animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Senin, 24 Desember 2018

Laporan Praktikum Agroklimatologi Acara VI : Keawanan


LAPORAN PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI
ACARA VI : KEAWANAN









Nama               : Anggi Kusumah
NPM               : E1D017102
Shift                : Kamis, 08.00-09.40 WIB
Co-Ass            : 1. Prayogi Dhuha Brahmanto
                              (E1F015011)
                          2. Inggri Dayana
                              (E1F016005)




LABORATORIUM ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Awan merupakan penghalang pancaran sinar matahari ke bumi. Jika suatu daerah terjadi awan (mendung) maka panas yang diterima bumi relatif sedikit, hal ini disebabkan sinar matahari tertutup oleh awan dan kemampuan awan menyerap panas matahari. Permukaan daratan lebih cepat menerima panas dan cepat pula melepaskan panas, sedangkan permukaan lautan lebih lambat menerima panas dan lambat pula melepaskan panas. Apabila udara pada siang hari diselimuti oleh awan, maka temperatur udara pada malam hari akan semakin dingin.
Jika suhu udara turun hingga di bawah titik embun maka udara tidak mampu menampung uap air keluar sebagai titik air dan atau es.Jadi pengembunan sangat ditentukan oleh RH dan suhu. Jika RH tinggi diperlukan sedikit penurunan suhu hingga terjadi penurunan suhu hingga terjadi pengembunan, sebaliknya RH rendah diperlukan banyak penurunan suhu udara untuk terjadinya pengembunan.
Berubahnya pasokan air bagi tanaman yg disebabkan oleh berubahnya kondisi hujan tentu saja akan mempengaruhi siklus pertumbuhan tanaman. Itu merupakan contoh global pengaruh ikliim terhadap tanaman. Di indonesia sendiri akibat dari perubahan iklim, yaitu timbulnya fenomena El Nino dan La Nina. Fenomena perubahan iklim ini menyebabkan  menurunnya produksi kelapa sawit. Selain itu produksi padi juga menurun akibat dari kekeringan yang berkepanjangan atau terendam banjir. Akan tetapi pada saat fenomena La Nina produksi padi malah meningkat untuk masa tanam musim ke dua. Selain hujan, ternyata suhu juga bisa menentukkan jenis- jenis tanaman yg hidup di daerah- daerah tertentu.
Awan ialah gumpulan uap air  yang terapung di atmosfera. Ia kelihatan seperti asap berwarna putih atau kelabu di langit.  Awan adalah kumpulan titik air atau kristal es di udara yang terjadi karena kondensasi uap air di udara yang melebih titik jenuh. Terbentuknya awan dikarenakan udara yang banyak mengandung uap air mengalami proses pendinginan sehingga mencapai titik embun. 
Proses pendinginan terjadi karena udara terdorong ke atas sampai atmosfir, dimana suhunya lebih rendah dibandingkan permukaan.  Seiring dengan kenaikan udara panas di ketinggian, tekanan udarapun berkurang.  Kondisi ini menyebabkan udara yang mengandung uap air menyebar dan mengalami pendinginan.  
Dan pada saat mencapai titik embun, udara menyatu dengan uap air.  Seluruh uap air yang terkondensasi dalam udara tersebut membeku dan membentuk embun sehingga terlibat sebagai butiran-butiran awan.
Apabila awan telah terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarikan bumi menariknya ke bawah. Hinggalah sampai satu peringkat titik-titk itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan.

1.2.    Tujuan
1.              Untuk megetahui macam – macam bentuk awan.
2.              Untuk memberikan pengertian tentang kemungkinan terjadinya hujan dengan melihat kondisi cuaca beberapa waktu sebelumnya.























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
           
Awan adalah akumulasi dari titik-titik uap air di atmosfer. Macam-macam awan adalah cirruc (Ci), yaitu awan halus, berstruktur serat dan berbentuk seperti bulu burung, awan ini tidak mungkin menimbulkan hujan. Cirro-stratus (Ci-St), yaitu awan yang bentuknya seperti kelambu halus dan rata, menutupi langit tinggi, sehingga tampak cerah dan kadang seperti anyaman yang tidak teratur, biasanya ada di musim kering. Cirro-culumus (Ci-Cu), yaitu awan yang terputus-putus dan penuh dengan kristal es, sehingga bentuknya seperti segerombolan domba dan sering menimbulkan bayangan. Alto stratus (A-St), yaitu awan luas dan tebal, berwarna kelabu, jika menutupi matahari/bulan maka awan yang menutupi akan tampak terang. Alto culumus (A-Cu), yaitu awan kecil-kecil tetapi banyak dan sering bergandengan. Nimbo-Stratus (Ni-St), yaitu awan yang bentuknya tidak menentu, tepinya compang-camping dan tidak beraturan, menimbulkan hujan gerimis. Strato culumus (St-Cu), yaitu awan yang bentuknya seperti bola-bola yang menutupi langit dan kelihatan seperti gelombang laut, awan ini tipis dan tidak mendatangkan hujan. Culumus (Cu), yaitu awan tebal dengan puncak-puncak yang tinggi, terbentuk pada siang hari karena udara yang baik. Jika terkena matahari akan tampak terang dan apabila mendapatkan sinar saja akan tampak bayangan. Stratus (St), 12 yaitu awan yang rendah dan luas pada ketinggian di bawah 1000 meter. Antara kabut dan awan stratus pada dasarnya tidak terdapat perbedaan. Cumulo-nimbus (Cu-Ni), yaitu awan yang tebal yang dapat menghasilkan hujan dan guntur yang besar (Hendro 2008).
Awan merupakan sekumpulan titik air atau es yang melayang-layang di udara, yang terbentuk dari hasil proses kondensasi. Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini meluap menjadi titik-titik air, maka terbentuklah awan. Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan factor penentu serta factor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya)seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteriautama (Lakitan 2012).
Awan adalah kumpulan butir butir air, kristal es atau gabungan antarakeduanya yang masih melekat pada inti-inti kondensasi, yang melayang diatmosfer. Bentuk awan di bagi 4 kelompok utama yaitu awan tinggi, awansedang, awan rendah dan awan vertikal. Awan tinggi, dengan ketinggian 6-12km jenis awannya sirus, sirokumulus dan sirostratus. Awan sedang denganketinggian 2-6 km jenis awannya altokumulus dan altostratus. Awan rendahdengan ketinggian 0.8-2 km, jenis awannya yaitu stratokumulus, stratus,nimbostratus. Awan vertikal ketinggian kurang dari 2 km yaitu awan kumulusdan kumulonimbus (Samadi 2010).
Dalam pengertian yang lain awan merupakan titik titik air yang melayang layang tinggi di atmosfer. Penyebab terjadinya awan :
1.             Jumlah inti-inti kondensasi pada ruang basah yang cukup banyak
2.             Terjadinya peningkatan kelembaban relatif dengan disertai banyak inti - inti kondensasi atau sublimasi.
3.             Akibat terjadinya pendinginan (Anita, 2009)

Pembagian awan menurut bentuknya:
1.             Cumulus, yaitu awan yang bentuknya bergumpal-gumpal dan dasarnya horizontal.
2.             Stratus, yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehingga menutupi langit secara merata.
3.             Cirrus, yaitu awan yang berbentuk halus dan berserat seperti bulu ayam. Awan ini tidak dapat menimbulkan hujan (Aris, 2011).
Awan terbentuk akibat dari penguapan, akan tetapi tidak semua awan yang terbentuk akan menjadi hujan. Awan dapat menjadi lebih besar dan tebal. Tetapi sebaliknya ada awan yang mengecil dan musnah setelah beberapa waktu (Muin, 2014).
Sinar matahari yang mencapai atrnosfir sebagian akan direfleksikan dan diabsorbsi oleh atmosfir itu sendiri, oleh awan dan panikel padat yang ada diatmosfir, vegetasi serta permukaan bumi. Awan memegang peran penting di sini karena merefleksikan cahaya terbanyak, namun begitu refleksi dan pemencaran sinar matahari oleh permukaan bumi juga penting. Pada saat mendung, banyak dari radiasi ini yang ditahan oleh lapisan atmosfir sehingga bumi tetap hangat. Suhu malam di permukaan bumi juga relatif sejuk karena efek pemanasan radiasi di lapisan awan ini (Ariwulan, 2012).
Pembentukan dan keberadaan awan tidak menjamin bahwa hujan akan terjadi. Adalah biasa kalau suatu lapisan awan telah ada selama beberapa hari tanpa adanya hujan. Butir-butir awan yang kecil tetap terapung dalam udara yang naik dimana butir-butir tersebut terbentuk. Tetapi dalam keadaan yang lain, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk terbentuknya awan dan mulainya turunnya hujan yang lebat (Trewartha dan Horn, 2011)
Pada umumnya awan terdiri dari butir-butir air cair yang berukuran sedemikian kecil sehingga tidak jatuh. Namun apabila awan tersebut mencapai suatu ketinggian dimana temperatur udaranya jauh dibawah 0 C maka butir-butir air tersebut menjadi butir-butir es (kristal). Awan itu sendiri tidak memberitahu kita terlalu banyak. (Wisnubroto, 2013)

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1     Alat dan Bahan
Tabel data pengamatan, Alat tulis, Data jenis awan dan deskripsi awan.

2.1     Cara Kerja
1.             Mengamati keadaan keawanan sejak pagi hari mulai matahari terbit hingga hampir terbenam.
2.             Mengamati awan tersebut setiap dua jam
3.             Pengamatan dilakukan secara individu
4.             Apabila terjadi hujan, diperkirakan berapa luas dan lamanya
3.      Mencatat hasil yang didapat di buku kerja atau laporan sementara.






















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1         Hasil
Waktu
Simbol
Klasifikasi
Deskripsi
Nama Awan
Foto
6 – 8
Description: Hasil gambar untuk diagram pie 3/8
3/8
Awan padat dengan garis tajam berwarna putih cerah
Cumulus
Description: Hasil gambar untuk foto awan pagi hari
8 – 10
Description: Gambar terkait
2/8
Berwarna putih dengan serat atau filament halus dan kemilau sutra
Cirrus
10 – 12

Description: Hasil gambar untuk diagram pie 6/8
6/8
Awan berat padat yang berbentuk vertical menyerupai sebuah gunung atau menara besar, pada bagian bawah sering terlihat lebih gelap
Cumulonimbus
12 – 14
Description: Hasil gambar untuk diagram pie 1/8
1/8
Berwarna putih dengan serat atau filament halus dan kemilau sutra
Cirrus
14 – 16
Description: Hasil gambar untuk diagram pie 1/8
8/8
Awan tipis berwarna abu-abu, berbentuk lembaran berserat menutupi langit secara total atau sebagian
Altostratus
16 - 18
7/8
Awan padat dengan garis tajam, sisi gelap secara horizontal
Cumulus
Description: Gambar terkait

1.2         Pembahasan
Akibat dari adanya penguapan atau kondensasi maka akan mengakibatkan pembentukan butir butir air atau kristal es yang akan membentuk awan. Ada juga yang mengatakan bahwa awan adalah titik titik air yang melayang layang tinggi di atmosfer. Jumlah inti-inti kondensasi pada ruang basah yang cukup banyak, terjadinya peningkatan kelembaban relatif dengan disertai banyak inti - inti kondensasi atau sublimasi, akibat terjadinya pendinginan. Dan awan terbentuk jika uap air sudah jenuh akibat dari kondensasi, dan pembentukan awan melalui proses dinamik dan proses mikrofisik.
Posisi awan di atmosfer tidak tetap seiring dengan adanya perputaran bumi dan pergerkan angin, posisi awan dipengaruhi dan dikendalikan oleh arah angin. Pembentukan awan dipengaruhi oleh radiasi matahari dan juga jumlah air yang ada dipermukaan bumi, semakin banyak pair dipermukaan maka sumber untuk penguapan akan semakin banyak dan awan yang terbentuk akan semakin banyak, jika radiasi matahari tidak banyak maka awan yang terbentuk tidak akan banyak. Oleh sebab itu angin sangat berperan aktip untuk menentukan apakah akan terjadi hujan atau tidak, sebab awan dikatakan akan hujan bila awan membentuk gumpalan-gumpalan besar yang disusun atau yang dipertemukan oleh angin dari awan yang satu dengan awan yang lain. 

Perlu diketahui bahwa Penyebaran awan biasanya identik dengan penyebaran hujan yaitu kawasan yang tinggi terjadi di ekuator karena merupakan wilayah konvergensi udara dan kuatnya radiasi surya dan terendah di wilayah subtropika sekitar 20o -30lintang bumi karena merupakan wilayah disvergensi. Keawanan maksimum biasanya siang hingga sore hari minimum malam hari ketika udara stabil. Keawanan ini terjadi pada pagi hari ketika kabut naik yang banyak terjadi di daerah yang lembab dan danau. Keawanan  terbesar terdapat diwilayah sekitar lintang  60o lintang bumi (lintang pertengahan) karena wilayah ini merupakn pertemuan massa udara yang hangat dan lembab dari lintang rendah dengan massa udara dingin dari wilayah kutub.
Awan memiliki sepuluh jenis mulai dari ketinggian yang rendah sampai yang benar benar tinggi. Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan sebanyak enam kali. Pada jam 06.00 – 08.00 ditemukan awan Cumulus dengan kodifikasi 3/8 yang ciri-cirinya awan padat dengan garis tajam berwarna putih cerah. Pada jam 08.00 - 10.00 kodifikasi 2/8 ditemukan awan cirrus dengan ciri-ciri Langit tertutup awan letaknya di atmosfer tinggi, warnanya putih atau sebagian besar berwarna putih seperti sutra tipis, dan bergaris-garis. Selanjutnya jam 10.00 – 12.00 kodifikasi 6/8 ditemukan awan cumulonimbus dengan ciri-ciri  awan berat padat yang berbentuk vertical menyerupai sebuah gunung atau menara besar, pada bagian bawah sering terlihat lebih gelap. Pada jam 12.00 – 14.00 kodifikasi 1/8 ditemukan awan cirrus dengan ciri-ciri Langit tertutup awan letaknya di atmosfer tinggi, warnanya putih atau sebagian besar berwarna putih seperti sutra tipis, dan bergaris-garis. Pada jam 14.00 – 16.00 kodifikasi 8/8 ditemukan awan altostratus dengan ciri-ciri awan tipis berwarna abu-abu, berbentuk lembaran berserat menutupi langit secara total atau sebagian. Dan jam 16.00-18.00 ditemukan awan cumulus dengan kodifikasi 7/8 dengan ciri-ciri Langit tertutup awan letak ketinggiannya sedang, Warna awannya keabu-abuan, tipis, dan mengandung air hujan. Sedangkan pada jam 12.00-14.00 ditemukan awan nimbustratus dengan kodifikasi 4/8 yang ciri-cirinya awan padat dengan garis tajam berwarna putih cerah









BAB V
KESIMPULAN

Macam-macam awan terdiri dari 3 bentuk utama yaitu cirrus, stratus dan kumulus. Bentuk awan yang lebih spesifik terdiri dari sepuluh bentuk yaitu: Status, kumulus, stratokumulus, kumulunimbus, nimbusstratus, altstratus, altokumulus, sirus, sirostratus dan sirokumulus. Dan awan dibedakan lagi berdasarkan ketinggiannya yaitu: awan rendah, awan sedang, awan tinggi dan awan dengan susunan Horizontal.
Kemungkinan terjadinya hujan jika hari cerah dan penguapan serta kondensasi tinggi dapat menyebabkan pembentukan awan yang cepat, awan yang kemungkinan dapat menurunkan hujan jika berwarna gelap karena kandungan air yang sudah besar, jenis awan yang biasanya menimbulkan hujan adalah awan stratus, awan kumulus dan lain-lain.























DAFTAR PUSTAKA

Anita, 2009. Proses Pembentukan Awan. http://ilmuklimat.com/2009/12/01/proses-pembentukan-awan/. 24 Oktober 2018
Aris, 2011. Awan dan Jenis Jenisnya. https://arisudev.com/2011/12/19/awan-dan-jenis-jenisnya/. 24 Oktober 2018
Ariwulan, 2012.Proses Pembentukan Awan. (online). http://ilmuklimat.com/2009/12/01/proses-pembentukan-awan/. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2018.
Daldjuni.2011. Pokok- Pokok Klimatologi. Bandung : Penerbit Alumni.
Handoko.2014. Klimatologi Dasar. Bogor : Institut Pertanian Bogor
Lakitan, Benyamin. 2012.Dasar-Dasar Klimatologi. Cetakan Ke-dua. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Nur Muin, S. 2013. Penuntun Praktikum Agroklimatologi.Laboratorium Agroklimat Fakultas Pertanian. UNIB. Bengkulu.
Samadi. 2010.Geography For Senior High School Year X . Semarang: Yudhistira.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...