasumber untuk masalah tanaman pangan adalah Bpk. Suardi yang bertempat tinggal tidak jauh dari tempat ia bercocok tanam. Pekerjaan sehari-hari Pak Suardi adalah bertani. Jenis tanaman yang diusahakan adalah tanaman Seledri. Yang menjadi pokok permasalahan Pak Suardi adalah kurangnya alat-alat pendukung untuk bercocok tanam, ditambah lagi pupuk yang tidak memadai serta keterbatasan bibit unggul.
Selain keluhan tersebut, Beliau juga mengharapkan campur tangan pemerintah terhadap para petani agar dapat dibantu dalam bentuk obat-obatan, bibit unggul dan alat-alat yang dibutuhkan dalam bertani. Namun respon pemerintah setempat tidak ada sehingga menimbulkan keresahan bagi para petani.
Selain itu pemasaran juga menjadi pokok permasalahan bagi petani sayur saat ini, kekurangan para petani selama bercocok tanam adalah ketidak setabilan pendapatan yaitu antar modal dengan keuntungan selalu naik turun. Alasan petani sayur ketika wawancara berlangsung yang mengakibatkan ketidaksetabilan hasil penjualan sayur adalah kurangnya minat masyarakat setempat dengan hasil tanaman yang mereka hasilkan, sehingga  harga penjualan sayur terpaksa turun. Selain Pak Suardi para petani sayur lainnya juga mengalami hal yang sama yaitu seperti Pak Sarial yang mengalami ketidakstabilan pemasaran hasil tanaman sayur mereka. Hal-hal yang seperti ini lah yang seharusnya diselesaikan pemerintah untuk mensejahterakan para petani dengan cara memberi bantuan dan penyuluhan, agar tidak terjadi kemiskinan dan pengangguran. 
Bentuk penyelesaian yang harus di laksanakan untuk petani sayur adalah pemerintah harus secepatnya memberi bantuan kepada petani sayur tersebut sehingga mempermudah dalam bercocok tanam. Selain bantuan dari pemerintah, para petani sayur yang ada di daerah tersebut harus membentuk suatu organisasi atau lembaga di bidang tanaman sayur untuk mempermudah komunikasi antara petani-petani jagung yang ada di daerah tersebut sehingga apa bila ada bentuk-bentuk masalah yang dialami oleh salah seorang petani dapat diselesaikan dalam bentuk kerjasama melalui kelembagaan tersebut.
            Masyarakat Desa Kali Padang umumnya sedikit yang beternak, biasanya masyarakat tersebut hanya memelihara beberapa hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sedikit untuk dipasarkan. Bentuk-bentuk permasalahan bagi para peternak tidak begitu susah untuk dikerjakan karena para peternak tidak mencari untung yang begitu signifikan melainkan sebagian besar untuk kebutuhan keluarga sendiri. Tetapi ada juga masalah yang serius yang ditakuti para peternak ayam yaitu masalah virus flu burung yang baru-baru ini menjadi masalah utama untuk para peternak unggas.
Dilihat dari perkembangan peternakan yang di Desa Kali Padang tidak terlalu susah dilaksanakan dari petani lainnya yang harus mengeluarkan modal yang cukup besar, karena sistem yang dipakai adalah sitem kekeluargaan yang tidak banyak mencari untung hingga dipasarkan. Tetapi hal yang perlu diperhatikan sekali untuk peternak unggas adalah untuk masalah perawatan ungggas dan pembersihan kandang yang baik agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti matinya unggas secara mendadak.

















BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A.  Metode Penentuan Lokasi dan Waktu
 Lokasi praktikum ini ditentukan dengan sengaja (purposive sampling) dan atas dasar kesepakatan bersama yaitu di Desa Kali Padang, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Alasan memilih daerah tersebut karena mayoritas penduduknya adalah Petani dan lokasi daerah tersebut yang strategis sehingga biaya yang di gunakan dalam kegiatan pratikum di daerah ini lebih efisien.
Mengenai waktu ditentukan dengan kesepatan bersama dan tidak bersinggungan dengan kegiatan lain. Waktu penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 3 hari ,mulai Tanggal 18 September sampai dengan tanggal 20 September 2018.

B.  Metode Penentuan Responden
Metode penentuan responden yang kami gunakan adalah metode kualitatif yaitu purposive dan kuota.
1.    Purposive. kami memilih informan menurut kriteria tertentu yang telah ditetapkan. Kriteria ini harus sesuai dengan topik pengamatan kami.
2.    Kuota. Informan yang dipilih bertujuan untuk memenuhi kuota yang telah ditentukan sebelumnya. Kami mengumpulkan data responden sebanyak 20 orang petani. (Suharsimi Arikunto, 2013).

C.  Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data yang kami gunakan yaitu metode wawancara, metode cross section/insidentil, metode observasi, metode angke t(kuesioner), serta metode studi dokumen.(Sugiyono, 2012).
1.    Metode wawancara, yaitu teknik pengumpulan data yang mendasarkan diri tentang diri sendiri atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Kami mewawancarai langsung petani tersebut dengan metode terstruktur yaitu dengan melihat pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner.
2.    Metode Cross section/insidentil, yaitu data yang dikumpulkan hanya pada suatu waktu tertentu. Kami mengumpulkan data-data hasil wawancara responden saat kami mewawancarai responden tersebut.
3.    Metode Observasi, yaitu metode pengumpulan data yang kompleks karena melibatkan berbagai faktor dalam pelaksanaannya. Metode pengumpulan data observasi tidak hanya mengukur sikap dari responden, namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi. Metode pengumpulan data observasi yang kami gunakan terbagi menjadi dua kategori, yakni:
a.       Participant observation, kami terlibat secara langsung dalam kegiatan sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.
b.      Non participant observation, Berlawanan dengan participant observation, kami tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati, seperti saat kami mewawancarai salah satu petani disana.
4. Metode Angket (kuesioner), yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kami menggunakan kuesioner yang sudah diberikan dosen untuk mengumpulkan data-data responden. Supaya waktu pengumpulan data-data yang diambil lebih efisien dan lebih teratur.
5.  Metode Studi dokumen, yaitu metode pengumpulan data yang tidak ditujukan langsung kepada subjek penelitian. Studi dokumen adalah jenis pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen yang berguna untuk bahan analisis. Kami juga mengumpulkan data dari dokumen profil dari Kantor Desa Kali Padang.

D.  Metode Analisis Data
Dalam menganalisi data, kami menggunakan dua metode yaitu metode analisis data kuantitatif dan metode analisis data kualitatif.
1.    Analisis Data Kuantitaif.
Dalam penelitian kuantitatif analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Teknik dalam penelitian kuantitatif adalah menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam pengamatan kami, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial.
Statistika deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data  yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau  generalisasi.
Termasuk dalam statistik deskriptif adalah penyajian data melalui table, grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean, perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan prosentase. Dalam statistik deskriptif juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan antara variablel melalui analisis korelasi, membuat perbandingan dengan membandingkan rata-rata sampel atau populasi.
Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. (Sugiyono, 2012).
2.    Analisis Data Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif data yang diperoleh dari berbagai sumber  dengan menggunakan teknik  pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus  tersebut mengakibatkan variasi data sangat tinggi sekali.
Proses analisis dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai dilapangan. Analisis sebelum dilapangan dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang akan menentukan fokus penelitian. Namun fokus penelitian ini bersifat sementara dan akan berkembang  setelah peneliti akan masuk dan selama dilapangan.(Sugiyono, 2012).




















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Karakteristik Petani
1.    Keadaan Umur Petani
Usia petani-petani di Desa Kali Padang juga semakin tua lantaran tak banyak generasi mudah yang meneruskan orang tuanya jadi petani. Menurut hasil sensus Desa Kali Padang mencatat sebagian besar petani berada di kisaran 40-70 tahun. Keadaan umur petani di Desa Kali Padang dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Umur (tahun)
∑petani
Persentase %
1
3039
3
15
2
40 49
8
40
3
5059
4
20
4
6069
2
10
5
70 >
3
15
Jumlah
20
100

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa umur petani terbanyak pada rentang umur 40 - 39 tahun yang terdapat 8 orang dari 20 orang dengan persentase 40%. Berdasarkan rata-rata umur petani maka kategori umur petani yang ada di Desa Kali Padang termasuk pada usia produktif. Biasanya pada usia produktif, petani memiliki kemampuan kerja yang lebih maksimal secara mental lebih kuat dalam menentukan keputusan dan menghadapi berbagai kendala yang nantinya akan dihadapi di dalam bidang usahanya dibandingkan dengan anggota usia non produktif. Terdapat 15% berusia di atas 70 tahun produktivitasnya  akhirnya rendah.
2.    Keadaan Pendidikan Petani
Selain masalah usia yang menua, masalah petani di Desa Kali Padang juga tingkat pendidikannya yang rendah. Keadaan pendidikan petani di Desa Kali Padang dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Pendidikan (Jenjang)
∑petani
Persentase %
1
SD
9
45
2
SMP
4
20
3
SMA/SMK
7
35
Jumlah
20
100
 Pada tabel diatas, terdapat tabel pendidikan yang menunjukan tingkat pengetahuan petani yang diukur dengan lama masa pendidikan formal yang ditempuh oleh setiap responden. Data yang tercatat dari hasil wawancara yang dilakukan oleh praktikan di Desa Kali Padang menunjukan bahwa dari 20 orang responden dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan formal SD merupakan persentase tertinggi dengan angka 45% atau sebanyak 9 orang. Tingkat pendidikan SMP hanya 4 orang dan tingkat pendidikan SMA sebanyak 7 orang. Tidak ditemukan responden yang tidak tamat SD dalam mengikuti pendidikan formal. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan petani akan berhubungan dengan kemampuan petani dalam menerima dan menolak sebuah inovasi baru secara tepat dalam usaha taninya. Pendidikan merupakan faktor penunjang keberhasilan seorang petani dalam melakukan usahanya seperti kemampuan berfikir, bersikap, dan bertindak yang sesuai dengan kegiatan usahanya. Rendahnya tingkat pendidikan formal, maka sangat diperlukan pendidikan non formal seperti kegiatan penyuluhan, penerangan dan pelatihan sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan bisa melibatkan petani dalam setiap kegiatan di sebuah organisasi.
3.    Keadaan Pengalaman Usaha Tani
Pengkategorian responden dari masing-masing indikator dilakukkan dengan teknik analisis deskriptif (Arikanto, 1998).  Analisis deskriptif diharapkan dapat mampu menggambarkan karakteristik petani melaksanakan usahataninya.  Salah satu indikatornya antara lain pengalaman berusaha tani. Keadaan pengalaman usaha tani dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Pengalaman berusaha tani (tahun)
Kriteria Pengalaman
Jumlah (Jiwa)
Persentase %
1
1-5
Cukup Berpengalaman
4
20
2
6-10
Berpengalaman
3
15
3
11 >
Lebih Berpengalaman
13
65
Jumlah
319
-
20
100
Rata-rata
15,95
Lebih Berpengalaman
-
-
Pengalaman berusahatani merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung mempengaruhi keberhasilan usahatani yang dilakukan petani Desa Kali Padang secara keseluruhan.  Petani yang berpengalaman dan didukung oleh sarana produksi yang lengkap akan lebih mampu meningkatkan produktivitas dibandingkan dengan petani yang baru memulai usahatani. 
Tabel diatas menunjukkan bahwa pengalaman berusahatani di Desa Kali Padang yang dimiliki oleh petani responden dikategorikan tinggi yaitu sebesar 65% berpengalaman. Mayoritas petani responden memiliki pengalaman berusahatani yang bervariasi antara 1-40 tahun.  Rata-rata petani responden mempunyai pengalaman berusahatani di Desa Kali Padang selama 15,95 tahun.  Hal ini menunjukkan bahwa petani sampel di daerah penelitian telah memiliki pengalaman yang cukup dalam berusahatani di Desa Kali Padang.  Lamanya pengalaman berusahatani petani responden dapat dijadikan sebagai motivasi ke arah yang lebih baik dalam berusahatani.
4.    Keadaan Tanggungan Keluarga Petani
Jumlah tanggungan keluarga merupakan jumlah seluruh orang yang berada dalam satu rumah yang menjadi tanggungan kepala rumah tangga. Jumlah tanggungan keluarga petani responden Di Desa Kali Padang dapat dilihat pada tabel berikut
No
Kriteria
Jumlah Keluarga (Jiwa)
Persentase %
1
Rendah < 2
7
35
2
Sedang 2-3
11
55
3
Tinggi >3
2
10
Jumlah
-
20
100
Rata-rata
2 (Sedang)
6.66
-

Tabel diatas menunjukan bahwa jumlah anggota keluarga yang ditanggung oleh petani responden dominan 2 orang (55%), yang berarti bahwa jumlah anggota yang harus ditanggung oleh petani responden tidak terlalu banyak.  Besarnya jumlah anggota keluarga dapat mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga untuk kepentingan usahatani.
Menurut Ambarani (2002) dengan jumlah tanggungan yang besar diharapkan mampu mendorong kegiatan usaha yang lebih giat guna memenuhi kebutuhan hidup.Berikut merupakan tabel keadaan tanggungan keluarga petani di Desa Kali Padang.
Pengeluaran seperti pangan, perumahan, pakaian, serta meningkatnya kebutuhan-kebutuhan hidup. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka kebutuhan keluarga akan cenderung lebih tinggi yang merangsang kepala keluarga untuk bekerja lebih giat guna memenuhi kebutuhan tersebut. Seseorang yang memiliki pendapatan rendah dengan jumlah anggota keluarga yang banyak cenderung mencari tambahan pendapatan agar dapat memenuhi kebutuhannya.
5.    Keadaan Pekerjaan di luar Usahatani
 Untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan mengisi waktu senggang selama berusahatani di Desa Kali Padang, beberapa petani biasanya mempunyai pekerjaan sampingan.  Dapat diketahui bahwa berusahatani merupakan pekerjaan utama dalam memenuhi kebutuhan hidup bagi petani di Desa Kali Padang. 
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya petani menjadikan usahatani di Desa Kali Padang sebagai satu-satunya sumber  mata pencaharian.  Di Desa Kali Padang petani responden memiliki pekerjaan sampingan antara lain berdagang, bangunan, buruh dan memiliki bengkel. 
Untuk pekerjaan buruh berupa buruh harian di kebun tepatnya menjadi buruh perkebunan wortel. Namun usaha tersebut hanya mendapat penghasilan yang cukup sedikit jika dibandingkan mereka yang mempunyai usahatani sendiri.
6.    Keadaan Penguasaan Lahan Pertanian
 Lahan merupakan tempat berlangsungnya proses produksi.  Semakin besar lahan yang digunakan maka semakin banyak input yang dibutuhkan oleh petani untuk berusahatani.  Luas lahan petani di Desa Kali Padang bervariasi antara 0,05 - 2 1/4 Ha.  Rata-rata luas lahan yang dimiliki oleh petani responden adalah seluas 3/4 Ha.  Lahan yang diusahakan untuk melakukan kegiatan usahatani di Desa Kali Padang 60% merupakan lahan milik sendiri dan 40% masih menyewa lahan atau bagi hasil. 
Jumlah petani responden terbesar yang mengusahakan sayur adalah pada luas lahan ¼ - 1 Ha dengan persentase sebesar 88,33 %.  Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa status kepemilikan lahan di Desa Kali Padang sebagian adalah milik sendiri.

B.  Struktur Penerimaan Keluarga Petani
Penerimaan keluarga petani adalah akumulasi pemasukan yang di dapatkan petani dalam satu keluarga. Pada penelitian kami tidak menemukan petani yang beternak, berkebun, berhutan, maupun bekerja dalam sektor perikanan. Oleh karena itu, kami tidak membahas poin-poin tersebut.
1.    Penerimaan Dari Sub Sektor Pertanian
Penerimaan dari sub sektor pertanian adalah pemasukan/revenue yang didapatkan petani dari hasil pertaniannya yang dapat berupa uang maupun yang lainnya. Penerimaan petani di Desa Kali Padang dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Penerimaan
ΣPetani
Persentase
Rata – Rata
Usaha Tani
(%)
(%)
Rp/Bulan
1
Daun Bawang
22,22
30
    5,100,000.00
2
Seledri
18,52
25
    3,600,000.00
3
Wortel
14,81
20
    3,995,000.00
4
Kol
18,53
25
    5,610,000.00
Total
74,08
100
  18,305,000.00

Pada tabel di atas dapat kita lihat bahwa penerimaan dari sub sektor pertanian di Desa Kali Padang di dominasi oleh petani daun bawang yang penduduknya yang bertani komoditi daun bawang mencapai 30% tapi penerimaan tertinggi terjadi pada komoditi kol yaitu mencapai 5.610.000,00 walaupun petaninya lebih rendah dari petani daun bawang yaitu 25%.
2.    Total Penerimaan Keluarga Petani dari Sektor Pertanian
Berdasarkan tabel pada penerimaan dari sub sektor pertanian, bahwa total penerimaan keluarga petani dalam satu bulan adalah 18.305.000,00. Total tersebut merupakan akumulasi dari empat komoditi yaitu komoditi daun bawang, seledri, wortel, dan kol.
3.    Penerimaan Di Luar Pertanian
Penerimaan di luar pertanian adalah pemasukan yang di dapatkan petani pada sektor non pertanian. Penerimaan di luar pertanian petani di Desa Kali Padang dapat di lihat pada tabel berikut.
Swasta
Penerimaan
Buruh
Penerimaan
Total Penerimaan
(%)
(Bln)
(%)
(Bln)
Non UT (Rp/Bln)
22,22
6,000,000.00
3,7
1,500,000.00
7,500,000

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa pekerjaan petani tersebut merupakan pekerjaan sampingannya. Terlihat bahwa petani yang bekerja swasta jauh lebih besar yaitu 22,22%, sehingga penerimaan per bulannya juga lebih besar yaitu 6.000.000,00 per bulannya.
4.    Total Penerimaan Keluarga Petani
Total penerimaan keluarga petani disini maksudnya adalah jumlah seluruh penerimaan keluarga petani baik dalam sektor pertanian maupun dalam sektor non pertanian. Total penerimaan keluarga petani dapat dilihat pada tabel berikut.
Total Penerimaan Keluarga Petani Dari Sub Sektor Pertanian
Total Penerimaan Keluarga Petani Dari Sub Sektor Non Pertanian
Total Penerimaan
Keluarga Petani
Rp/Bulan
 (Rp/Bln)
 (Rp/Bln)
  18,305,000.00
7,500,000.00
25,805,000.00

Dari tabel di atas dapat ketahui bahwa total penerimaan keluarga petani adalah sebesar 25.805.000,00. Penerimaan tersebut merupakan akumulasi dari penerimaan sub sektor pertanian dan sub sektor non pertanian.

C.  Struktur Pengeluaran Keluarga Petani
1.    Pengeluaran Untuk Sub Sektor Pertanian
Pengeluaran pada sub sektor pertanian merupakan biaya yang dipakai untuk segala keperluan mengenai hal produksi pertanian. Pengeluaran untuk sub sektor pertanian dapat dilihat pada tabel berikut.

Total Pengeluaran Lahan Tanaman Panga
 Total Pengeluaran Sarana Produksi Pertanian Tanaman Pangan
Total Biaya TK Pria            (Rp/MT)
Total Biaya TK Wanita            (Rp/MT)
Total Biaya Penyusutan Alat (Rp/Bln)
Total Pengeluaran Lainnya Dalam Kegiatan Usaha Tani

Jumlah
 27.600.000,00
     18.210.000,00
          11.690.000,00
            5.050.000,00
  9.812.800,00
            413.000,00

Total
72.775.000,00

Rata-rata
12.129.167,00

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa banyak faktor pengeluaran petani, mulai dari pengeluaran untuk lahan tanaman, pengeluaran sarana produksi pertanian, biaya tenaga kerja pria, biaya tenaga kerja wanita, biaya penyusutan alat, serta pengeluaran lainnya yang berkaitan dengan produksi pertanian. Jadi, total pengeluaran untuk sektor pertanian adalah 72.775.800,00 dengan rata-rata pengeluaran 12.129.167,00.
2.    Pengeluaran Untuk Sektor Non Pertanian
Pengeluaran sektor non pertanian adalah biaya-biaya yang di keluarkan petani untuk memenuhi kebutuhannya di luar sektor pertanian. Pengeluaran untuk sektor non pertanian dapat dilihat pada tabel berikut.
Total Biaya Pengeluaran Non Usaha Tani (Rp/Bln)
        995,000.00
     1,187,000.00
        681,000.00
        736,000.00
        594,000.00
        583,000.00
        631,000.00
        541,000.00
     1,126,000.00
        587,000.00
        896,000.00
     1,041,000.00
        820,000.00
     1,173,000.00
     1,558,000.00
        674,000.00
     1,231,000.00
        793,000.00
     1,242,000.00
        798,000.00
   17,887,000.00

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa setiap pengeluaran  responden berbeda-beda. Total seluruh pengeluaran untuk sektor non pertanian adalah 17.887.000,00. Total tersebut terdiri dari 2 faktor pengeluaran yaitu faktor pangan, terdiri dari beras dan lauk pauk, serta non pangan, terdiri dari biaya sekolah/pendidikan, biaya listrik, biaya air, biaya transportasi, biaya bahan bakar,dan  iuran sampah.
3.    Total Pengeluaran Keluarga Petani
Total pengeluaran keluarga petani yaitu biaya yang dikeluarkan keluarga petani baik dalam sektor pertanian maupun dalam sektor non pertanian. Total pengeluaran keluarga petani dapat dilihat pada tabel berikut.
Total Pengeluaran Usaha Tani dan Non Usaha Tani (Rp/Bln)
                      2,588,750.00
                      3,713,750.00
                      4,648,500.00
                      3,388,300.00
                      5,586,500.00
                      3,195,100.00
                      4,822,800.00
                      8,318,800.00
                      3,253,750.00
                      8,014,900.00
                      5,115,500.00
                      3,513,250.00
                      4,040,200.00
                      3,213,700.00
                      5,550,300.00
                      3,220,000.00
                      3,358,750.00
                      6,369,100.00
                      5,819,850.00
                      2,931,000.00
                    90,662,800.00

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa pengeluaran setiap responden berbeda-beda karena beberapa faktor seperti kebutuhan hidup, kebutuhan keluarga, maupun kebutuhan untuk lahan pertanian. Total pengeluaran keluarga petani di Desa Kali Padang adalah 90.662.800,00. Total pengeluaran tersebut terdiri dari pengeluaran dari sektor pertanian dan sektor non pertanian.

D.  Struktur Pendapatan Keluarga Petani
1.    Pendapatan Keluarga dari Sektor Pertanian
Pendapatan keluarga dari sektor pertanian adalah pemasukan yang didapatkan keluarga petani yang berasal dari sektor pertanian. Pendapatan keluarga dari sektor pertanian dapat dilihat pada tabel berikut.




Total Hasil Penjualan Tani (Rp/MT)
               1,800,000.00
               4,500,000.00
               7,200,000.00
               3,600,000.00
               5,400,000.00
               4,500,000.00
               7,200,000.00
             10,710,000.00
               2,700,000.00
             10,500,000.00
               7,200,000.00
               3,600,000.00
               1,190,000.00
               3,600,000.00
               2,700,000.00
               1,350,000.00
               2,700,000.00
               8,100,000.00
               3,570,000.00
                  510,000.00
             92,630,000.00


Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pendapatan setiap keluarga petani berbeda-beda, itu karena beberapa faktor, salah satunya adalah faktor luas lahan. Semakin luas lahannya, maka hasil yang didapatkan juga semakin banyak. Total pendapatan keluarga petani dari sektor pertanian adalah 92.630.000,00. Pendapatan tersebut merupakan akumulasi dari empat komodi yaitu daun bawang, seledri, wortel, dan kol.
2.    Pendapatan Keluarga Dari Sektor Non Pertanian
Pendapatan keluarga dari sektor non pertanian adalah pemasukan yang didapatkan petani yang berasal dari usaha di luar sektor pertanian. Pendapatan keluarga dari sektor non pertanian dapat dilihat pada tabel berikut.
Swasta
Penerimaan
Buruh
Penerimaan
Total Penerimaan
(%)
(Bln)
(%)
(Bln)
Non UT (Rp/Bln)
22,22
6,000,000.00
3,7
1,500,000.00
7,500,000

            Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak semua keluarga mempunyai pekerjaan selain petani, hanya 22,22 % swasta dan 3,7% buruh dari total seluruh responden. Jadi, untuk total penerimaan sektor non pertanian adalah 7.500.000,00. Total tersbut terdiri dari beberapa bidang yaitu swasta dan buruh.
3.    Total Pendapatan Keluarga Petani
Total pendapatan keluarga petani adalah akumulasi seluruh pendapatan keluarga petani baik itu dalam sektor pertanian maupun non pertanian. Total pendapatan keluarga petani dapat dilihat pada tabel berikut.
Total Hasil Penjualan Tani (Rp/MT)
Total Penerimaan
Non UT (Rp/Bln)
             92,630,000.00
7,500,000

            Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa total pendapatan keluarga petani adalah 100.130.000,00. Total tersebut merupakan akumulasi total dari pendapatan dari hasil penjualan tani dan penerimaan non usaha tani.

E.  Keadaan Sosial Ekonomi
Mata pencaharian masyarakat Desa Kali Padang Kecamatan Selupu Rejang sebagian besar merupakan petani dan buruh tani, sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana pertanian serta perhubungan untuk mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Dengan adanya bantuan Infrastruktur Pedesaan dan Pemerintah Pusat, tentunya akan sangat membantu untuk pembangunan sarana jalan untuk transportasi masyarakat Desa Kali Padang agar terwujudnya sarana transportasi sesuai standar kebutuhan dan harapan masyarakat. Sehingga, akan dapat menekan biaya para petani terutama menyangkut ongkos angkut dengan harapan pendapatan petani menjadi naik dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat di Desa Kali Padang rata-rata mengikuti kegiatan sosial yang ada di Desa Kali Padang seperti arisa dan pengajian/majelis taklim yang diadakan setiap minggu di masjid Desa Kali Padang. Masyarakat Desa Kali Padang merasa bisa mendapatkan banyak keuntungan dari kegiatan sosial tersebut, seperti menambah wawasan dan pengetahuan, menambah teman, mengisi waktu luang, serta memperluas pergaulan. Maka tidak heran jika masyarakat Desa Kali Padang bisa dikatakan aktif dalam kegiatan sosial.
Untuk pemasaran, Masyarakat Desa Kali Padang hanya menjual hasil pertaniannya kepada tengkulak, karena selain praktis, masyarakat Kali Padang juga tidak lagi mengeluarkan ongkos untuk pengangkutan hasil pertanian dari ladang ke Desa. Oleh karena itu, masyarakat tani Desa Kali Padang tidak pernah menjual hasil tani ke KUD.
Petani juga tidak pernah menyimpan hasil pertaniannya, alasannya karena sayur-mayur sangat cepat busuk dan tidak adanya tempat penyimpanan yang layak untuk sayur. Sehingga apabila belum ada tengkulak datang untuk memanen hasil pertaniannya, maka petani tidak akan melakukan pemanenan. Jika hasil pertaniannya belum juga dipanen, maka petani di Desa Kali Padang akan mencincang-cincang hasil pertaniannya guna mengurangi kerugian akibat tidak panen. Penyortiran juga tidak berlaku bagi petani di Desa Kali Padang, karena penyortiran hanya terjadi pada saat hasil pertanian sudah di tangan tengkulak.

F.   Persoalan Pertanian Di Desa Kali Padang
Pertanian merupakan sektor andalan untuk meningkatkan kesejahteraan sebagian masyarakat Desa Kali Padang, karena sebagian besar masyarakat Desa Kali Padang hidup dengan bekerja pada sektor pertanian. Fenomena ekonomi memberikan isyarat terjadinya isu-isu dan masalah pertanian di Desa Kali Padang secara besar baik vertikal maupun horizontal. Dengan menurunnya tingkat produktifitas, luas area lahan pertanian yang secara tidak langsung menurunkan tingkat produksi pertanian. 
Diketahui sektor pertanian di Desa Kali Padang sebagian besar ditopang oleh sektor perkebunan tanaman pangan, dimana sektor tanaman pangan yang menjadi prioritas karena termasuk dalam kategori kebutuhan primer, maka tidak heran bila setiap desa khususnya Desa Kali Padang setiap tahun berupaya untuk memaksimalkan sektor ini. Namun, faktanya banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan bertani serta banyak isu tentang pertanian. Pertumbuhan ekonomi suatu desa dapat terlihat dari pembangunan yang dilakukan. 
Pembangunan nasional merupakan sebuah upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan tidak dapat dilaksanakan oleh satu pihak, melainkan perlu adanya dukungan dari berbagai pihak terkait. Semuanya  perlu adanya kerja sama antara pihak pemerintah dengan pemerintah daerah. Pemerintah harus mengetahui pembangunan yang ada seperti pembangunan yang ada di tingkat pedesaan belum maksimal maka pemerintah pusat wajib melakukan koreksi terhadap kinerja yang telah dilakukan selama ini. Pembangunan di tingkat daerah dapat berjalan dengan baik apabila mendapat dukungan dari pemerintah pusat.
Sebagian masyarakat khususnya generasi  muda bangsa yang bergeser orientasinya dengan tidak lagi tertarik menjadi petani. mereka menganggap petani tidak membawa hasil yang menjanjikan  dan keuntungan yang diperoleh sedikit bahkan rugi.
Terkait dengan tenaga penyuluh yang terbatas jumlahnya. Tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap intensitas penyuluhan dan pendampingan kepada petani terkait dengan beberapa perkembangan teknologi dan cara-cara update dalam peningkatan pproduktifitas hasil pertanian di Desa Kali Padang.
Terkait dengan masalah pupuk termasuk sistem distribusinya, hal yang menonjol disini pupuk yang dibutuhkan petani tidak tepat waktu dan tepat jumlah. Dari beberapa laporan kelompok tani dan petani secara pribadi, penggarap sesuai dengan hasil dialog kami dari beberapa responden. Disampaikan bahwa masalah distribusi pupuk tidak lancar dan terlambat saat diperlukan oleh petani  serta harga bervariasi dan lebih cenderung lebih mahal. disamping itu beberapa daerah, pupuk tidak disalurkan kepada daerah tersebut sesuai lokasi peruntukannya melainkan ditimbun dan dialihkan  guna untuk mencari keuntungan yang lebih besar dari penjualan pupuk tersebut.
Terkait dengan alsintan. Keberadaan alsintan yang masih terbatas dan belum memenuhi kebutuhan petani juga menjadi faktor penghambat dalam proses pengolahan dan pemanenan.
                                                 













BAB V
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
            Dari hasil pengamatan yang telah penulis lakukan untuk daerah Desa Kali Padang maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.    Karatekrisitik petani di Desa Kali Padang berbeda-beda dalam mengelolah pertanian di lihat dari umur, pendidikan petani, pekerjaan di luar usaha tani, serta kondisi ekonomi dan luas lahan yang dimiliki petani.
b.    Penerimaan keluarga petani di Desa Kali Padang didapat dari hasil berkebun, berternak, perikanan dan sektor hutan. Dan ada pemasukan dari kerja sampingan bagi petani yang mempunyai kerja sampingan seperti berdagang, bengkel, bangunan, serta buruh.
c.    Pengeluaran keluarga petani di Desa Kali Padang biaya digunakan untuk segala keperluan petani mengenai komponen pendukung produksi pertanian maupun non pertanian yang berbentuk logistik dan dan biaya-biaya lainnya.
d.   Pendapatan keluarga petani di Desa Kali Padang untuk sektor pertanian didapat dari pemasukan mereka berkebun, berternak maupun perikanan. Sedangkan untuk sektor non pertanian didapatkan dari kerja swasta, bedagang, bengkel, serta buruh
e.    Kelembagaan yang dipakai masyarakat Desa Kali Padang untuk saat ini kurang berjalan sebagai wadah organisasi (dalam arti kurang berkembang), dikarenakan kurangnya niat para petani masyarakat Desa Kali Padang untuk mengertikan dari tujuan kelembagaan tersebut.

6.3 Saran
            Kebanyakan pada saat ini disetiap desa/kelurahan kurang diperhatikan pemerintah untuk mengembangkan masyarakat tani sehingga terjadi kesalahpahaman antara pemerintah dengan para petani dalam pengembang pertanian di desa/kelurahn tersebut. Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal-hal tersbut haruslah diadakan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat petani agar perkembangan pertanian di Indonesia berjalan dengan baik. 





DAFTAR PUSTAKA

Dr. Pantjar Simatupang, Pusat Agro-Ekonomi (PAE), Departemen Pertanian Republik
Leibo, J. (Penyunting). 1986. Sosiologi Pedesaan. Andi Offest, Yogyakarta.
Makalah diskusi panel "Pembaruan Agraria", Departemen Pertanian, Hotel Salak, Bogor, 11 September 2002.
Profil Kependudukan Desa Kali Padang Tahun 2017
Soekanto,S. 1997. Sosiologi Suatu Pengantar. Ed.4 Cet. Ke-24. CV Rajawali, Jakarta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA. 2012 (cet. 15)











                                                 














Tabulasi Pengamatan
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...