animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Sabtu, 19 Mei 2018

Hasil Penelitian Sosial : "Pengaruh Keharmonisan Keluarga Dalam Pembentukan Karakter Remaja"


HASIL PENELITIAN SOSIAL : "PENGARUH KEHARMONISAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER REMAJA"

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       LATAR BELAKANG MASALAH
Latar belakang saya memilih keharmonisan keluarga sebagai tema pembahasan dalam tugas penelitian aya adalah karena saya menemukan banyak remaja yang tergolong bermasalah dan melakukan penyimpangan-penyimpangan.khususnya remaja di sekolah yang sering berurusan dengan BP/BK.
Setelah survey sekilas,saya mengetahui bahwa kebanyakan dari remaja tersebut berasal dari keluarga yang kondisinya kurang harmonis.

1.2.       TUJUAN PENELITIAN / MAKSUD PENELITIAN
Disamping untuk memenuhi tugas mata pelajaran sosiologi,saya memang sangat tertarik untuk mendalami dan meneliti masalah ini. Tentunya agar mengetahui lebih banyak lagi informasi yang berdasarkan fakta dan dapat berguna di kemudian hari.
Dan agar kita mengetahui sebab-akibat dan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya.Juga untuk membuktikan kebenaran persepsi masyarakat atas cap buruk yang melekat pada remaja broken home melalui kumpulan pendapat masyarakat umum maupun menurut ilmu pengetahuan sosial.
Sehingga kita bisa lebih peka dan cerdas dalam memandang,menilai dan mengatasi suatu hal khususnya dalam masalah seperti ini.

1.3.       RUMUSAN MASALAH
1.    Mengapa tingkat keharmonisan keluarga sangat penting?
2.    Mengapa remaja “Broken Home” cenderung memiliki karakter buruk?
3.    Bagaimana cara menghadapi remaja seperti ini?
4.    Siapa saja yang harus terlibat dalam menyelesaikan masalah ini?
5.    Bagaimana contoh keluarga yang bisa disebut sebagai keluarga “Broken Home” ?
6.    Bagaimana cara menghindari/mencegah hal ini terjadi?
7.    Apakah karakter buruk remaja ini dapat diubah?
8.    Hal seperti apa yang harus dihindari dalam menghadapi remaja seperti ini?

1.4.       METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini saya memilih metode Deskriptif sebagai acuan dalam melakukan penelitian.
1.             Pengertian Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti setatus sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistempeikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskipsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
2.             Ciri-ciri Metode Deskriptif
Secara harfiyah, metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Namun, dalam pengertian metode penelitian yang lebih luas, penelitian deskriptif mencakup metode penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental, dan secara lebih umum sering diberi nama, metode survei.

1.5.       PENJELASAN ISTILAH
       Pengaruh =
Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari suatu orang atau benda yang ikut membentuk watak ,kepercayaan,atau perbuatan seseorang. Misalnya, besar sekali pengaruh orang tua terhadap watak anaknya.

       Keharmonisan =
Keharmonisan adalah keadaan yang selaras atau serasi.
       Keluarga =
Keluarga adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.
       Pembentukan =
Merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan ada dalam kehidupan sehari-hari.
       Karakter =
Bawaan,hati,jiwa,kepribadian,budi pekerti,perilaku,personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak.
       Remaja  =
Suatu usia dimana anak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan sama,atau paling tidak sejajar.

1.6.       POPULASI SAMPEL
       Pengertian
a.             Populasi, adalah Populasi atau universe ialah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian (Arikunto, 1996: 115).
b.             Sampel, adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian atau bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian yang bersifat representatif (Arikunto, 1996: 117).

Jumlah populasi dari penelitian ini adalah 56 responden, tetapi penulis hanya membutuhkan 40 responden untuk diteliti.
 × 280 = 56 responden
Jenis sampel yang di pakai adalah sampel strata,sampel kelompok dan sampel random (acak), alasan memilih sampel strata karena responden yang diteliti berada di tingkat kelas XII. Sampel kelompok karena responden berasal dari kelompok IPA 2,Sedangkan memilih sampel random (sampel acak) karena pengambilan sampel dilakukan dengan memberikan kesempatan yang sama.
Catatan : yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA 2 di SMA NEGERI 3 CIMAHI.

1.7.       SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang Masalah
1.2.        Tujuan Penelitian
1.3.        Rumusan Masalah
1.4.        Metode Penelitian
1.5.        Penjelasan Istilah
1.6.        Populasi Sampel
1.7.        Sistematika Penulisan
BAB II KAJIAN TEORITIS
2.1.        Pengertian dari Keharmonisan
2.2.        Faktor Keharmonisan Keluarga
2.3.        Ciri-ciri Keluarga Harmonis
2.4.        Pengaruh Keharmonisan Keluarga Pada Karakter Remaja
2.5.        Upaya Menjaga Keharmonisan Keluarga
2.6.        Contoh Penyimpangan Akibat Ketidakharmonisan Keluarga
BAB III ISI/PEMBAHASAN
3.1.        Teknik Pengumpulan Data
3.2.        Teknik Pentabulasian Data
3.3.        Kesimpulan Hasil Angket

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.        Kesimpulan
4.2.        Saran


























BAB II
KAJIAN TEORITIS

2.1.  PENGERTIAN KEHARMONISAN
             Keharmonisan adalah keadaan yang selaras atau serasi dalam keluarga.
2.2.  FAKTOR KEHARMONISAN KELUARGA
         Faktor  yang mempengaruhi keharmonisan keluarga antara lain adalah:
1.    Suasana rumah yang menyenangkan
2.    Anggota keluarga saling menghargai dan pengertian
3.    Kondisi ekonomi keluarga yang cukup baik

2.3. CIRI-CIRI KELUARGA HARMONIS
1. Menikmati kehadiran satu sama lain.
2. Saling terbuka dan percaya satu sama lain
3. Saling membantu dan bekerja sama
4. Tidak mempunyai masalah kesehatan yang mengganggu aktivitas
5. Selalu punya waktu luang untuk berlibur bersama
6. Saling mengenal teman dan keluarga masing-masing

2.4. PENGARUH KEHARMONISAN KELUARGA PADA KARAKTER REMAJA
        Banyak penelitian yang dilakukan para ahli,menemukan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang penuh perhatian,hangat,dan harmonis mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dan sosialisasi yang baik dengan lingkungan disekitarnya.
Anak yang mempunyai penyesuaian diri yang baik di sekolah biasanya memiliki latar belakang keluarga yang harmonis,menghargai pendapat anak,dan hangat.Hal ini disebabkan karena anak yang berasal dari keluarga yang harmonis akan mempersepsi rumah mereka sebagai suatu tempat yang membahagiakan karena semakin sedikit masalah antara orang tua,maka semakin sedikit masalah yang dihadapi anak dan begitu juga sebaliknya.
2.5. UPAYA MENJAGA KEHARMONISAN KELUARGA
1. Saling Menghargai
2. Pupuklah Kesabaran
3. Memahami Satu Sama Lain
4. Selalu Ucapkan Terima Kasih
5. Katakan Cinta Sesering Mungkin
6. Buang Jauh Perasaan Negatif
7. Ibadah Bersama

2.6.      CONTOH-CONTOH PENYIMPANGAN AKIBAT KETIDAKHARMONISAN KELUARGA PADA REMAJA
“Broken Home sering kali menjadi pemicu seseorang khususnya remaja melakukan penyimpangan sosial,diantaranya:
1.    Pecandu Narkoba
2.    Perilaku Seks Bebas
3.    Sikap Apatis
4.    Minum minuman Keras/Mabuk
5.    Rasa Ketidakpedulian Seseorang Terhadap Lingkungan Disekitarnya,dll











BAB III
PEMBAHASAN

3.1.  TEKNIK PENGUMPULAN DATA
            Dalam pengumpulan data saya menggunakan sistem penyebaran angket,yaitu dengan menuliskan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada responden. Angket terdiri dari 2 jenis yaitu angket terbuka dan angket tertutup, pada kesempatan kali ini saya menggunakan angket tertutup karena dalam menjawab pertanyaan yang diajukan responden memilih salah satu ketentuan yang diajukan yaitu YA/TIDAK/KADANG.

3.2. TEKNIK PENTABULASIAN DATA
Teknik pentabulasian data yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel untuk mengakumulasikan dan menghitung jumlah jawaban responden dengan menggunakan turus/taly.

3.3. KESIMPULAN HASIL ANGKET
*Pertanyaan 1
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 40 orang menjawab “YA” dan 0 menjawab “TIDAK” dan 2 orang  menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa keharmonisan keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter remaja.

*Pertanyaan 2
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 4 orang menjawab “YA” dan 9 orang menjawab “Tidak“ dan 22 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa kadang remaja broken home cenderung melakukan penyimpangan.




*Pertanyaan 3
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 19 orang menjawab “YA” dan 6 orang menjawab “TIDAK” dan 17 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa penyimpangan yang mereka lakukan adalah bentuk mencari perhatian orang lain.

*Pertanyaan 4
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban reponden dengan 2 orang menjawab “YA” dan 34 orang menjawab “TIDAK” dan 6 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa bagi para responden,remajabroken home tidak selalu dicap sebagai anak nakal.

*Pertanyaan 5
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban reponden dengan 25 orang menjawab “YA” dan 7 orang menjawab “TIDAK” dan 10 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa lingkungan sekitar mempengaruhi karakter remaja broken home.

*Pertanyaan 6
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 24 orang menjawab “YA” dan 6 orang menjawab “TIDAK” dan 12 orang menjawab “KADANG” dapat
disimpulkan bahwa perceraian orang tua dapat dikatakan sebagai keluarga broken home.

*Pertanyaan 7
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 1 orang menjawab “YA” dan 37 orang menjawab “TIDAK” dan 4 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa kesulitan ekonomi keluarga tidak dikatakan sebagai keluarga broken home.


*Pertanyaan 8
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 7 orang menjawab “YA” dan 21 orang menjawab “TIDAK” dan 14 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa keluarga dengan bentuk poligami tidak dikatakan sebagai keluarga broken home.

*Pertanyaan 9
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 4 orang menjawab “YA” dan 33 orang menjawab “TIDAK” dan 5 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa memiliki orang tua tiri karena salah satu orang tua sudah meninggal tidak dikatakan sebagai keluarga broken home.

*Pertanyaan 10
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 37 orang menjawab “YA” dan 3 orang menjawab “TIDAK” dan 2 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa dampak negative bagi jiwa remaja yang berasal dari keluarga broken home dapat dicegah.

*Pertanyaan 11
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 36 orang menjawab “YA” dan 1 orang menjawab “TIDAK” dan 5 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa jika sudah terlanjur terjerumus,karakter buruk tersebut dapat diubah.

*Pertanyaan 12
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 2 orang menjawab “YA” dan 39 orang menjawab “TIDAK” dan 1 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa remaja dengan keluargabroken home tidak perlu dijauhi/dihindari.


*Pertanyaan 13
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 8 orang menjwab “YA” dan 13 orang menjawab “TIDAK” dan 21 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa berteman dengan remaja seperti ini kadang bisa membawa pengaruh besar bagi diri kita juga.

*Pertanyaan 14
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 5 orang menjawab “YA” dan 22 orang menjawab “TIDAK” dan 15 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulakan bahwa dalam keluarga broken home,orang tua tidak harus selalu disalahkan.

*Pertanyaan 15.
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 17 orang menjawab “YA” dan 5 orang menjawab “TIDAK” dan 25 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa tempramen remaja broken home kadang lebih tinggi dibanding remaja dengan keluarga harmonis.

*Pertanyaan 16
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 31 orang menjawab “YA” dan 9 orang menjawab “TIDAK” dan 2 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa kebanyakan responden mempunyai teman yang berlatar belakang broken homedi lingkungannya.

*Pertanyaan 17
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 2 orang menjawab “YA” dan 25 orang menjawab “TIDAK” dan 19 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka tidak selalu memiliki karakter buruk.

*Pertanyaan 18
Berdasarkan jumlah pengitungan jawaban responden dengan 2 orang menjawab “YA” dan 38 orang menjawab “TIDAK” dan 2 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa kebanyakan responden tidak menghindari/menjaga jarak dari remaja tersebut.

*Pertanyaan 19
Berdasarkan jumlah penghitungan jawaban responden dengan 5 orang menjawab “YA” dan 22 orang menjawab “TIDAK” dan 15 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa tekanan yang datang dari luar seperti hinaan dan ejekan,tidak membuat remaja broken home berubah menjadi karakter yang lebih baik.

*Pertanyaan 20
Berdasarkan jumlah pengitungan jawaban responden dengan 32 orang menjawab “YA” dan 4 orang menjawab “TIDAK” dan 6 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa kebanyakan responden mengaku bahwa keluarganya adalah tipe keluarga harmonis.

*Pertanyaan 21
Berdasarkan jumlah pengitungan jawaban responden dengan 6 orang menjawab ”YA” dan 22 orang menjawab “TIDAK“ dan 14 orang menjawab “KADANG” dapat disimpulkan bahwa penyimpangan adalah hal yang tidak wajar sekalipun dilakukan oleh remaja broken home.






BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.  KESIMPULAN
          Lingkungan keluarga yang kondusif dapat menciptakan factor ketenangan pada diri seseorang.Demikian juga dengan perhatian dan kasih sayang seseorang atau orang tua kepada anak mereka.Perasaan tenang secara alami yang tidak didapat dari dalam keluarga dapat mencegah seseorang mencari ketenangan dalam bentuk lain dengan berbagai cara. Terutama remaja yang mengalami masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Dalam masa ini remaja membutuhkan pengawasan dan perhatian dari orang-orang terdekatnya terutama orangtuanya untuk selalu membimbingnya dalam melakukan pilihan-pilihan hidup yang dialaminya. Remaja yang tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian seperti dalam keluarga broken home seringkali melakukan kesalahan dalam pilihan hidupnya yang berakhir pada penyimpangan sosial dan menjadi karakternya.

4.2. SARAN
Banyak cara sebenarnya yang bias  dilakukan untuk mengatasi problem ini. Yaitu dengan peka dan menghargai juga menjaga sikap kita dalam menghadapi mereka. Menurut saya,kita bisa memberi masukan-masukan positif dan berguna agar mereka tetap merasa dihargai dan disayang oleh orang-orang sekitarnya. Bukan malah dihujat dan dihakimi.karna pada dasarnya mereka juga tidak pernah mau memilih menjadi seperti itu.
Dalam hal ini diperlukan juga kerjasama orangtua maupun keluarga dalam membina remaja sehingga mereka tetap merasa diperhatikan. Lingkungan sekolah dan sekitarpun diharapkan dapat mengerti dan memberikan suasana yang menyenangkan dan menenangkan sehingga remaja tidak memendam perasaannya sendiri yang dapat beralih menjadi tekanan dan dituangkan dalam penyimpangan-penyimpangan yang merugikan diri si remaja maupun orang lain disekitarnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...