animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Sabtu, 04 April 2020

Pengaruh Gerakan Pembaharuan Terhadap Perkembangan Islam di Indonesia


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata pelajaran “Pendidikan Agama Islam“ ini yang berjudul “Pengaruh Gerakan Pembaharuan Terhadap Perkembangan Islam di Indonesia
 Makalah  ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah  ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah tentang “Pengaruh Gerakan Pembaharuan Terhadap Perkembangan Islam di Indonesia” ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.


Taba Penanjung, 19 Januari 2019


                                                                                                         Penulis











BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Islam sebagai sebuah agama dengan penyebaran jumlah penganutnya yang meningkat sangat pesat dari tahun ke tahun, dalam sejarah perkembangannya telah berkali-kali megalami pasang surut.
Bermula dari jazirah Arabia pada abad ke-6 M, Islam kemudian menyebar ke berbagai pelosok bumi. Pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah Islam bahkan mampu menaklukkan sebagian daratan Eropa, tepatnya di Andalusia, Spanyol.
Setelah berjaya beberapa abad lamanya, kekuasaan dan kedigdayaan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah akhirnya meredup, hingga akhirnya Spanyol kembali dikuasai oleh kaum kristen Eropa.
Berabad kemudian, Islam kembali menoreh catatan emas dalam sejarah melalui tiga kerajaan besar yang cukup berpengaruh didunia, yakni kerajaan Utsmani di Turki, Syafawi di Persia dan Mughal di India. Setelah bertahan nyaris tiga abad lamanya, kerajaan-kerajaan ini pun akhirnya meredup dan runtuh. Keruntuhan ini tak lain disebabkan oleh faktor internal yaitu intrik politik dikalangan elit penguasa, serta akibat faktor eksternal yaitu peperangan dengan bangsa-bangsa non muslim.
Hikmah dari keruntuhan tiga kerajaan ini, khususnya kerajaan Turki Utsmani telah menyadarkan umat Islam pada satu kenyataan bahwa umat Islam telah tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan dari bangsa lain, khususnya bangsa Eropa.
Kesadaran tersebut telah melahirkan tokoh-tokoh besar sebagai pelopor pembaharuan atau modernisasi dikalangan umat Islam, di antaranya yang terkenal yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab, Said Muhammad Sanusi dan Jamaludin Al-Afgani.
Ide pembaharuan atau modernisasi ini pun akhirnya sampai pula ke negeri kita Indonesia, salah satunya adalah melalui kontak antara jemaah haji Indonesia dengan jemaah dari bangsa lain ditanah suci.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian modernisasi Islam?
2.    Bagaimana perkembangan gerakan modernisasi Islam?
3.    Apa pengaruh modernisasi Islam terhadap Indonesia?
4.    Apa saja bentuk-bentuk modernisasi Islam di Indonesia?
C.      Tujuan Penulisan
Untuk menambah serta memperdalam wawasan dan pengetahuan tentang pengaruh modernisasi atau pembaharuan Islam terhadap Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Modernisasi Islam
Istilah “modern” ini berasal dari kata Latin modernus yang artinya “baru saja”, pengertian modern mengacu bukan hanya kepada “zaman” tetapi yang lebih penting mengacu kepada “cara berfikir dan bertindak”. Peradaban modern ditandai oleh dua ciri utama, yaitu rasionalisasi (cara berfikir yang rasional) dan teknikalisasi (cara bertindak yang teknikal).
Dalam masyarakat Barat kata modernisasi mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat-istiadat, isntitusi-institusi lama dan sebagainya agar semua itu dapat disesuaikan dengan pendapat- pendapat dan keadaan-keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan modern.
Adapun kaitan dengan Islam, modernisasi dimaknai sebagai “upaya menafsirkan Islam melalui pendekatan rasional untuk mensesuaikannya dengan perkembangan zaman dengan melakukan adaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia modern yang sedang berlangsung”.

B.       Perkembangan Gerakan Modernisasi Islam
Pemikiran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam timbul terutama sebagai  hasil kontak yang terjadi antara dunia Islam dan Barat. Dengan adanya kontak itu, umat Islam abad XIX sadar bahwa mereka telah mengalami kemunduran dibandingan dengan Barat.
Kesadaran itu membuat umat Islam berusaha mengejar ketertinggalan serta memulihkan kembali kekuatan Islam seperti sebelumnya, upaya ini pada umumnya didorong oleh dua faktor yang saling mendukung. Faktor yang pertama yaitu pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam. Pembaharuan ini ditandai dengan kemunculan gerakan Wahhabiyah yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703 – 1787 M) di Arabia, kemudian gerakan Sanusiyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Said Muhammad Sanusi (1787 – 1859 M) asal Aljazair. Faktor yang kedua yaitu gagasan untuk menimba ilmu pengetahuan dari barat, ini tercermin dari pengiriman para pelajar muslim oleh penguasa Turki Utsmani dan Mesir serta juga India ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan yang dilanjutkan dengan penterjemahan karya-karya barat ke dalam bahasa Islam.
Gerakan pembaharuan ini pun akhirnya merambah pula ke dunia politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan Islamisme (persatuan Islam sedunia) yang awalnya gagasan ini di usung oleh Wahhabiyah dan Sanusiyah. Namun baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal, Jamaludin Al-Afgani (1839-1897 M) asal Afganistan.[1] Meskipun lahir di Afghanistan, usianya dihabiskan di berbagai bagian Dunia Islam: India, Mesir, Iran, dan Turki. Dia mengembara ke Eropa, dari Saint Petersburg sampai Paris dan London. Di mana pun dia tinggal dan ke mana pun dia pergi, Jamaluddin senantiasa mengumandangkan ide-ide pembaharuan dan modernisasi Islam.
Bersama muridnya, Syaikh Muhammad Abduh (1849–1905) dari Mesir, Jamaluddin pergi ke Paris untuk menerbitkan majalah Al-`Urwah al-Wutsqa (Le Lien Indissoluble), yang berarti “ikatan yang teguh”. Abduh menjadi pemimpin redaksi, dan Jamaluddin menjadi redaktur politik. Nomor perdana terbit 13 Maret 1884 (15 Jumad al-Ula 1301), memuat artikel-artikel dalam bahasa Arab, Perancis, dan Inggris. Terbit setiap Kamis, majalah itu penuh dengan artikel-artikel ilmiah dan mengobarkan semangat umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, serta menyerukan perjuangan umat Islam agar terlepas dari belenggu penjajahan Eropa. Majalah Al-`Urwah al-Wutsqa tersebar di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan kota-kota besar di Eropa. Sayangnya, majalah ini hanya sempat beredar 28 nomor saja dan terpaksa berhenti terbit pada bulan Oktober 1884. Hal ini disebabkan pemerintah kolonial Inggris melarang majalah itu masuk ke Mesir dan India, lalu pemerintah Turki Usmani juga melarangnya beredar di wilayah kekuasaannya, sehingga Al-`Urwah al-Wutsqa kehilangan daerah pemasarannya. Namun dalam masa delapan bulan beredar, majalah Muslim pertama di dunia itu berhasil menanamkan benih-benih modernisasi di kalangan umat Islam.

C.      Pengaruh Modernisasi Islam Terhadap Indonesia
Gerakan pembaharuan yang berkembang di berbagai tempat khususnya dikawasan Timur Tengah telah memberikan pengaruh besar kepada gerakan kebangkitan Islam di Indonesia. Ide gerakan pembaharuan tersebut masuk ke Indonesia melalui berbagai saluran, antaranya lewat kontak para intelektual muslim Indonesia dengan intelektual muslim Timur Tengah, dan kontak jemaah haji Indonesia dengan jemaah luar.
Bermula dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan Islam di Minangkabau, yang disusul oleh pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia yang ditandai dengan berdirinya organisasi Jami’atul Khair (1905), organisasi ini pada dasarnya terbuka untuk semua golongan muslim, namun mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab.
Kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi-organisasi sosial keagamaan, seperti Sarekat Dagang Islam (SDI)di Bogor (1909) dan Solo (1911), Persyarikatan Ulama di Majalengka, Jawa Barat (1911), Muhammadiyah di Yogyakarta (1912), Persatuan Islam (Persis) di Bandung (1920-an), Nahdatul Ulama (NU) di Surabaya (1926), dan Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti) di Candung, Bukittinggi (1930), dan Partai-partai Politik, seperti Sarekat Islam (SI) yang merupakan kelanjutan dari SDI, Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) di Padang Panjang (1932) yang merupakan kelanjutan dan perluasan dari organisasi pendidikan Thawalib dan Partai Islam Indonesia (PII) pada tahun 1938.
Organisasi-organisasi sosial keagamaan Islam dan organisasi-organisasi yang didirikan kaum terpelajar menandakan tumbuhnya benih-benih nasionalisme dalam pengertian modern, yang dikemudian hari berperan aktif dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia.

D.      Bentuk-Bentuk Modernisasi Islam Di Indonesia
Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya.kemunduran kerajaan Utsmani yang merupakan pemangku khalifah Islam setelah abad ke-17 M telah melahirkan kebangkitan Islam dikalangan warga Arab dipinggiran imperium Utsmani.
Gerakan pembaharuan ini akhirnya menyebar luas ke berbagai belahan dunia muslim, termasuk salah satunya ke Indonesia.
Adapun bentuk-bentuk pembaharuan di Indonesia yaitu:
1.    Gerakan Puritanisme
Gerakan ini pertama kali diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Nejd. Gerakan puritanisme ini masuk ke Indonesia melalui tiga orang yang baru pulang dari haji ditanah suci, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka melakukan penentangan terhadap praktek kehidupan beragama masyarakat Minangkabau yang telah banyak terpengaruh oleh unsur-unsur takhayul, khurafat dan bid’ah.
Karena aktifitas mereka di anggap cukup membahayakan keberadaan kaum tua atau kaum adat, maka kaum tua meminta bantuan Belanda. Pada tahun 1821-1837 M terjadilah Perang Paderi.
Dalam pertempuran yang tak seimbang itu kaum ulama mengalami kekalahan. Kekalahan ulama dalam Perang Paderi dalam menghadapi Belanda tidaklah membuat patah semangat para tokoh pejuang pembaharu itu, tetapi gerakannya semakin hebat. Gerakan pembaharuan itu tidak lagi bersifat politik agama, tetapi di alihkan ke dalam gerakan pembaharuan pendidikan.
2.    Gerakan Reformisme
Gerakan reformis adalah suatu gerakan pembaharuan yang dilakukan untuk kembali kepada dasar Islam yang asli. Kelompok ini berusaha menerapkan sistem ajaran Islam seperti yang ada pada zaman Nabi SAW.
3.    Gerakan Radikalisme
Gerakan ini merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para pembaharu Islam untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat Islam, sehingga mereka akan menjadi masyarakat yang maju. Namun sebelum itu, unsur-unsur yang terdapat dalam ajaran Islam yang tercemar oleh takhayul, bid’ah dan khurafat harus dibersihkan terlebih dahulu.
Dalam tatanan pelaksanaan pembaharuan seperti ini, biasanya cara yang ditempuh melalui bentuk-bentuk radikal yang tak jarang dengan menggunakan kekerasan. Pada umumnya, gerakan ini menentang kekuasaan Barat yang kafir.
4.    Gerakan Neo-sufisme
Gerakan ini merupakan kelanjutan dari gerakan yang dilakukan para pembaharu dari kelompok tarekat atau tasawuf dengan mengambil bentuk baru. Bentuk baru itu adalah aktifisme.
Bentuk aktifisme dalam gerakan ini membuat masyarakat menjadi dinamis. Bahkan dengan gerakan ini masyarakat dapat mengembangkan diri tanpa banyak bergantung kepada uluran kelompok atau bangsa lain.
Di antara unsur aktifisme adalah jihad. Melalui kata kunci inilah umat Islam melakukan pembaharuan, terutama menentang segala bentuk penjajahan dan keterbelakangan. Gerakan ini banyak mewarnai berbagai pemberontakan Islam di tanah air dalam masa-masa penjajahan, misalnya pemberontakan petani Banten pada tahun 1888 M.[2]






























BAB III
PENUTUP

A.      Keimpulan
Modernisasi Islam adalah upaya menafsirkan Islam melalui pendekatan rasional untuk mensesuaikannya dengan perkembangan zaman dengan melakukan adaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia modern yang sedang berlangsung.
Pemikiran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam timbul terutama sebagai  hasil kontak yang terjadi antara dunia Islam dan Barat. Dengan adanya kontak itu, umat Islam sadar bahwa mereka telah mengalami kemunduran dibandingan dengan Barat. Kesadaran itu membuat umat Islam berusaha mengejar ketertinggalan serta memulihkan kembali kekuatan Islam seperti sebelumnya.
Ide gerakan modernisasi Islam masuk ke Indonesia melalui berbagai saluran, antaranya lewat kontak para intelektual muslim Indonesia dengan intelektual muslim Timur Tengah, dan kontak jemaah haji Indonesia dengan jemaah luar.
Bentuk-bentuk pembaharuan Islam di Indonesia yaitu; gerakan puritanisme, gerakan reformisme, gerakan radikalisme dan gerakan neo-sufisme.

B.       Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami menyarankan kepada teman-teman sesama mahasiswa untuk mencari informasi lain sebagai tambahan dari apa yang telah kami uraikan di atas.



DAFTAR PUSTAKA

Murodi. tt.  Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: Karya Toha Putra.
Syaukani, Ahmad. 2001. Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, cet-2Bandung: Pustaka Setia.
Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Grafindo Persada.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...