animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Rabu, 14 Agustus 2019

Laporan Praktikum Dasar-Dasar Agronomi "Teknik Budaya Tanaman Kacang Hijau"


LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR AGRONOMI

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
KACANG HIJAU




DISUSUN OLEH
Nama                          : Anggi Kusumah
NPM                           : E1D017102
Shift                            : Jumat, Jam 08.00
Dosen Pembimbing   : Dr. Ir. Catur Herison, M.Sc.
Co-Ass                        : 1. MGS. Gathan
                                                                               E1J015052
                                                                          2. Nugra Heni Safitri
                                                                              E1J015050




LABORATORIUM AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kacang hijau memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan dimana kacang hijau memiliki kelebihan baik dari segi budidaya dan ekonomi. Namun menurut data BPS tahun 2014 produktivitas dan produksi kacang hijau kurun waktu 2011-2013 mengalami tren penurunan. Produktivitas kacang hijau nasional pada tahun 2013 mencapai 11,24 kuintal/Ha sedangkan produksi kacang hijau mencapai 20.467 ton. Sesuai data tersebut dapat diketahui terdapat permasalahan yang menyebabkann rendahnya tingkat produksi kacang hijau secara kuantitas maupun kualitas.
Tanaman pangan merupakan segala jenis tanaman yang dapat menghasilkan karbohidrat dan protein. Indonesia adalah Negara agraris tempat tum,mbuh berbagai jenis tanaman pangan. Walaupun saat ini banyak sekali tanaman budidaya pertanian yang diekspor namun dulunya Indonesia pernah dikenal sebagai Negara swasembada pangan. Hamper seluruh rakyat Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya. Jenis tanaman pangan lainnya adalah tanaman yang dapat diolah menjadi makanan lain atau jenis makanan holtikultura. Salah satu contoh jenis tanaman ini adalah kacang hijau. Kacang hijau dapat diolah menjadi bubur, tahu, ataupun makanan lainnya. Tanaman holtikultura juga merupakan bagian dari pertanian yang memiliki peranan penting bagi dunia industry di Indonesia.
Kacang hijau merupakan tanaman pangan yang mengandung protein nabati cukup tinggi. Selain mengandung protein nabati, kacang hijau banyak mengandung itamin, mineral hingga omega-3 yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Kacang hijau merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan pada musim kemarau, karena tanaman kacang hijau tidak dapat tergenang oleh air. Kacang hijau memiliki umur yang pendek dan dapat membantu mengembalikan kesehatan dan kesuburan tanah.
Di Indonedia sendiri budidaya kacang hijau masih urang diminati, kondisi ini terjadi karena kacang hijau sendiri belum tremasuk bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat dibandingkan kedelai, padi, dan jagung. Kacang hijau sendiri sangat baik untuk masa pertumbuhan bayi karena kandungan protein dan omega-3 yang cukup tinggi. Dengan kandungan yang banyak bermanfaat tersebut seharusnya kacang hijau dapat lebih banyak dikonsumsi lagi.
Atas dasar pentingnya dan perlunya peningkatan konsumsi kacang hijau di Indonesia. Maka sangat dirasakan sekali juga perlu perbanyakan budidaya tanaman kacang hijau. Sehingga perlu diketahui bagaimana cara menanam dan membudidayakan tanaman kacang hijau agar tumbuh optimal. Pada dasaranya tanaman akan tumbuh optimal pada media tanam yang cocok untuk tanaman tersebut. Tanamn kacang hijau memiliki spesifikasi sendiri dengan tanah dan faktor tumbuhnya, yang harus diketahui.
              Kacang Hijau (Vigna radiata L.) adalah anggota family Fabaceae, kacang-kacangan tropis. Kacang hijau (Vigna radiata L.) memiliki daun trifoliate dengan panjang yang bervariasi mulai satu sampai lima meter. Biji kacang hijau terutama digunakan sebagai makanan yang kaya akan lisin dan protein sedangkan bagian batang, daun, dan kulit kacang hijau dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak (Khan et al., 2012).
              Tanaman kacang hijau dapat tumbuh pada kawasan tropis serta berada pada dataran rendah dengan ketinggian antara 5 hingga 700 m diatas permukaan laut.  Jika kacang hijau ditanam pada ketinggian 750 m diatas permukaan laut, maka akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan, umumnya kacang hijau tidak dapat memberikan produksi yang banyak pada ketinggian diatas 750 m diatas permukaan laut.  Tanaman kacang hijau membutuhkan kelembaban udara sekitar 50% hingga 89 %.  Tidak hanya itu, tanaman kacang hijau membutuhkan kurang lebih 10 jam perharinya untuk dapat terpapar sinar matahari. (Jonnie, 2014).
Produksi kacang hijau di Indonesia masih rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Menurut Balitkabi Litbang Deptan (2012), budidaya kacang hijau di Indonesia masih terkendala oleh lahan yang luas dan mahalnya tenaga kerja mengharuskan melakukan mekanisasi. Dengan mekanisasi, jarak tanam yang umum adalah 90 cm antar baris dan jarak dalam baris sembarang, yang penting populasi yang ingin dicapai adalah 20-30 tanaman/m2. Pemupukan tidak banyak dipermasalahkan karena sudah menggunakan pedoman sesuai kesuburan tanah. Meskipun potensi hasil dari varietas yang ada dapat mencapai 2,7 t/ha, tetapi produksi riil yang bisa dicapai 1,2-1,9 t/ha. Berdasarkan pengamatan di lapangan, pertumbuhan pertanaman bagus, asal dengan teknik budidaya yang baik. Hasil di Indonesia bisa mencapai 1,7 t/ha dengan umur panen 56-60 hari. Penelitian untuk peningkatan produksi yang dianggap inovatif adalah menambah populasi tanaman, dari 2 baris setiap 90 cm menjadi 4 baris setiap 90 cm. Umur panen 105-115 hari sudah dianggap pendek sehingga breeding kearah umur yang lebih genjah tidak mendapat perhatian serius.
Kacang hijau merupakan komoditas potensial yang memiliki kelebihan baik dari  segi agronomis maupun ekonomis. Cara budidayanya mudah, dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, lebih tahan kekeringan, dapat dipanen umur 60 hari, dan harga  jual relatif tinggi dan stabil. Indonesia merupakan penghasil kacang hijau terbesar ke  empat di dunia setelah India, Thailand, dan Cina, dengan luas panen sekitar 300.000 ha/tahun. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. Karena sangat pentingnya kacang hijau, kebutuhan akan kacang hijau pun terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan kacang hijau di Indonesia, tentunya peningkatan  kuantitasnya pun sangat diharapkan.

1.2  Tujuan
Untuk mengetahui langkah-langkah yang diperlukan dalam melakukan penanaman kacang hijau, membuat sarana pengatur jarak tanam, menentukan benih yang baik sebagai bahan tanam, menentukan letak lubang tanam sesuai dengan jarak tanam, dapat menempatkan pupuk dasar pada petakan tanaman, dapat melakukan pengamatan kualitatif dan kuantitatif secara benar terhadap setiap peubah pertumbuhan tanaman dan dapat mengkorelasikan antar data peubah ke dalam bentuk informasi sederhana dan lengkap, dapat menentukan saat panen berdasarkan kriteria panen tanaman kacang hijau, serta dapat mengukur variabel hasil yang benar.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Produksi dan produktivitas kacang hijau nasional masih rendah. Faktor penyebabnya antara lain belum meluasnya penggunaan varietas unggul dan teknologi budidaya hasil penelitian para pakar dibidannya para petani. Varietas unggul kacang hijau akan menunjukkan keunggulan bila tanaman di tanam pada daerah agroekologi yang sesuai. Serta disertai dengan penerapan yang sesuai dengan kondisi (rukmana, 2008)
Manfaat kacang hijau sebagai makanan rakyat sangat penting, karena jenis kacang ini banyak mengandung vitamin terutama vitamin B1. Zat ini sangat diperlukan karena merupakan tambahan berharga bagi makanan rakyat yang relatif kurang vitamin. Di samping sebagai bahan makanan manusia, kacang ini dapat digunakan sebagai makanan ternak. Dari beberapa segi inilah terasa pentingnya mempopulerkan tanaman kacang hijau yang mempunyai potensi besar ini (Purwono, 2008).
Adapun klasifikasi tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus) adalah sebagai berikut:
Kerajaan (Kingdom)               : Plantae (tumbuhan).
Divisi (Divisio)                        : Spermatophyta (tanaman berbiji).
Sub divisi (Sub Divisio)          : Angeaspermae (biji berada dalam buah).
Kelas (Class)                           : Dicotyledoneae (biji berkeping dua).
Bangsa (Ordo)                        : Leguminales.
Suku (Family)                         : Leguminoceae (kacang-kacangan).
Sub famili (Sub Family)          : Papilionoideae.
Marga (Genus)                        : Phaseoulus.
Jenis (Spesies)                         : Phaseolus radiatus L. (Cahyono, 2010).
Perakaran tanaman kacang hijau tersusun atas akar tunggang, akar serabut, dan akar lateral. Akar tunggang merupakan akar primer yang tumbuh paling awal dari benih yang tumbuh. Akar tunggang tumbuh ke pusat bumi mencapai kedalaman 1m lebih. Akar lateral merupakan akar sekunder atau cabang-cabang akar yang tumbuh pada akar primer. Akar sekunder ini tumbuh tersebar menyamping (horizontal) dekat dengan permukaan tanah dengan lebar mencapai 40 cm lebih. Akar serabut merupakan akar-akar rambut yang tumbuh pada akar lateral (Cahyono, 2010).
           

Tanaman kacang hijau berakar tunggang. Sistem perakarannya dibagi menjadi dua, yaitu mesophytes dan xerophytes. Mesophytes mempunyai banyak cabang akar pada permukaan tanah dan tipe pertumbuhannya menyebar. Sementara xerophytes memiliki akar cabang lebih sedikit dan  memanjang kea rah bawah (Wirda, 2011).
Batang kacang hijau berbentuk bulat dan berbuku-buku. Ukuran batangnya kecil, berbulu, berwarna hijau kecokelatan atau kemerahan. Setiap buku batang menghasilkan satu tangkai daun, kecuali pada daun pertama berupa sepasang daun yang berhadapan dan masing-masing daun berupa daun tunggal. Batang kacang hijau tumbuh tegak dengan ketinggian mencapai 1m. cabangnya menyebar ke semua arah (Purwono, 2008).
Daun
            Daun kacang hijau tumbuh majemuk, terdiri dari tiga helai anak daun setiap tangkai. Helai daun berbentuk oval dengan bagian ujung lancip dan berwarna hijau muda hingga hijau tua. Letak daun berseling. Tangkai daun lebih panjang daripada daunnya sendiri (Purwono, 2008).
Bunga tanaman kacang hijau berbentuk menyerupai kupu-kupu dengan mahkota bunga berwarna kuning keabu-abuan atau kuning muda, tergantung varietasnnya. Bunga ini termasuk bunga sempurna atau berkelamin dua (hermaphrodit), yaitu setiap bunga terdapat benang sari (sel kelamin jantan) dan kepala putik (sel kelamin betina). Bunga bersifat bilateral simetri (zygomorphus). Bunga tanaman kacang hijau tumbuh secara berkelompok dan muncul pada setiap ketiak daun (ruas-ruas batang) (Cahyono, 2010).
Buah
            Buah kacang hijau berbentuk polong. Panjang polong sekitar 5-16 cm. Setiap polong berisi 10-15 biji. Polong kacang hijau berbentuk bulat silindris atau pipih dengan ujung agak runcing atau tumpul. Polong muda berwarna hijau, setelah tua berubah menjadi kecokelatan atau kehitaman. Polongnya mempunyai rambut-rambut pendek atau berbulu (Purwono, 2008).
Biji berbentuk bulat kecil berwarna hijau sampai hijau gelap. Warna tersebut merupakan warna dari kulit bijinya. Biji kacang hijau berkeping dua dan terbungkus oleh kulit, keeping biji, pusar biji (hilium), dan embrio yang terletak diantara keeping pusar biji atau hilum merupakan jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Keping biji mengandung makanan yang akan digunakan sebagai makanan untuk calon tanaman yang sedang tumbuh (Dodik, 2012).

Iklim secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Iklim juga berpengaruh terhadap perkembangan mikroba (patogen) dan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau berkisar antara 25oC-27oC. Akan tetapi tanaman kacang hijau masih bisa tumbuh baik pada suhu udara hingga 35oC dan dibawah 25oC hingga 20oC (Cahyono, 2010).
Kacang hijau dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk beberapa penyakit. Kandungan asam amino dan protein dapat membantu dalam pembentukan sel-sel baru. Kacang hijau selain digunakan sebagai obat dapat pula digunakan sebagai bahan kosmetik. Selain itu juga dapat digunakan untuk pengobatan hepatitis, terkilir, beri-beri, demam nifas, kepala pusing/vertigo, memulihkan kesehatan, kencing kurang lancar, kurang darah, jantung mengipas, dan kepala pusing (Shaheen, 2012).
Menurut Taunk (2012) Produksi kacang hijau diharapkan dapat mengalami peningkatan. Peningkatan produksi kacang hijau dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti persilangan. Kebutuhan maupun produksi perlu terjadi keseimbangan. Produksi yang dihasilkan masih rendah karena budidaya yang kurang. Selain itu di dunia produksi kacang hijau kira-kira mencapai 5,5 per ha. Di india kebutuhan kacang hijau antara produsen maupun kontributor mencapai 75%.
            Unsur K pada K2O memiliki peran sebagai pembentukan pati, pengaktif enzim, pembentuk stomata, dan memperbaiki kekebalan tanaman dari patogen. Unsur K termasuk dalam unsur hara makro yang banyak dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara k banyak dibuhkan tanaman ketika memasuku fase generatif. Pada dasarnya pupuk Kalium diberikan diawal pertanaman bersamaan dengan pupuk P. Unsur P dan K diberikan pada awal pertanaman karena kedua jenis pupuk ini adalah jenis yang lama larut dalam air sehingga lama untuk dapat terserap tanaman (Hermawati, 2008).
            Unsur hara makro dan mikro dibuhkan oleh kacang hijau dengan jumlah tertentu untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau. Terdapat jenis unsur hara mikro bila berlebihan akan merugikan tanaman. Salah satu jenis unsur hara mikro Co dapat berpengaruh buruk terhadap tanaman. Co yang berlebihan akan menghambat pertumbuhan akar, menhambat perpanjangan dan pembelahan sel, dan yang lebih buruk lagi akan menghambat serapan dan perpindahan air dan nutrisi dari tanah ke tumbuhan (Jaleel, 2009).
            Penyiangan dari gulma-gulma disekitaran tanaman akan membantu pertumbuhan tanaman kacang hijau. Penyiangan memiliki fungsi mengurangi kompetisi mendapatkan air dan nutrisi antara tanaman utama dengan gulma. Terdapat beberapa cara dlam penyainagn lahan yaitu secara mekanik dan kimia (Yugi, 2012).
            Pembuatan parit dan pemberian bahan organik pada penanaman kacang hijau dapat membantu dalam pertumbuhan tanaman. Bahan organik berperan untuk meningkatkan infiltrasi dan mengurangi evaporasi sehingg lengas tanah tetap tersedia, tanah senantiasa tersedia, dan sekaligus sebagai draenase saat kelebihan air akibat hujan lebat. Lengas tanah tersedia saat tanaman membutuhkan dapat meningkatkan aktifitas metabolisme sel, sebaliknya jika lengas tanah rendah akan menjadi faktor pembatas (Edy, 2011). 
Kesesuaian suatu jenis tanaman dengan tanaman yang lain di-tentukan oleh sifat agronomi tanaman itu sendiri yang saling berinteraksi dengan lingkungan, sehingga untuk memperoleh pertumbuhan yang baik dari suatu jenis tanaman diperlukan lingkungan yang op-timum. Dalam hal ini waktu tanam suatu jenis tanaman optimum untuk suatu pola tumpangsari, artinya bahwa terdapat wak-tu tanam tertentu yang memberikan pro-duksi yang baik pada suatu pola tum-pangsari (Syaifuddin, 2011).






















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1.             Tali rafia
2.             Meteran
3.             Spidol
4.             Gunting
5.             Ajir
6.             Tugal
7.             Cangkul
8.             Parang
9.             Gembor/Ember
10.         Alat Tulis
11.         Meteran Kain
12.         Jangka Sorong
13.         Timbangan

3.1.2 Bahan
1.    Benih Kacang Hijau
2.    Pupuk Urea
3.    Pupuk SP 36
4.    Pupuk KCL
5.    Pestisida Furadan 3G

3.2 Cara Kerja
3.2.1 Membuat Alat Bantu Jarak Tanam (Cablak/Caplak)
1.    Menyiapkan 1 utas tali rafia sepanjang 3,5 meter dan 2 utas tali lain sepanjang 2,5 meter. Kedua tali ini akan menjadi tali utama. (Luas lahan 3 m x 2 m, sisa 0,5 m adalah tali yang dilebihkan untuk pengikat ajir pada kedua ujung, masing-masing 25 cm).
2.    Menyiapkan potongan tali rafia sepanjang 15 cm. Warna tali rafia yang berbeda dari tali yang digunakan pada nomor 1 akan lebih baik. Tali-tali kecil ini berfungsi sebagai tali penanda jarak tanam. Bisa juga digunakan marker lain (misal spidol permanen atau tip ex).
3.    Mengukur dari kedua ujung tali utama jarak 25 cm, diberi penanda dengan spidol (ini digunakan untuk pengikat ajir). Selanjutnya sesuai dengan jarak tanam dari komoditi yang ditanam, diberi tanda dengan spidol hingga selesai di ujung tali. Simpul pertama berjarak setengah jarak tanam.
3.2.2   Menghitung Kebutuhan Benih dan Mempersiapkan Benih
1.    Mengambil benih yang akan ditanam, membersihkan benih dari kotoran, biji lain, pasir, dan sebagainya.
2.    Memilih benih yang utuh, tidak berlubang dan tidak berjamur.
3.    Menghitung jumlah benih yang dibutuhkan untuk petakan.

3.2.3   Menghitung Dosis Pupuk
1.    Dosis pupuk umumnya disebutkan untuk luasan area per hektar. Misalnya Urea 200 kg Ha-1, dosis pupuk kandang 10 ton Ha-1 dan sebagainya. Menghitung kebutuhan pupuk pada luasan lahan yang kita tanami.
2.    Kebutuhan pupuk  x Dosis Pupuk per Hektar.
3.    Menghitung dosis pupuk Urea, SP-36, dan KCL pada lahan. Selanjutnya, menyerahkan hasil perhitungan kepada Co-Ass. Co-Ass menyiapkan pupuk pada saat tanam.

3.2.4 Cara Kerja pada Saat Penanaman
3.2.4.1 Membuat Lubang Tanam
1.    Membersihkan petakan dari gulma yang tumbuh
2.    Menentukan letak lubang tanam pertama berdasarkan jarak yang akan diaplikasikan, dengan menetapkan letak tanaman sudut = ½ x jarak tanam.
3.    Merentangkan tali cablak ukuran 2,5 meter yang telah disiapkan sebelumnya pada kedua sisi lahan. Mengikatkan bagian ujungnya pada ajir.
4.    Tali cablak ukuran 3,5 meter digunakan untuk panduan menugal direntangkan dengan arah tegak lurus pada tali pertama.
5.    Membuat lubang tanam dengan kedalaman 5-7 cm sesuai jarak tanam dengan meggunakan tugal tepat pada simpul tali jarak tanam.

3.2.4.2 Menanam dan Melakukan Pemupukan Dasar
1.    Memasukkan Furadan 3G sekitar 10 butir per lubang tanam.
2.    Memasukkan benih sebanyak 2 butir pada setiap lubang tanam.
3.    Setelah selesai menanam satu barisan, dipindahkan tali cablak 3,5 m ke tanda jarak tanam berikutnya.
4.    Melakukan pemupukan dasar (campuran Urea, SP-36, dan KCL) dengan cara membuat alur terlebih dahulu berjarak 10 cm sejajar dengan barisan tanaman, kemudian menaburkan pupuk, lalu ditimbun.
5.    Menutup lubang tanam dengan tanah yang remah.
6.    Melakukan pengairan dengan cara menyiram pada setiap alur lubang tanam hingga tanah cukup basah.
7.    Membuat label nama praktikan, NPM, dan Shift praktikum pada petakan dengan map plastik berukuran 30 cm x 15 cm.

3.2.5 Panen
1.    Melakukan pemanenan bagian vegetatif dan bagian ekonomis tanaman apabila sudah menunjukkan tanda-tanda siap panen dan sudah waktunya panen.
2.    Melakukan pengukuran :
1.    Menimbang berat segar batang, daun, dan akar pertanaman sampel dengan timbangan duduk.
2.    Menimbang bagian ekonomis dengan menggunakan timbangan digital.
3.    Mengukur panjang dan diameter buah dengan jangka sorong.
4.    Menimbang seluruh hasil panen per petak dengan menggunakan timbangan duduk.

3.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
                  Pelaksanaan praktikum Teknik Budidaya Tanaman Kacang Hijau dilakukan pada tanggal 3 September 2018 sampai tanggal 23 November 2018, dilakukan di Lahan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanaian, Universitas Bengkulu.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Daya Tumbuh, Penjarangan, Penyulaman dan Penentuan Sampel
No

Keterangan
1.
Gambar Kecambah :
Description: Hasil gambar untuk gambar kecambah kacang hijau
Keterangan gambar :
1. Akar
2. Daun
3. Cotyledon
4. Epikotil

Tipe Kecambah : Dikotil
2.
Perhitungan Daya Tumbuh :
Dari 100 benih yang di tanam, 89 benih yang hidup. 11 tanaman yang mati.
Persen Daya Tumbuh :
Daya Tumbuh =  = 89%
3.
Denah Penentuan Sampel :




































































































Populasi Tanaman =



4.1.2 Pengamatan Pertumbuhan Vegetatif
4.1.2.1 Pengamatan I
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Jumlah Cabang
1.
8 cm
6 Helai
2 Cabang
2.
13 cm
9 Helai
1 Cabang
3.
12 cm
8 Helai
2 Cabang
4.
11 cm
5 Helai
2 Cabang
5.
12 cm
6 Helai
3 Cabang
6.
6 cm
4 Helai
3 Cabang
7.
16 cm
6 Helai
4 Cabang
8.
13 cm
7 Helai
3 Cabang
9.
16 cm
5 Helai
3 Cabang
10.
10 cm
5 Helai
2 Cabang

4.1.2.2 Pengamatan II
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Jumlah Cabang
1.
15 cm
11 Helai
4 Cabang
2.
15 cm
4 Helai
3 Cabang
3.
15 cm
6 Helai
2 Cabang
4.
-
-
-
5.
24 cm
5 Helai
3 Cabang
6.
11 cm
7 Helai
3 Cabang
7.
-
-
-
8.
17 cm
5 Helai
3 Cabang
9.
17 cm
3 Helai
3 Cabang
10.
12 cm
5 Helai
2 Cabang

4.1.2.3 Pengamatan III
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Jumlah Cabang
1.
16 cm
1
4 Cabang
2.
15 cm
-
4 Cabang
3.
-
-
-
4.
-
-
-
5.
24 cm
-
3 Cabang
6.
-
-
-
7.
-
-
-
8.
18 cm
2 Helai
3 Cabang
9.
17 cm
-
4 Cabang
10.
14 cm
3 Helai
4 Cabang

4.1.2.4 Pengamatan IV
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Jumlah Cabang
1.
17 cm
1 Helai
4 Cabang
2.
15 cm
-
5 Cabang
3.
-
-
-
4.
-
-
-
5.
24 cm
-
3 Cabang
6.
-
-
-
7.
-
-
-
8.
18 cm
3 Helai
4 Cabang
9.
18 cm
-
4 Cabang
10.
14 cm
3 Helai
5 Cabang

4.1.2.5 Pengamatan V (Panen)
No
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Jumlah Cabang
Jumlah Buah
Bobot Segar Tanaman
Luas Daun (Gravimetri)
1.
17 cm
2 Helai
4 Cabang
5 Buah
78 Gram
168,49 cm2
2.
15 cm
-
5 Cabang
7 Buah
77 Gram
182,19 cm2
3.
-
-
-
-
-
-
4.
-
-
-
-
-
-
5.
24 cm
-
4 Cabang
3 Buah
81 Gram
169,86 cm2
6.
-
-
-
-
-
-
7.
-
-
-
-
-
-
8.
18 cm
4 Helai
4 Cabang
7 Buah
83 Gram
160,27 cm2
9.
18 cm
3 Helai
4 Cabang
6 Buah
81 Gram
172,60 cm2
10.
15 cm
4 Helai
5 Cabang
6 Buah
80 Gram
173,97 cm2

Perhitungan Luas Daun Gravimetri:
Sampel 1:   cm2 = 168,49 cm2
Sampel 2:  cm2 = 182,19 cm2
Sampel 3: (Tanaman Sudah Mati)
Sampel 4: (Tanaman Sudah Mati)
Sampel 5:  cm2 = 169,86 cm2
Sampel 6: (Tanaman Sudah Mati)
Sampel 7: (Tanaman Sudah Mati)
Sampel 8:  cm2 = 160,27 cm2
Sampel 9:  cm2 = 172,60 cm2
Sampel 10:  cm2 = 173,97 cm2

4.1.2.6 Grafik Pengamatan
4.1.2.6.1 Tinggi Tanaman

4.1.2.6.2 Jumlah Daun
4.1.2.6.3 Jumlah Cabang





4.2 Pembahasan
Pertumbuhan dan produksi tanaman kacang hijau sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang harus diperhatikan adalah pemilihan varietas kacang hijau. Faktor-faktor eksternal seperti nutrisi (unsur hara), tinggi tempat, penyinaran, suhu, kelembaban dan pH tanah. Nutrisi atau unsur hara yang dibutuhkan kacang hijau harus seimbang. Kacang hijau tidak menghendaki pemberian urea yang berlebihan karena akan menghambat pertumbuhan dari bintil akar. Kacang hijau sudah mendapatkan suplai nitrogen dari bintil akar tersebut sehingga tidak membutuhkan suplai urea yang terlalu banyak. Kacang hijau merupakan tanaman tropis yang menghendaki suasana panas selama hidupnya. Tanaman kacang hijau dapat ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 700 m (5 – 700 m dpl). Di daerah dengan ketinggian di atas 750 m dpl produksi kacang hijau menurun. Kacang hijau dapat tumbuh baik pada suhu udara optimal antara 25 – 270C. Pada dasarnya kacang hijau menyukai daerah yang memiliki kelembapan udara antara 50 – 89%. Selain itu, tanaman ini memerlukan cahaya matahari lebih dari 10 jam/hari. Sesuai dengan literatur menurut (Cahyono) yaitu Iklim secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Iklim juga berpengaruh terhadap perkembangan mikroba (patogen) dan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau berkisar antara 25oC-27oC. Akan tetapi tanaman kacang hijau masih bisa tumbuh baik pada suhu udara hingga 35oC dan dibawah 25oC hingga 20oC (Cahyono, 2010).
Daerah yang memiliki curah hujan 50 – 200 mm/bulan merupakan daerah yang baik untuk budidaya tanaman ini. Curah hujan tinggi menyebabkan tanaman mudah rebah dan terserang penyakit. Jenis tanah yang dikehendaki kacang hijau adalah tanah liat berlempung atau lempung yang mengandung bahan organic tinggi, memiliki tata air dan udara yang baik. Jenis tanah yang dianjurkan adalah ultisol, latosol, dan lahan sawah menjelang penanaman padi pada musim kemarau. Keasaman tanah yang diperlukan untuk tumbuh optimal, yaitu pH tanah antara 5,8 – 6,5. Tanah dibawah pH 5,8 perlu diberikan pengapuran.
Tanaman kacang hijau merupakan tanaman palawija yang akan tumbuh baik pada daerah dataran rendah. Setiap jenis tanaman memiliki spesifikasi tersendiri tentang suplai hara yang dibutuhkan. Pemberian pupuk organik, urea, SP-36 dan KCl dapat diberikan dalam dosis tertentu. Pemberian bahan organik pada saat budidaya dapat memperbaiki sifak fisik, kimia dan biologi tanah.

Hal ini dapat membantu pertumbuhan tanaman kacang hijau. Pupuk urea sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh jenis legum, hal ini terjadi karena pada dasarnya tanaman legum sudah bersimbiosis dengan rhizobium yang membantu untuk mendapatkan nitrogen bebas dari udara. Pemberian pupuk urea berguna untuk memaksimalkan pertumbuhan pada fase vegetatif tanaman, dengan pemberian pupuk urea yang seimbang dapat membantu pertumbuhan kacang hijau, tapi dengan aplikasi pupuk urea yang terlalu banyak akan menghambat pertumbuhan bintil akar dan akan merugikan tanaman. Menurut Hermawati (2008) Unsur K pada KCl memiliki peran sebagai pembentukan pati, pengaktif enzim, pembentuk stomata, dan memperbaiki kekebalan tanaman dari patogen. Unsur K termasuk dalam unsur hara makro yang banyak dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara k banyak dibuhkan tanaman ketika memasuku fase generatif. Pada dasarnya pupuk Kalium diberikan diawal pertanaman bersamaan dengan pupuk P. Unsur P dan K diberikan pada awal pertanaman karena kedua jenis pupuk ini adalah jenis yang lama larut dalam air sehingga lama untuk dapat terserap tanaman.   
Sistem budidaya tanaman mengajurkan adanya pengendalian gulma dan penjarangan apabila pada satu lubang tanam terdapat lebih dari satu tanaman. Penjarangan dilakukan untuk mengurangi terjadinya kompetisi untuk menyerap unsur hara. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan memaksimalkan produksi tanaman. Dengan satu lubang per tanaman dapat mengoptimalkan serapan hara, pemerataan paparan radiasi  sehingga tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal. Pengendalian gulma juga berguna untuk mengurangi kompetisi. Perlu diketahui bahwa gulma dapat menyerap 2kali lipat lebih banyak menyerap unsur hara dibandingkan tanaman utama. Hal ini dapat merugikan tanaman utama sehingga diperlukan pengendalian gulma. Selain itu, gulma juga sebagai inang alternatif dari hama dan penyakit tertentu, jadi dengan pengendalian gulma inid apat mengurangi resiko serangan hama dan penyakit terhadap tanaman utama.
Varietas dan pemilihan waktu berpengaruh terhadap pertumbuhan kacang tanah. Berbeda varietas yang di tanam akan berbeda pula pertumbuhan dan hasil produksi tanaman kacang hijau. Menurut Purnomo (2010) kacang hijau memiliki potensi hasil mencapai 1,96 t/ha, namun memiliki potensi hasil mencapai 1,76 t/ha. Hal ini dapat menjelaskan pada perbedaan varietas tanaman akan membedakan hasil produksi tanaman pula. Pemilihan waktu tanam memang sangat penting dilakukan. Tanaman kacang hijau tidak menghendaki ada air yang terlalu banyak, air yang terlalu banyak akan mengahambat pertumbuhan tanaman. Dengan itu pemilihan waktu yang baik untuk penanaman kacang hijau adalah awal masuk musim kemarau atau pada bulan april dan dapat dipanen paling lama awal bulan september.  Menurut Purwono dan Purnamawati (2010) tanaman kacang hijau memiliki umur yang relatif pendek yaitu 60 hari sejak tanam.
Berdasarkan data yang dihasilkan selama pengamatan dilapang didapatkan hasil pengamata. Pada pengamatan I menghasilkan tinggi tanaman mencapai 16 cm dengan jumlah daun mencapai 9 helai dan jumlah cabang mencapai 4 cabang. Pada pengamatan II tinggi tanaman mencapai 24 cm dengan jumlah daun mencapai 11 helai dan jumlah cabang mencapai 4 cabang. Pada pengamatan III menghasilkan tinggi tanaman mencapai 24 cm dengan jumlah daun mencapai 3 helai dan jumlah cabang mencapai 4 cabang. Pada pengamatan IV menghasilkan tinggi tanaman mencapai 24 cm dengan jumlah daun mencapai 3 helai dan jumlah cabang mencapai 5 cabang. Pada pengamatan V menghasilkan tinggi tanaman mencapai 24 cm dengan jumlah daun mencapai 4 helai dan jumlah cabang mencapai 5 cabang.
Pada saat panen, jumlah buah pada sampel 1 sebanyak 5 buah, pada sampel 2 sebanyak 7 buah, pada sampel 3 dan 4 tanamannya sudah mati, pada sampel 5 sebanyak 3 buah, pada sampel 6 dan 7 tanamannya sudah mati, pada sampel 8 sebanyak 7 buah, pada sampel 9 sebanyak 6 buah, dan pada sampel 10 sebanyak 6 buah.
Pada saat penimbangan bobot segar tanaman, hasil yang didapatkan adalah pada sampel 1 bobotnya 78 gram, pada sampel 2 bobotnya 77 gram, pada sampel 3 dan 4 tanamannya sudah mati, pada sampel 5 bobotnya 81 gram, pada sampel 6 dan 7 tanamannya sudah mati, pada sampel 8 bobotnya 83 gram, pada sampel 9 bobotnya 81 gram, dan pada sampel 10 bobotnya 80 gram.
Pada pengukuran dan perhitungan luas daun (gravimetri). Hasil yang didapatkan adalah pada sampel 1 luas daunnya 168,49 cm2, pada sampel 2 luas daunnya 182,19 cm2, pada sampel 3 dan 4 tanamannya sudah mati, pada sampel 5 luas daunnya 169,86 cm2, pada sampel 6 dan 7 tanamannya sudah mati, pada sampel 8 luas daunnya 160,27 cm2, pada sampel 9 luas daunnya 172,60 cm2, dan pada sampel 10 luas daunnya 173,97 cm2.
 Berdasarkan hasil data tersebut didapatkan hasil terbaik yang terpisah, pada indikator bagian tinggi tanaman, jumlah cabang, dan jumlah daun hasil yang terbaik terdapat pada  pengamatan I. Hal ini mungkin saja terjadi karena jumlah pemberian pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Perlakuan kontrol menghasilkan tinggi dan jumlah daun yang terbaik, hal ini dapat terjadi karena bantuan simbiosis akar tanaman dengan bakteri rhizobium yang membantu suplai nitrogen. Dengan tanpa aplikasi pupuk urea, bakteri rhizobium tersebut dapat berkembang dengan maksimal sehingga dapat menyuplai kebutuhan hara nitrogen untuk tanaman kacang hijau.
Pengamatan I mendapatkan hasil tinggi tanaman dan jumlah daun yang terbaik. Hal ini dapat terjadi karena suplai unsur hara yang masih kurang sehingga memaksa pertumbuhan akar untuk mencari sumber unsur hara yang dibutuhkan dengan cara memperbanyak dan memperpanjang akar tanaman, pemberian aplikasi pupuk urea ternyata mempengaruhi pertumbuhan rhizobium pada akar, sehingga pertumbuhan  bintil terganggu.  Hal ini sesuai dengan literatur menurut (Wirda) yaitu Tanaman kacang hijau berakar tunggang. Sistem perakarannya dibagi menjadi dua, yaitu mesophytes dan xerophytes. Mesophytes mempunyai banyak cabang akar pada permukaan tanah dan tipe pertumbuhannya menyebar. Sementara xerophytes memiliki akar cabang lebih sedikit dan  memanjang kea rah bawah (Wirda, 2011).

























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
                  Pada saat penanaman kacang hijau sebaiknya dilakukan sesuai dengan urutannya dan kita harus mengetahui langkah-langkahnya terlebih dahulu supaya bisa mendapatkan hasil yang maksimal yaitu membuat alat bantu jarak tanam (cablak/caplak) sesuai dengan tanaman yang akan ditanam seperti kacang hijau dengan jarak tanam 20 cm x 30 cm, menghitung kebutuhan benih dan mempersiapkan benih, menghitung dosis pupuk, membuat lubang tanam, menanam dan melakukan pemupukan dasar, serta memelihara tanaman dengan baik. memilih benih yang baik yaitu dengan metode merendam dan melihat fisiknya, menentukan lubang tanam lubang sesuai jarak tanam dengan menggunakan cablak dari tali, sehingga jarak tanaman terlihat rapi dan tidak mengganggu tanaman satu sama lain. Menempatkan pupuk dasar pada petakan tanaman harus bersamaan dengan benih supaya jamur atau pun serangga yang ada di dalam tanah tidak mengganggu benih yang ditanam. Dengan penanaman kacang hijau ini didapatkan hasil pengamatan, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif seperti pengamatan jumlah daun, tinggi batang, jumlah cabang, jumlah buah, bobot segar tanaman, serta luas daun secara grafimetri sehingga bisa dibandingkan ataupun di aplikasikan  ke dalam bentuk infomasi sederhana maupun informasi yang lengkap. Kita dapat menentukan kapan kacang hijau harus dipanen yaitu ketika buah kacang hijau sudah berwarna hitam.

5.2 Saran
                  Diharapkan pada saat pemeliharaan tanaman di sediakan pestisida, karena tanaman yang ditanami sangat rentan dengan hama. Dan diharapkan praktikan memperhatikan perawatan dan pemeliharan tanaman. Sebab perawatan dan pemeliharan tanaman sangat menentukan pertumbuhan tanaman.







DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, M and Khan, M. Saghir. 2011. Response of Greengram [Vigna radiata (L.) Wilczek] Grown in Herbicide-Amended Soil to Inoculation with Bradyrhizobium sp. (Vigna) MRM6. J. Agr. Sci. Tech.  13(1) : 1209-1222

Atman. 2008. Teknologi Budidaya Kacang Hijau di Lahan Sawah. Ilmiah Tambua 7(1): 89-95.
Cahyono, B. 2010. Kacang Hijau. Penerbit Aneka Ilmu : Semarang.

Chusnia, wilda.,dkk. 2010. Kajian Aplikasi Pupuk Hayati Dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.). Erlangga : Jakarta

Edy, dkk. 2011. Respon Tanaman Jagung Tumpangsari Kacang Hijau Terhadap Perlakuan Parit pada Lahan Kering. Agrotropika 16(1) : 38-44.

Hasibuan,  R dkk. 2011. Pertumbuhan dan hasil kacang hijau (vigna radiata l)Varietas no 129 pada beberapa dosis bantuan fosfat di medium gambut. Erlangga : Jakarta

Hemawati Tiur. 2008. Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.Wilczek). pada Beberapa Takaran Pupuk Kandang Ayam Cair. Agronomy 12(2): 7-9.

Jaleel, C. Abdul et al. 2009. Antioxidant Potensials Protect Vigna RadiataI (L.) Wilczek Plants from Soil Cobalt. Plant Omnics Journal 2(3) : 120-126.

Purwono. 2008. Kacang Hijau. Penerbit Penebar Swadaya : Jakarta.

Shaheen et al. 2012. Comparative nutritional analysis between Vigna radiata and  Vigna mungo of Pakistan. African journal of Biotechnology 11 (25) : 6694-6702.

Syaifuddin. 2010.Perbedaan Waktu Tanam Kacang Hijau Dalam Pertanaman Jagung. Agrisistem 6(1): 1-7.
Taunk J, et al. 2012. Genetic diversity among greengram (Vigna radiata (L.)) genotypes varying in micronutrien content using RAPD markers. Biotechnology 11 : 48-53.

Yugi R, Ahadiyat dan Tri Harjoso, 2012. Karakter Hasil Biji Kacang Hijau Pada Kondisi Pemupukan P dan Intensitas Penyiangan Berbeda. J. Agrivigor 11(2):137-143 







FOTO-FOTO SAAT PENGAMATAN
PENGAMATAN BUDIDAYA KACANG HIJAU

  
Minggu Pertama

Pemilihan Sampel Tanaman




Kacang Hijau Sudah Berbunga dan Berbuah

   
Kacang Hijau Sudah Dipanen Sementara

Hasil Panen Sementara




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...