animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Rabu, 14 Agustus 2019

Laporan Praktikum Agroklimatologi Acara IX : Klasifikasi Iklim


LAPORAN PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI
ACARA IX : KLASIFIKASI IKLIM










Nama               : Anggi Kusumah
NPM               : E1D017102
Shift                : Kamis, 08.00-09.40 WIB
Co-Ass            : 1. Prayogi Dhuha Brahmanto
                              (E1F015011)
                          2. Inggri Dayana
                              (E1F016005)




LABORATORIUM ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Iklim adalah integrasi secara umum dari kondisi cuaca yang mencakup periode waktu tertentu pada suatu wilayah sedangkan cuaca menggambarkan kondisi atmosfir pada suatu saat. Kondisi cuaca ataupun iklim ini dicirikan oleh unsur-unsur atau komponen atau parameter cuaca atau iklim antara lain suhu, angin, kelembaban, penguapan, curah hujan serta lama dan intensitas penyinaran matahari. Kondisi dari unsur-unsur tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tinggi tempat, lintang tempat dan posisi matahari. 
Berdasarkan hal diatas, maka kondisi iklim di setiap daerah tidak sama dan oleh karena itu terdapat penggolongan iklim yang sering disebut dengan istilah klasifikasi iklim. Ada beberapa klasifikasi iklim yang dikenal, seperti iklim menurut Koppen, Thornthwaite (merupakan klasifikasi iklim yang meliputi skala dunia), serta Mohr, Schmidth Ferguson dan Oldeman (merupakan klasifikasi iklim di Indonesia). Klasifikasi iklim ini seringkali dinyatakan sebagai tipe hujan, karena data yang dianalisisnya adalah data curah hujan. Untuk penentuan klasifikasi ini telah disepakati datanya harus tersedia paling sedikit 10 tahun yang diperoleh dari satu stasiun klimatologi atau hasil rata-rata dari beberapa stasiun yang tercakup di daerah yang akan ditentukan tipe iklimnya. Data yang dikumpulkan adalah data curah hujan bulanan.
Iklim merupakan gabungan berbagai cuaca sehari-hari atau rata-rata dari cuaca yang dilakukan selama 30 tahun agar dapat mengetahui penyimpangan pada iklim. Iklim disuatu daerah tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu radiasi matahari, garis lintang, topografi, tekanan udara, permukaan tanah, luas daratan dan lautan. Ada tiga tipe iklim yang digunakan di Indonesia yaitu tipe iklim Mohr, tipe Schmidt-Ferguson dan tipe iklim Oldeman.
Pembagian iklim menurut Mohr didasarkan atas banyaknya bulan basah dan bulan kering. Schmid dan Fergusson mendapatkan bulan basah dan bulan kering dengan cara mencari harga rata-rata curah hujan tiap tahun. Adanya bulan basah dan bulan kering dihitung kemudian dijumlahkan lalu dirata-rata, untuk mengetahui periode kering di suatu daerah Schmid dan Fergusson menghitung nilai Q. Klasifikasi iklim yang dibuat oleh Oldeman menggunakan dasar yaitu bulan basah dan bulan kering yang berturut-turut, semua itu dihubungkan dengan kebutuhan air bagi tanaman basah dan palawija.

Di alam unsur-unsur iklim tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Dengan kata lain perilaku salah satu unsur iklim di suatu wilayah atau tempat merupakan resultante dari bermacam-macam unsure iklimlainya. Meskipun pola perilaku iklim di bumi cukup rumit, tetapi ada kecenderungan bahwa karakteristik dan pola tertentu dari unsure-unsur iklim di berbagai daerah yang letaknya saling berjauhan sekalipun, menunjukkkan perilaku yang serupa apabila faktor utamanya sama. Faktor utama tersebut dapat berupa salah satu unsure iklim (pengendali) atau letak geografisnya.
Keadaan iklim tiap wilayah seperti daerah dinggin, daerah panas, gurun, stepa atau hutan tropis ternyata tersebar di berbagai tempat sehingga membutuhkan suatu system penamaan untuk kelompok-kelompok yang sama tersebut. Sistem penamaan terhadap pokok bahasan dalam setiap cabang ilmu yang mendasarkan pada sifat-sifat yang sama atau persamaannya kita kenal sebagai sistem klasifikasi. Seperti halnya pada cabang ilmu lain misalnya ilmu tanah, botani, dan entomologi dalam membahas formulasi-formulasi kesamaan tentang sifat unsur-unsur iklim di suatu wilayah sehingga dapat dikelompokkan menjadi kelas-kelas iklim. dengan demikian pada hakekatnya kegunaan klasifikasi iklim adalah suatu metode untuk memperoleh efisiensi informasi dalam bentuk yang umum dan sederhana. oleh karena itu analisis statik unsur-unsur iklim dapat dilakukan umtuk menjelaskan dan memberi batas pada tipe-tipe iklim secara kuantitatif, umum dan sederhana.

1.2.    Tujuan
            Menentukan kelas iklim suatu tempat dengan menggunakan cara klasifikasi schmit dan ferguson dan cara klasifikasi oldemann













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
           
            Klasifikasi ini merupakan modifikasi atau perbaikan dari sistem klasifikasi Mohr (Mohr menentukan berdasarkan nilai rata-rata curah hujan bulanan selama periode pengamatan). BB dan BK pada klasifikasi Schmidt-Ferguson ditentukan tahun demi tahun selama periode pengamatan yang kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya. Dimana bulan kering adalah bulan dengan curah hujan < 60mm, bulan lembab yaitu bulan dengan curah hujan antara 60mm-100mm, dan bulan basah adalah bulan dengan curah hujan > 100m (Guslim,2009 ).
Iklim Mohr adalah penggolongan iklim berdasarkan rata-rata pengelompokan jumlah bulan basah dan bulan kering pertahun lalu dirata-rata. Bulan basah yaitu bulan yang jumlah curah hujannya lebih dari 100 mm/bulan, sedangkan bulan kering adalah bulan yang curah hujannya kurang dari 60 mm/tahun (Indiyanti, 2009).
Tipe iklim Schmidt-Ferguson merupakan perbaikan dari tipe iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan basah dan bulan kering atau nilai Q dalam klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan cara membandingkan jumlah bulan kering dengan bulan basah selama pengamatan (Syakur, 2008).
Klasifikasi iklim yang tepat digunakan untuk pemetaan pola tanam pada bidang pertanian adalah klasifikasi iklim menurut Oldeman. Klasifikasi iklim Oldeman memakai unsur curah hujan sebagai dasar penentuan klasifikasi iklimnya. Kriteria dalam klasifikasi iklim didasarkan pada perhitungan bulan basah (BB), bulan lembab (BL) dan bulan kering (BK) dengan batasan memperhatikan peluang hujan, hujan efektif dan kebutuhan air tanaman (Fadholi dan Supriyatin, 2012).
Schmidt-Fergoson membagi tipe-tipe iklim dan jenis vegetasi yang tumbuh di tipe iklim tersebut adalah sebagai berikut; tipe iklim A (sangat basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim B (basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim C (agak basah) jenis vegetasinya adalah hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau, tipe iklim D (sedang) jenis vegetasi adalah hutan musim, tipe iklim E (agak kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim F (kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim G (sangat kering) jenis vegetasinya padang ilalang dan tipe iklim H (ekstrim kering) jenis vegetasinya adalah padang ilalang (Setiawan 2010).


Filter Kalman menggabungkan pendekatan model fisik dan statistik menjadi model stokastik yang dapat diperbarui setiap saat untuk tujuan peramalan segera (on line forecasting). Model prediksi hujan dengan metode Filter Kalman dibangun untuk memenuhi kebutuhan terhadap perencanaan tanam yang selama ini masih bertumpu pada pola hujan setempat dan belum memperhitungkan aspek prediksi. Model disusun berdasarkan pola hubungan antara curah hujan dengan indikator anomali iklim (suhu permukaan laut NiƱo 3.4) yang merupakan salah satu parameter dominan untuk mengetahui munculnya gejala anomali iklim. Hasil validasi model prediksi hujan mingguan dengan metode filter Kalman memperlihatkan nilai koefisien korelasi validasi sebagian besar antara 50-80%. Sedangkan hasil validasi untuk curah hujan bulanan, menunjukkan nilai koefisien korelasi yang lebih tinggi, yang sebagian besar lebih dari 80%.( Estiningtyas et  al, 2008).
Pada dasarnya Oldeman bersama-sama dengan beberapa kawannya melakukan klasifikasi terutama atas dasar curah hujan bhubungannya dengan kebutuhan air tanaman khususnya tanaman panagan semusim yaitu padi dan palawija. Oldeman ama halnya dengan Schmidt dan Ferguson maupun Mohr juga menggunakan istilah bulan basah dan bulan kering dalam penggolongannya. Klasifikasi iklim Oldeman tergolong klasifikasi yang baru di Indonesia dan pada beberapa hal masih mengundang diskusi mengenai batasan atau kriteria yang digunakan. Namun demikian untuk keperluan praktis klasifikasi ini cukup berguna terutama dalam klasifikasi lahan pertanian tanaman pangan di Indonesia. Ia membuat dan menggolongkan tipe-tipe iklim di Indonesia berdasarkan pada kriteria bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering secara berturut-turut ( Dewi ,2008 ).
            Kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm (Tjasyono, 2009).






BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1     Alat dan Bahan
          Data hujan jangka panjang (tahun 2007 – 2009)

3.2     Cara Kerja
1.    Mengumpulkan data hujan dari beberapa stasiun dalam kawasan berdekatan yang mempunyai masa pendapatan tahun 2007 – 2009.
2.    Membuat rataan bulanan masing-masing data tersebut
3.    Mengklasifikasikan data iklim tersebut menurut cara klasifikasi schmit dan ferguson dan cara klasifikasi oldemann
4.    Mengamati hasil dua macam klasifikasi tersebut sama. Jika berbeda dijelaskan mengapa apabila terjadi perbedaan.





















                                                                   BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1         Hasil
Data Curah Hujan Tahun 2007
Tgl
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nov
Des
1
2
-
108
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2
1
-
-
7
25,5
91
-
-
100
-
-
30
3
5
-
21
17,5
2
-
-
-
110
-
-
45
4
2,5
5
-
2
-
14
-
-
16
-
-
29
5
73
28
-
-
1
-
-
-
-
-
48
33
6
4
11
-
-
-
21,5
-
-
-
-
14,5
21
7
5,7
-
-
4,5
-
-
-
-
5,5
-
-
3
8
18
-
11
-
-
32,5
2
-
36
9,5
15
5
9
-
-
-
-
7
-
76
-
-
28
32
20
10
-
-
-
-
14,5
-
-
-
-
-
5
25
11
-
-
10,4
8
-
16
-
-
-
-
2
5,5
12
-
-
1,5
6
-
2
-
-
-
30
8
24
13
14
-
37
-
-
-
-
-
-
-
16
-
14
50,5
-
-
-
60,5
-
-
-
-
10
96,5
10
15
30
2
-
-
2
-
-
-
-
-
2
12
16
20
-
27
-
14
18
-
6
-
9
-
17
17
-
4
-
40,5
-
80
-
8,5
-
-
17,5
20
18
-
21
-
-
4
105
-
-
-
-
-
-
19
-
171,5
-
-
-
23
14,5
-
-
-
-
24
20
-
1,5
6
-
-
28
-
6,5
-
-
40
5
21
13
-
38,5
-
-
-
-
-
-
-
62
17
22
2
-
2,5
25
-
-
17,5
-
-
-
-
15
23
57
-
-
23
-
-
20
-
-
12
-
8
24
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
18
10
25
17,5
-
3
13
-
-
-
-
-
-
24
22
26
1,5
17,5
45
24,5
-
-
-
-
-
-
17
36
27
2
35
-
-
-
-
10
-
-
-
20
42
28
-
98,5
3,5
-
-
-
-
-
-
-
14
35
29
-
-
21
-
-
-
-
-
-
145
-
-
30
-
-
-
1,5
16,5
4,5
-
-
-
-
-
20
31
-
-
-
10,5
1
-
-
-
-
-
-
-
Jmlh
319,7
395
429
183
147
435,5
140
21
267,5
243,5
251,5
533,5
Byk Hjn
19
11
14
13
11
12
6
3
5
7
18
26

Total = 3566,2 mm

Data Curah Hujan Tahun 2008
Tgl
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nov
Des
1
-
76
18,5
-
-
3,5
13
-
-
-
-
21,5
2
-
12,5
20
-
-
-
-
-
40
37
-
22
3
-
10,5
16,5
2
-
4,5
-
-
1,5
-
18,5
7
4
-
2
27,5
8,5
-
11,5
-
-
11,5
-
5
-
5
-
-
-
-
-
1,3
-
-
-
21
30
5
6
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
64
23
7
-
-
-
-
-
-
-
-
3,5
37
30
18
8
-
-
-
3,1
-
-
-
-
2,8
-
39
98
9
-
-
5
-
-
-
-
5
3
4
3,5
5
10
-
14
-
-
-
-
7,5
7,5
8,5
-
-
2,5
11
6
35
40
14
-
-
10,5
-
-
-
2,5
-
12
17
-
26,5
131,5
74
-
-
-
-
-
4
-
13
4
-
22
-
-
-
8
-
-
-
-
8
14
1
-
-
-
-
19
-
-
18,5
4
-
4,5
15
-
-
17
-
-
-
25,5
-
60
7,5
8,5
2
16
-
-
-
-
-
-
1,5
-
15
16
26,5
-
17
31
-
-
99
-
-
-
6,5
-
-
18
4,5
18
-
-
128
-
-
-
-
-
-
-
159
2
19
3
-
52,5
30,7
-
1,5
-
-
-
19
2
-
20
5
-
8
-
-
-
-
18
-
-
3,5
4,5
21
27
2
26
17
-
-
-
-
-
2,8
45,5
6,5
22
-
33
35,5
57
-
-
-
77
-
40
-
7
23
-
16
23
-
-
-
3
-
-
56,5
2
82
24
3
28
14
-
-
-
-
-
-
1,5
4,5
-
25
1
21,5
-
-
-
-
-
4
-
-
20,8
-
26
5
-
-
-
2
-
-
-
-
-
81
46,5
27
17
-
2
-
-
-
6,5
8
-
-
-
35,5
28
-
53,5
3
-
5
-
-
26
-
-
-
27
29
73
2,5
-
26,5
-
-
-
8
-
-
14
38,9
30
2
-
32,5
-
-
-
-
-
-
10
-
24,5
31
6
-
98,5
-
-
-
-
35
-
-
-
27
Jmlh
201
306,6
616
389,3
81
41,3
75,5
195
164,3
157,3
518,8
614,4
Byk Hjn
15
13
20
10
3
6
8
10
10
9
21
25

Total = 3423,4 mm





Data Curah Hujan Tahun 2009
Tgl
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nov
Des
1
 42
-
-
-
-
-
-
-
-
22
-
25
2
30
28
-
-
52
-
2
-
-
-
-
72
3
27
41
-
-
34
-
-
-
-
29
-
-
4
-
29
-
-
12
6
-
-
3
32
-
25
5
-
-
-
-
-
-
-
-
-
39,5
15
26,4
6
17
-
12
-
-
-
-
-
-
-
-
-
7
7,5
-
38
67,5
20,5
21
-
-
37,5
-
-
15
8
-
7,8
35
-
4
65
-
-
-
-
-
65
9
-
-
-
-
2
-
-
-
-
-
-
41
10
-
-
-
6,5
4,5
-
-
-
-
13
3
-
11
-
-
-
40
109
-
67
45
-
10
23,9
62
12
4,5
1
-
32
4,6
-
-
14,5
-
7
-
40
13
7,5
5
21,8
29
3,2
2,5
-
-
-
4
139
52
14
13,7
4,5
-
-
20,5
-
-
-
-
-
4,5
8
15
-
6
-
54
9,5
3
-
15
6
18
3
7
16
18
8,5
24,5
7,4
7
-
24
10
15,5
24
2,8
11
17
-
-
-
-
-
4
-
8,5
18
-
2,5
8
18
-
-
12,5
-
-
-
-
-
-
-
42,5
14
19
-
-
-
2
-
-
-
2
12
-
22,5
24
20
-
-
-
25
-
-
-
-
-
7
24
13
21
24,5
-
-
40
-
-
-
-
-
10
15
18
22
18
2
-
61,5
-
-
-
-
-
-
12
9,5
23
21
3,5
-
-
-
16,3
-
-
-
-
18
5
24
13
5,4
-
-
-
-
-
-
-
8
3
11
25
16
2
33,5
-
-
-
-
-
-
6,5
5
6
26
14,5
1,5
25,5
-
-
-
-
-
-
3
2,5
4
27
28,5
-
20,5
-
-
-
43,5
22,7
-
-
-
82
28
30,5
-
-
-
-
-
-
8,5
-
-
-
10,5
29
52
-
-
-
-
2,5
-
4
8
2
10
69
30
28,5
-
-
4
-
-
-
-
-
12
15
13
31
-
-
40
-
-
-
-
-
-
-
-
8
Jmlh
410,4
145,2
263,3
558,9
282,8
120,3
142,5
131,2
100
147
363,2
177,4
Byk Hjn
19
14
9
12
13
8
4
8
7
17
19
28

Total = 3429,7





Perhitungan
Diketahui:
·      Teori Schmit dan Ferguson


                                          
                                                       Dikatakan BK = <60 mm
                                                       Dikatakan BB = >100 mm

Tipe Iklim
A
<14
B
14 – 33
C
33 – 60
D
60 – 100
E
100 – 170
F
170 – 300
G
300 – 700
H
>700

·      Teori Oldemann

                                                      

                                                            Dikatakan BK = 100 mm
                                                            Dikatakan BB = 200 mm



Tipe Utama (Devisi)
Rata-rata BB
Sub Devisi
Rata-rata BK
A
9
1
< 2
B
7 - 9
2
2 – 3
C
5 – 6
3
3 – 4
D
3 – 4
4
4 - 6
E
3



Penyelesaian:
·      Teori Schmith dan Ferguson


                                                  %

Jadi, tipe iklim berdasarkan data curah hujan tahun 2007 sampai 2009, menurut teori Schmit dan Ferguson adalah tipe iklim A.

·      Teori Oldemann


Jadi, tipe iklim berdasarkan data curah hujan tahun 2007 sampai 2009, menurut teori Oldemann adalah tipe iklim C1.





1.2         Pembahasan
Iklim merupakan keadaan cuaca, yaitu perpaduan interaksi dari berbagai unsur cuaca dalam jangka waktu yang lama. Setiap tempat di belahan bumi memiliki iklim yang berbeda. Hal ini disebabakan adanya perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi iklim di setiap daerah. Kedudukan matahari yang berubah-ubah menjadi faktor utama perbedaan iklim. Sementara itu, radiasi matahari merupakan pemicu utama terbentuknya cuaca atau iklim. Selain kedudukan matahari, perbedaan iklim juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan tempat. 
Cuaca dan iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi. Kompleksitas proses fisik dan dinamis di atmosfer bumi ini akibat dari perputaran planet bumi mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya. Pergerakan planet bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh bumi tidak merata, sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan energi yang berbentuk suatu sistem peredaran udara, selain itu matahari dalam memancarkan energi juga bervariasi atau berfluktuasi dari waktu ke waktu (Winarso, 2003). Iklim terbentuk karena interaksi dari unsur-unsur pembentuk iklim yaitu hujan, suhu, radiasi total dan lama penyinaran matahasi, kelembaban relatif, kecepatan angin, dan evaporasi. Akibat dari perbedaan keadaan atau interaksi unsur-unsur pembentuk inilah sehingga setiap tempat memiliki iklim yang berbeda.
Salah satu faktor yang mempengaruhi distribusi tanaman adalah iklim. Wilayah dengan kondisi iklim tertentu akan didominasi oleh spesies tumbuhan tertentu, yakni yang dapat beradaptasi baik pada kondisi iklim tersebut. Berdasarkan keterkaitan yang erat antara kondisi iklim dengan spesies tumbuhan yang dominan, beberapa ahli telah membuat klasifikasi iklim berdasarkan jenis tumbuhan dominan pada wilayah tersebut. Dalam klasifikasi iklim dapat diterapkan dua pendekatan yaitu: pendekatan genetik dan pndekatan generik. Pendekatan genetik didasarkan pada faktor yang menentukan dan mneyebabkan iklim berbda, misalnya pola sirkulasi udara, radiasi bersih, dan flux kelembaban. Sementara itu, pendekatan generik berdasarkan pada unsur iklim yang diamati atau efek terhadap gejala lain.
Dalam pendekatan generik digunakan dua dasar pengkalisifikasian yaitu berdasarkan rational moisture budget dan pertumbuan vegetasi. Kemudian berdasarkan pertumbuhan vegetasiyang kami amati dikenal dua sistem yaitu sistem, Schmidth-Ferguson, dan Oldeman.
Penggolongan iklim menurut Schmidt-Fergusson menggunakan prinsip bulan kering dan bulan basah seperti pada penggolongan menurut Mohr. Bulan basah yaitu bulan yang menerima curah hujan lebih besar dari 100 mm, Bulan kering yaitu bulan yang menerima curah hujan kurang dari 60 mm. Kelas iklim menurut Ferguson ditentukan dengan menghitung nilai Q. dari hasil penghitungan Q itulah kemudian ditentukan kelas iklimnya.
Zona
Nilai Q
Kondisi Iklim
A
<14.3
Sangat Basah
B
14.3≤Q<33.3
Basah
C
33.3≤Q<60.0
Agak Basah
D
60.0≤Q<10.0
Sedang
E
10.0≤Q<16.7
Agak Kering
F
167 ≤Q<300
Kering
G
300 ≤Q< 700
Sangat Kering
H
≥ 700
Luar Biasa Kering

Penggolongan iklim menurut Oldeman didasarkan pada bulan basah dan bulan kering yang berturut-turut. Klasifikasi ini digunakan untuk keperluan pertanian di Indonesia. Kriteria penilaiannya adalah bulan kering (BK), bulan lembab (BL), dan bulan basah (BB), yang batasnya memperhatikan peluang hujan, ujan efektif, dan kebutuhan air tanaman. Karena penerapan konsep dengan memperthatikan peluang hujan, hujan efektif, dan kebutuhan air tanaman maka dikriteriakan bulan kering adalah bulan dengan curah hujan <100 mm, dan bulan basah memiliki curah hujan >200 mm. 
Dalam penentuan tipe iklim berdarkan pada lamanya periode buan basah dan ulan kering. Periode basah diperoleh dari jumlah bulan basah berurutan dan periode kering diperoleh dari jumlah bulan kering berurutan. Periode bulan basah digunakan untuk menentukan tipe iklim, dan periode bulan kering digunakan untuk menentukan Sub-divisi.
Tipe utama
Periode basah
A
>9
B
7-9
C
5-6
D
3-4
E
0-2

Sub-divisi
Periode kering
1
0-1
2
2-3
3
4-6
4
>6
Masing-masing zona agroklimat ini digolongkan kembali menjadi beberapa subzona berdasarkan jumlah bulan kering yang berturut-turut, yaitu:
1.    BK < 2 bulan, maka pada zona tersebut dapat dilakukan budidaya tanaman sepanjang tahun.
2.    BK antara 2-3 bulan, maka untuk dapat melakukan budidaya tanaman sepanjang tahun diperlukan perencanaan matang.
3.    BK antara 4-6 bulan, maka dapat dilakukan 2 kali musim tanam.
4.    BK antara 7-9 bulan, maka hanya dapat dilakukan 1 kali tanam.
5.    BK > 9bulan, maka tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, jika tidak dikembangkan sistem irigasi yang menjamin ketersediaan air.

Iklim merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Berdasarkan iklim dapat ditentukan jenis vegetasi yang tumbuh di lokasi tersebut. Untuk mengetahui apakah tanamn dapat tumbuh sesuai untuk iklim tertentu, diperlukan syarat tumbuh dan informasi cuaca yang lebih rinci dari beberapa dekade dengan nilai rata-rata bulanan danpola sebaran sepanjang tahun. Karena itu perlu dilakukan pegklasifikasian iklim untuk mnentukan jenis tanaman yang sesuai dengan keadaan iklim di lokasi tertentu. 
Sistem klasifikasi lain yang tergolong baru di Indonesia dan pada beberapa hal masih mengandung diskusi mengenai batasan dan kriteria yang digunakan. Namun demikian, untuk keperluan praktis klasifikasi ini cukup berguna khususnya dalam klasifikasi lahan pertanian tanaman pangan di Indonesia. Oldeman telah membuat sistem baru dalam klasifikasi iklim yang dihubungkan dengan pertanian menggunakan unsur iklim hujan. Kriteria dalam klasifikasi iklim ini didasarkan pada perhitungan bulan basah (BB), bulan lembab (BL), dan bulang kering (BK) yang batasannya memperhatikan peluang hujan, hujan efektif dan kebutuhan air tanaman.
Klasifikasi iklim memiliki tujuan menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus. Dasar-dasar klasifikasi iklim diantaranya: 
a.    Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi).
b.    Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. 
c.    Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut.
Dalam pengklasifikasikan iklim perlu memperhatikan beberapa hal diataranya tujuan klasifikasi iklim dibuat untuk : pertanian, kelautan, penerbangan dll, luas cakupan wilayah klasifikasi iklim : makro. meso, dan mikro, latar belakang pembuatan klasifikasi iklim. Selain beberapa hal tersebut, secara umum perlu dipahami faktor-fakor pengendali iklim seperti keragaman intensitas cahaya matahari, distribusi tanah dan air Arus laut, angin yang mendominasi, posisi daerah tekanan tinggi dan rendah, posisi gunung, dan ketinggian tempat.
Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut.
Suatu wilayah yang mempunyai kondisi iklim cocok untuk tanaman akan memungkinkan untuk dikembangkan sebagai pusat produksi.pusat produksi tanaman adalah suatu daerah yang telah terbukti memenuhi persyaratan kesesuaian iklim pada wilayah yang cukup luas dengan produktivitas tinggi (ton/ha/musim panen) dalam jangka waktu lama. Konsepsi dasar dalam pewilayahan kmoditi secara bertahap, diawali dengan study agroekologi utama yang hanya mempertimbangkan faktor biofitis yaitu iklim, tanah, dan toposifiografi.
Tujuan stasiun agroklimat adalah mendapatkan data klimatologis yang pengukurannya dilakukan secara kontinyu dan meliputi periode waktu yang lama paling sedikit sepuluh tahun, kami hanya mengamati 3 tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Bagi stasiun klimatologi pengamatan utama yang dilakukan meliputi unsur curah hujan, suhu udara, arah dan laju angin, kelembaban, macam dan tinggi dasar awan, banglas horisontal, durasi penyinaran matahari dan suhu tanah. Oleh karena itu persyaratan stasiun klimatologi ialah lokasi, keadaan stasiun, dan lingkungan sekitar yang tidak mengalami perubahan agar pemasangan dan perletakan alat tetap memenuhi persyaratan untuk menghasilkan pengukuran yang dapat mewakili.



BAB V
KESIMPULAN

Dari pengamatan dapat disimpulkan bahwa pengklasifikasian iklim sangat diperlukan untuk mengembangkan pertanian terkait pemilihan jenis tanaman yang sesuai dan untuk menentukan jenis iklim dapat digunakan metode shmidth-Ferguson dan Oldeman






























DAFTAR PUSTAKA

Dewayani, W. 2011. Laporan Pelaksanaan Pendampingan Sl-Ptt Padi Dan Jagung Di Kabupaten Takalar. Departemen Pertanian: Sulawesi Selatan
Fadholi, A. dan Supriyatin, D. 2012. Sistem Pola Tanam Di Wilayah Priangan Berdasarkan Klasifikasi Iklim Oldeman. Jurnal pendidikan Geografi 12(2) : 61-70
Guslim. 2009. Agroklimatologi. USU Press: Medan.
Indiyanti, D. 2009. Perbandingan Hasil Penentuan Curah Hujan Bulanan Menurut Teori Mohr Dan Oldeman Dengan Pendekatan Sistem Informasi Geografis. UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta.
Praptono, B. 2010. Kajian Pola Bertani Padi Sawah Di Kabupaten Pati Ditinjau Dari Sistem Pertanian Berkelanjutan. Universitas Diponegoro: Semarang
Setiawan, H., B. Sudarsono dan M. Awaluddin. 2013. Identifikasi Daerah Prioritas Rehabilitasi Lahan Kritis Kawasan Hutan Dengan Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis. Jurnal Geodesi 2(3) : 31-41
Setiawan. 2010. Klasifikasi Iklim. http://www.bisograpics.com. Diakses pada tanggal 8 November 2018.
Sulardi. 2010. Tingkat Kerapatan Dan Pola Pemetaan Tanaman Pekarangan Di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta.
Sunarto, S. W. B. 2016. Kecamatan Pucakwangi Dalam Angka Tahun 2016. BPS Kabupaten Pati. Pati.
Syakur, A. R. 2008. Perubahan Penggunaan Lahan Di Provinsi Bali. Jurnal Ecotrophic, 6 (1) : 201.
Usman, Z., U. Made dan Adriaton. 2014. Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Pada Berbagai Umur Semai Dengan Teknik Budidaya SRI (System Of Rice Intensification). J. Agrotekbis 2(1) : 32-37.
Wiyono, S. 2010. Perubahan Iklim Dan Ledakan Hama Dan Penyakit Tanaman. Institut Pertanian Bogor. Bogor


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...