animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Sabtu, 19 Mei 2018

Konflik Sosial


KONFLIK SOSIAL

A.          Pengertian Konflik Sosial
Konflik berasal dari kata kerja lain Configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha memikirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, orang dengan kenyataan apa yang diharapkan. Konflik juga merupakan perselisihan atau perjuangan diantara dua pihak (two parties). Yang ditandai dengan menunjukkan permusuhan secara terbuka atau mengganggu dengan sengaja pencapaian tujuan pihak yang menjadi lawannya.

B.          Faktor Penyebab Konflik Sosial
Sumber konflik dapat bersifat rasional dan tidak rasional. Oleh karena itu, kita tidak dapat menetapkan secara tegas bahwa yang menjadi sumber konflik adalah sesuatu hal tertentu pada hal-hal yang bersifat rasional. Penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai berikut :
1.            Perbedaan kebutuhan, nilai, dan tujuan.
2.            Langkahnya sumber daya, seperti kekuatan, pengaruh, ruang waktu, uang, popularitas, dan posisi.
3.            Persaingan.
Soerjono Soekanto (1987) mengemukakan bahwa sebab-sebab terjadinya konflik sebagai berikut :
1.            Perbedaan Antarperoerangan
Perbedaan ini berupa perbedaan perasaan, pendirian, atau pendapat. Misalnya dalam suatu diskusi kelas.
2.            Perbedaan Kebudayaan
Perbedaan kebudayaan memengaruhi pola pemikiran dan tingkah laku perseorangan kelompok yang bersangkutan.
3.            Bentrokan Kepentingan
Bentrokan kepentingan dapat terjadi dibidang ekonomi, politik, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan setiap individu memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam melihat atau mengerjakan sesuatu.


4.            Perubahan Sosial yang Terlalu Cepat didalam Masyarakat
Perubahan adalah sesuatu yang wajar terjadi, namun jika terjadi secara cepat akan menyebabkan gejolak sosial, karena adanya ketidaksiapan dan keterkejutan masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya konflik sosial.
Ada juga yang menyebabkan atau berpeluang menimbulkan konflik “Persaingan dan Kontravensi”.
1.            Persaingan (Competition)
Ada dua macam persaingan, yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan kelompok. Persaingan pribadi merupakan persaingan yang dilakukan orang perorang atau individu untuk memperoleh kedudukan dalam organisasi. Persaingan kelompok, misal terjadi antara dua perusahaan dengan produk yang sama untuk memperebutkan pasar di suatu wilayah.
a.            Persaingan di Bidang Kebudayaan
Merupakan persaingan antara dua kebudayaan untuk merebutkan pasar di suatu wilayah.
b.           Persaingan Kedudukan dan Peranan
Terjadi apabila dalam diri seseorang atau kelompok terdapat keinginan-keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan dan peranan terpandang.
c.             Persaingan Ras
Perbedaan ras baik perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun jenis rambut hanya merupakan sebuah simbol kesadaran dan sikap atau perbedaan-perbedaan dalam kebudayaan.
Hal-hal positif yang dihasilkan dengan adanya persaingan yaitu :
a.            Makin kuatnya solidaritas kelompok
b.            Dicapainya kemajuan
c.             Terbentuknya kepribadian seseorang









2.            Kontravensi
Kontravensi berasal dari bahasa latin, contra dan venire yang berarti menghalangi atau menantang.
Menurut Leopold Von Wise dan Howard Becker macam-macam bentuk kontravensi.
a.            Kontravensi umum yaitu dilakukan dengan penolakan, kekerasan.
b.            Kontravensi sederhana yaitu dilakukn dengan mencerca dan memfitnah.
c.             Kontravensi intensif yaitu dilakukan dengan menghasut.
d.            Kontravensi rahasia yaitu dilakukan dengan penghianatan.
e.             Kontravensi taktis yaitu dilkukan dengan mengganggu pihak lain.
Menurut Anoraga (dalam Saputro, 2003) suatu konflik dapat terjadi karena :
a.            Perbedaan pendapat
b.            Salah paham
c.             Ada pihak yang dirugikan
d.            Perasaan sensitif

C.          Proses Terjadinya Konflik Sosial
Menurut Robbins (1996) proses konflik terdiri dari lima tahap yaitu :
1.            Oposisi atau Ketidakcocokan Potensial
Oposisi atau ketidakcocokan potensial adalah adanya kondisi yang menciptakan kesempatan untuk munculnya konflik. Kondisi dikelompokkan dalam kategori : komunikasi struktur dan variabel pribadi. Komunikasi yang buruk alasan utama konflik. Struktur juga bisa menjadi titik awal konflik. Struktur dalam hal ini menliputi ukuran, derajat spesialisasi, dalam tugas yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi, tujuan, kejelasan jurisdiksi dan lain-lain. Variabel pribadi juga bisa menjadi titik awal dari konflik.








2.            Kognisi dan Personalisasi
Kognisi dan personalisasi adalah persepsi dari salah satu pihak atau masing-masing pihak terhadap konflik yang sedang dihadapi. Perlibatan emosional dalam suatu konflik yang akan menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi, dan permusuhan.
Kognisi dan personalisasi merupakan tahap dimana isu-isu konflik biasanya didefinisikan dan akan menentukan jalan untuk menyelesaikan konflik. Konflik disyaratkan adanya resepsi dengan kata lain bahwa tidak berarti konflik bersifat personalisasi.
3.            Maksud
Maksud adalah keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertent dari pihak-pihak yang berkonflik. Maksud dari pihak yang berkonflik ini akan mencerminkan atau terwujud dalam perilaku walaupun tidak konsisten. Maksud dalam penanganan suatu konflik yaitu:
a.            Bersaing, tegas dan tidak kooperatif, yaitu suatu hasrat untuk memuaskan kepentingan seseorang atau diri sendiri.
b.            Berkolaborasi, bila pihak-pihak yang berkonflik masing-masing hasrat untuk memenuhi kepentingan semua pihak.
c.             Menghindar, jika salah satu dari pihak yang berkonflik mempunyai hasrat untuk menarik diri.
d.            Mengakomodasi satu dari pihak berusaha untuk memuaskan seorang lawan.
e.             Berkompromi, suatu konflik yang bersedia untuk melepaskan atau mengurangi tuntutan masing-masing.
4.            Perilaku
Mencakup pernyataan, tindakan, dan reaksi yang dibuat untuk menghancurkan pihak lain, serangan fisik yang agresif, dan ketidaksepakatan, atau salah paham kecil.
5.            Hasil
Jalinan aksi reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik dan menghasilkan konsekuensi, bersifat fungsional artinya konflik menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok atau disfungsional. Perilaku meliputi, upaya terang-terangan untuk menghancur pihak lain, serangan fisik yang agresif.



D.          Macam-Macam Konflik Sosial
Konflik dikarenakan adanya perbedaan dan keragaman konflik horizontal, adalah konflik yang bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan seperti di Papua, Poso, dan Sampit. Konflik vertikel adalah konflik yang terjadi antara masyarakat dan negara.
1.            Menurut Soerjono Soekanto (1989)
Konflik mempunyai beberapa bentuk khusus yaitu:
a.            Konflik pribadi
Konflik yang terjadi dalam diri seseorang terhadap lain. Konflik pribadi diawali perasaan tidak suka terhadap orang lain yang pada akhirnya melahirkan perasaan benci yang mendalam.
b.           Konflik rasional
Terjadi disuatu negara yang memiliki keragaman suku dan ras. Secara umum ras dikelompok menjadi lima ras yaitu, mongoloid, kaukosoid, negroid, dan ras-ras khusus.
c.             Konflik antarkelas sosial
Kelas-kelas di masyarakat terjadi karena adanya suatu yang hargai. Seperti kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan.
d.           Konflik antar golongan
Politik adalah cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah. Konflik-konflik terjadi karena setiap golongan di masyarakat melakukan politik yang berbeda-beda pada saat menghadapi suatu masalah yang sama.
e.             Konflik bersifat internasional
Konflik Internasional terjadi karena perbedaan kepentingan yang menyangkut kedaulatan negara yang saling berkonflik. Konflik ini berlangsung dalam kurang waktu yang lama dan pada akhirnya menimbulkan perang antar bangsa.
2.            Menurut Mulyasa (2003)
a.            Konflik Intrapersonal
Yaitu konflik internal yang terjadi dalam diri seseorang.
b.           Konflik Interpersonal
Yaitu konflik yang terjadi antar individu. Konflik yang terjadi ketika adanya perbedaan tentang isu tertentu.



c.             Konflik Intragrup
Yaitu konflik antara golongan dalam suatu kelompok. Konflik substantif terjadi karena adanya latar belakang yang berbeda. Konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi tertentu.
d.           Konflik Intergrup
Yaitu konflik yang terjadi antar kelompok, konflik intergrup terjadi karena adanya saling ketergantungan, perbedaan persepsi, perbedaan tujuan, dan meningkatkan tuntutan akan keahlian.
e.             Konflik Intaorganisasi
Yaitu konflik yang terjadi antar bagian dalam suatu organisasi, misal antara bidang kurikulum.
f.             Konflik interoganisasi
Adalah hal yang tidak asing lagi, konflik ini menyebabkan sulitnya koordinasi dan interaksi dari kegiatan yang berkaitan dengan tugas-tugas dan pekerjaan.
3.            Menurut Dahrendorf (1986)
a.            Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi)
b.            Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, geng)
c.             Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massal)
d.            Konflik antar satuan nasional (perang saudara)

E.          Dampak Konflik Sosial
1.            Dampak secara langsung
Antara lain sebagai berikut:
a.            Menimbulkan keretakan hubungan antar individu atau kelompok lainnya.
b.            Adanya perubahan kepribadian seseorang. Selalu merasa muncul rasa curiga, rasa benci, dapat dirubah menjadi tindak kekerasan.
c.             Hancurnya harta benda dan korban jiwa.
d.            Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya keamanan.
2.            Dampak Tidak Langsung
Dampak jangka panjang suatu konflik yang secara langsung dirasakan oleh pihak-pihak yang berkonflik.


3.            Dampak Positif Adanya Konflik
a.            Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok.
b.            Munculnya pribadi-pribadi yang kuat menghadapi berbagai situasi konflik.
c.             Membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru.
d.            Munculnya kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan seimbang.
e.             Konflik dapat memperjelas berbagai aspek kehidupan yang masih belum tuntas.
f.              Konflik dapat mengurangi rasa ketergantungan terhadap individu atau kelompok.
4.            Dampak Negatif Adanya Konflik
a.            Menimbulkan keretakan hubungan antara individu dan kelompok.
b.            Menyebabkan rusaknya berbagai harta benda dan jatuhnya korban jiwa.
c.             Menyebabkan adanya perubahan kepribaian.
d.            Konflik dominasi kelompok pemenang.

F.           Hubungan Antara Konflik Sosial Dengan Kekerasan
1.            Pengertian Kekerasan
Kekerasan adalah sebagai perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa seseorang yang menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.
Menurut Soerjono Soekanto, kekerasan ( violence) diartikan sebagai penggunaan kekuatan fisik secara paksa terhadap orang atau benda.
2.            Bentuk-Bentuk Kekerasan
a.            Kekerasan langsung (direct violence) suatu bentuk kekerasan yang dilakukan secara langsung terhadap pihak-pihak yang ingin dicederai atau dilukai.
b.            Kekerasan tidak langsung (indirect violence) suatu betuk kekerasa yang dilakukan seseorang terhadap seseorang. Seperti mengekang, mengitimidasi, menfitnah, dan perbuatan-perbuatan lainnya.




3.            Teori-Teori Kekerasan
Menurut Thomas Santoso (2002) teori kekerasan dapat menjadi tiga kelompok yaitu:
a.            Teori kekerasan sebagai tindakan aktor (individu) atau kelompok
b.            Teori kekerasan struktur
c.             Teori kekerasan sebagai kaitan citra aktor dan struktu.
4.            Sebab-Sebab Terjadinya Kekerasan
Menurut Thomas Hobbes (1839), kekerasan merupakan suatu yang alamiah dalam manusia.
Kekerasan terjadi karena situasi dan kondisi yang mengharuskan seseorang melakukan tindak kekerasan
5.            Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan
a.            Kampanye anti kekerasan
b.            Mengajak masyarakat untuk menyelesaikan masalah sosial dengan cara bijak.
c.             Penegakan hukum secara adil dan bersih
d.            Menciptakan pemerintah yang baik
6.            Upaya Mengatasi Konflik Sosial
1.            Pengendalian Secara Umum
Beberapa cara dalam upaya mengendalikan atau meredakan sebuah konflik, sebagai berikut:
a.           Konsiliasi (Conciliation)
Konsiliasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tertentun yang dapat memberikan keputusan dengan adil.
b.           Arbitrasi (Arbitration)
 Arbitrasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik menyetujuinya.
c.            Mediasi (Mediation)
Mediasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial dimana pihak-pihak yang berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga sebagai mediator.
d.           Adjudication
Adjudication merupakan cara penyelesaian konflik melalui pengadilan yang tetap dan adil.

e.            Segregasi (Segregation)
Upaya saling menghindar atau memisahkan diri untuk mengurangi ketegangan.
f.             Slamate
Konflik yang berhenti dengan sendirinya karena kekuatan yang seimbang.
g.           Kompromi (Compromise)
Kedua pihak yang bertentangan berusaha mencari.
h.           Konversi
Salah satu pihak mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain.
i.              Coercion
Penyelesaian konflik dengan paksaan.
2.            Pengendalian Menggunakan Manajemen Konflik
Cooperativiness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu atau kelompoknya lain, assertivenes merupakan keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat indvidu atau kelompok sendiri. Ada lima gaya manajemen konflik yaitu:
a.            Tindakan menghindari
b.           Kompetisi atau komando otoritatif
c.            Akomodasi atau meratakan.
d.           Kompromis
e.            Kolaborasi (kerja sama)
3.            Hasil Manajemen Konflik
a.           Konflik Kalah-Kalah
Konflik kalah-kalah terjadi apabila tak seorang pun diantara pihak yang terlibat mencapi tujuan yang sebenarnya dan alasan atau faktor-faktor penyebab konflik tidak mengalami perubahan.
b.           Konflik Menang-Kalah
Pada konflik menang-kalah, salah satu pihak mencapai apa yang diinginkannya dengan mengorbankan keinginan pihak lain
c.            Konflik Menang-Menang
Konflik menang-menang dilaksanakan dengan jalan menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam konflik yang terjadi.


4.            Konflik Melalui Kekuatan
Konsep perdamaian melalui kekuatan mendukung penggunaan cara apapun yang di perlukan. Tindakan tersebut dijalankan oleh negara, polisi atau militer, dan sistem pengadilan kriminal.
5.            Pola Kontrol Hukum
Penegakan hukum secara efektif yang digabungkan dengan program sosial untuk menghadapi para pelanggar huku ditingkat lokal, serta hukum untuk melindungi hak asasi manusia.
6.            Keamanan Bersama dan Konflik Tanpa Kekerasan
Pendekatan ini menekankan pada kerja sama dan konflik tanpa kekerasan. Secara singkat, pendekatan keamanan bersama menghendaki adanya permulaan kembali semua pendekatan mendasar terhadap hubungan manusia dari tingkat keluarga sampai pada sistem dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...