animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Senin, 24 Desember 2018

Cerpen "Hari Lahirku Hari Matiku"


HARI LAHIRKU HARI MATIKU

Aku terlahir dengan paras cantik, keluarga yang serba kecukupan, dan pandai. sampai suatu saat kejadian pahit yang tak mampu dibayangkan menimpaku. kejadian naas saat itu merenggut kebahagiaan ku. laju truk yang bagaikan angin itu menghantam mobil ayah ku. setelah koma selama setahun. beruntung nyawa ayah masih terselamatkan. ayah sadar dari komanya meski aku harus menerima kenyataan bahwa ayah kehilangan indra pendengarannya dan akibat kerusakan sarafnya ayah seperti orang yang tak berakal.

Untuk membiayai pengobatan ayah selama setahun, biaya hidup kami, belum lagi perusahaan yang terbengkalai, akhirnya perusahaan kami terpaksa gulung tikar. Roda pun berputar posisi kami sekarang di bawah. kini, aku tak sanggup lagi membeli barangbarang mewah. Jangankan barang mewah, barang murah pun tak sanggup aku meliriknya.

Pagi itu, waktu nya untuk ku berangkat ke sekolah. sebelum berangkat sekolah seperti biasa kami sarapan terlebih dulu karena ayah dan ibu tak mempunyai banyak uang untuk memberi ku ongkos. ibu membagikan  mie menu kami pagi ini. “ko mie lagi? ibuuuu, aku bosan. kapan kita makan enak lagi seperti dulu bu? Adikku berbicara dengan nada yang lirih sambil menangis. ibu hanya terdiam. tiba-tiba beranjak dari meja makan dan berlari ke kamar. aku menghampirinya, terdengar suara ibu menangis tersedu-sedu meluapkan kesedihannya.  tak sanggup aku menahan kepedihanku air mata ku pun mengalir dengan derasnya. “ibuuu, jangan menangis bu, kita harus kuat. ini cobaan dari allah” sahut ku mencoba menenangkan ibu. “ibu gak kuat nak, ibu gak kuat cobaan ini terlalu beraat ibu gak sanggup lebih baik ibu mati” jawab ibuku. “astaghfirullah bu, istighfar bu kalo ibu gaada aku sama siapa bu? Siapa yang rawat ayah” sahut ku. “cepat pergi sekolah, nanti terlambat gak usah mikirin ibu. Sana pergi”   usir ibuku. aku pun pergi ke sekolah meski air mata ku tak hentinya mengalir merasakan pedihnya takdir ku ini.

Waktu menunjukkan pukul 3.00 sore waktunya aku pulang kerumah. Kejadian tadi pagi masih terngiang diingatanku. Kata kata ibu terus terdengar ditelingaku .

Setibanya dirumah, kaget bukan kepalang. Begitu banyak orang berkerumun di gubuk ku. Aku bertanya-tanya apa gerangan yang membuat mereka berkumpul di rumah ku. Rasa  penasaran bercampur rasa takut menghantui perasaan ku. Namun apalah daya ku beranikan diri mencari tahu kebenaran. Meskipun ragu Kulangkah kan kaki ku masuk kedalam rumah. Bukan main kaget nya aku ketika melihat adik ku tergeletak tak sadarkan diri, busa putih memenuhi mulut nya. Sedangkan ibu, tak kusangka ibu nekad mengakhiri hidupnya dengan seutas tali setelah meminumkan racun tikus kepada adik ku. Badannya tergantung lemas tak bernyawa. Hati ku tercabik-cabik lebih perih dari luka yang terkena air garam. Teganya ibu melakukan ini pada ku. Tak kusangka satu satunya orang tempat ku mengadu kini telah tiada , aku berharap ini hanya mimpi buruk. Mimpi buruk yang segera usai . Ingin ku terbangun dari mimpi buruk ini , namun tak sanggup ku menolak inilah kenyataan takdir pahit ku. Kesal, kecewa, sedih, marah, gundah, semua bercampur aduk. Disamping mayat adikku tergeletak sepucut surat. Pesan terakhir ibu sebelum mengakhiri hidupnya

Anak ku tersayang, maafin ibu. Ibu udah gak bisa dampingin kamu tumbuh dewasa. Ibu udah gak kuat nak hidup seperti ini. hidup kita sekarang gak ada bedanya sama neraka. lebih baik ibu pergi. Ibu gak sanggup nanggung kepedihan hidup kita. Ibu juga ajak adik mu ikut ibu. Jangan ikut ibu ya nak, jaga diri baik-baik. Jaga ayah .maafin ibu. ibu harap kamu bahagia .

Air mata ku mengalir dengan derasnya. Tak sanggup sungguh tak sanggup ku menerima nya. Tubuh ku lemas tak kuasa menopang berat badan ku. bagaikan ditimpa batu seberat 10 ton. Ibu ibu ibu berkali kali ku meneriakkan namanya. Ibu tetap tak kunjung sadar. Teganya ibu meninggalkan ku. Meninggalkan ku bersama pria tua tak berguna ini.  Kulimpahkan semua kekesalan ku kepada ayah. Seolah-olah dialah penyebab semua kepahitan ini.

Sejak kematian ibu, sikap ku terhadap ayah memburuk. Bahkan sebutan anak durhaka pantas untukku. Kondisi ayah membaik meskipun ia masih telihat seperti orang setengah berakal. Hari demi hari kujalani .

Pernah suatu hari, ditengah perjalanan pulang sekolah. Kulihat ayah sedang dipermainkan oleh sekumpulan anak-anak kecil. Kulihat brosur tercecer ditanah. Ternyata ayah mencoba untuk mencari uang dengan membagikan brosur iklan tempat les. Mereka meneriaki ayah ku orang gila. Memang itu tidak sepenuh nya salah ayah memang terlihat seperti orang gila. Tetapi hatiku sedih melihat nya. Pantaskah mereka menghina kami? Apakah kami ingin memiliki takdir seperti ini? Tidak! Tak ada seorang pun yang menginginkan takdir ini. Jika aku boleh memilih, aku pasti akan memilih menjadi orang kaya selama hidup ku. Mendapatkan kebahagiaan. Hidup dengan layak. Tapi allah berkehendak lain, inilah ketentuan yang ia berikan . Hidup seperti binatang
penuh caci maki dan kesedihan.

Dengan tatapan tajam aku lantangkan kalimat kepada anak-anak itu  "tahu apa kaliaan? Ha? Tahu apa tentang hidup kami? Seenaknya mencaci kami. Hidup kami baik-baik saja sebelum ayah ku kecelakaan. Nyawa kalian pun mampu aku beli!!"

"Orang gila! Baju aja compang camping mau beli nyawa" celetuk salah seorang anak sambil melempar uang seribu lecek kewajah ku. "Jangan-jangan uang seribu pun kaka tak pernah megang hahahahahaa" lanjutnya. Habis sudah kesabaran ku. Dengan penuh emosi Kudorong badan kecil nya hingga tersungkur ke tanah. Seketika ia dan temannya terdiam. kutatap wajahnya dengan mata penuh kebencian. Kuteriakkan kepada mereka "PERGI !!!! Cepat PERGIIII atau kubunuh kalian!" Mereka semua menangis dan lari terbirit birit meninggalkan ku dan ayah ku.
Kami pun berjalan pulang, didepan pintu rumah kutatap ayah. Aku begitu jijik melihat penampilannya. Pantas lah mereka semua mengejek dan menghina ayah. Seketika aku lemparkan brosur-brosur yang ada di tangan ayah. Brosur itu berhamburan ditanah. Aku memaki ayah ku habis-habisan aku berkata pada nya "buat apa ayah lakukan itu? Buat apaaa? Apa aku suruh ayah bekerja? Apa iya? Engga kan yah? Apa gak cukup ayah bikin aku malu setiap hari apa gak cukup yaaah?" Teriakku kepada ayah. Tak puas meneriaki nya aku pun menarik baju ayah yang compang camping hingga ia tersungkur ketanah seraya berkata "inilah kenapa mereka memaki ayaah, ayah dekil kumuh pakai baju pun compang-camping pantaslah mereka mengejek ayah. Ayah memang pantas diejek. Ayah itu emang gilaa!!" Kutendang brosur yang berhamburan ditanah kubanting pintu lalu masuk kedalam kamar . Air mata ku kembali mengalir. tak henti-henti nya aku menangis. Bertambah perihnya ketika aku ingat kondisi ayah sebelum kecelakaan. Memakai jas, mengendarai mobil mewah, begitu dihormati begitu disegani oleh orang-orang. Hanya dengan setoreh tanda tangan pun ratusan juta rupiah masuk kekantong ayah. Berbanding terbalik dengan keadaan kami sekarang.

Sekian lama kurenungi nasib. Tiba-tiba Teringat oleh ku bahwa hari ini adalah hari ulang tahun ku. Apalah pentingnya hari ulang tahun bagi ku. Toh tidak ada orang yang akan mengucapkan selamat ulang tahun lagi kepada ku. Tidak ada hadiah, dan tidak ada kata bahagia untuk ku. Sejak kecelakaan ayah, hidupku berubah drastis sepertinya senyum sangat takut menghampiriku.

Tok tok tok terdengar suara orang mengetuk pintu dengan keras nya. Cepat-cepat aku berjalan membukakan pintu, plakkk! betapa kagetnya aku seorang ibu-ibu tiba-tiba menampar pipiku. Belum kering air mata dipipiku kini tamparan sudah menyambahnya. Ya Tuhaan apalagi ini. Cobaan tiada hentinya . Orang itu mencaci ku seenaknya seraya  berkata "orang miskin gak tau diri! Sudah miskin belaga kaya! Gak punya kaca? Oh ya makan saja susah mana punya uang untuk beli kaca! Beraninya bikin anak saya nangis. Ayah kamu itu emang gila. Ya terima aja gak usah belaga mau beli nyawa anak saya! Kamu itu sampah! Sampah masyarakat yang pantas dicaci" dia meludahi ku dan lalu pergi. Tak sanggup ku berkata apa-apa. Aku hanya terdiam. Tak percaya apa yang baru saja aku alami. Sebegitu hina nya kah diriku? Aku sungguh tak memahami hidup ini .

Menangis, menangis, menangis aku lelah dengan hal itu. Baru kusadari bahwa ayah ternyata tak ada dirumah. Kemana dia pergi? Aku cemas. Cemas karna ku peduli? Tidak! Aku hanya takut dia membuat masalah lagi dan menghadiahkan ku sebuah tamparan lagi. Aku pun bergegas mencari nya. Kesana kesini tak kunjung kutemui. Hingga diperempatan jalan kulihat banyak kerumunan. Rasa penasaran membawa ku menghampiri kerumunan itu, tiba-tiba hatiku gelisah entah mengapa.


Tak berhenti ditamparan, penderitaan ku masih berlanjut. Kulihat ayah tergeletak tak bernyawa. Tubuhnya berlumuran darah. Kecelakaan yang kedua kalinya berhasil merenggut nyawanya. Keluarga ku satu-satu nya pergi meninggalkan ku. Kulihat tangan ayah memegang sebuah perekam suara. Aku bertanya-tanya mengapa ayah memegang benda itu. Kuputar rekaman suara itu lalu terdengar suara ayah berkata "nak, ayah merekam ini. selamat ulang tahun nak. Ayah baik-baik saja, ayah baik-baik saja. Selamaayah memiliki mu nak. Maafkan ayah. selama ayah memilikimu ayah baik-baik saja. Ayah tidak sempurna tetapi ayah memiliki cinta yang sempurna untuk mu" tiiiiiiiiiinn tiba-tiba suara klakson berbunyi. Terlintas dipikiran ku ayah meninggal karena ku, hanya untuk membelikan anak durhaka nya ini sebuah perekam suara ayah bahkan tidak memperhatikan jalan yang dilalui nya. Penyesalan yang mendalam melintasi perasaan ku. Bahkan dihari ulang tahun ku pun ayah meninggalkan ku untuk selamanya.

Tak ada lagi alasan ku untuk melanjutkan hidup ini. Terlalu pahit terlalu pedih takdir yang harus ku jalani, satu per satu orang yang kusayangi meninggalkan ku. Satu per satu kebahagiaan mencampakkan ku. Kepedihan tiada henti datang mengeroyokku. Tak ada lagi harapan, hanya keputus asaan. Dihari kelahiran ku pun tuhan tega mengambil ayah ku. Bagiku tuhan begitu kejam. Akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri hidup ku. Aku berjalan dan terus berjalan hingga kutemukan sungai yang mengalir dengan derasnya. Aliran yang menggambarkan deras nya air mata ku. Aku meloncat ke dalam sungai. berharap, kepedihan yang ku alami. hilang bersama ragaku yang terbawa derasnya aliran sungai .



1 komentar:

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...