animasi-bergerak-selamat-datang-0276

Senin, 21 Mei 2018

Jenis Tari Tunggal Dan Kelompok Kreasi Nonetnik


HALAMAN PENGESAHAN

Makalah ini telah disetujui oleh pembimbing SMA Negeri 2 Bengkulu Tengah pada:

Hari                : Rabu
Tanggal          : …………………. 2017
Tempat           : SMA Negeri 2 Bengkulu Tengah






Mengetahui,
Guru Pembimbing



Fitriyanti, S.Pd.


















KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. alhamdulillahirabbilalamin.
Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan dan menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta yakni nabi Muhammad SAW.
Makalah ini memuat tentang “Jenis Tari Tunggal Dan Kelompok Kreasi Nonetnik”. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Saya mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.           


       Taba Penanjung, 14 Agustus 2017    


       penyusun



















DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang……………………………………………………………………..   1
B.            Rumusan Masalah………………………………………………………………….  1
C.            Tujuan Penulisan…………………………………………………………………..   1

BAB II PEMBAHASAN
A.           Pengertian Pola Garapan/Koreografi dan Jenis Tari Menurut Pola Garapan/Koreografi………………………………………………………………..  2
B.            Orientasi Sosial…………………………………………………………………….  8
C.            Orientasi Artistik…………………………………………………………………..   12
D.           Jumlah Penarinya…………………………………………………………………..  12

BAB III PENUTUP
A.           Kesimpulan………………………………………………………………………...   14
B.            Saran……………………………………………………………………………….   14

DAFTAR PUSTAKA














BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Berdasarkan bentuk koreografinya, tari dapat dibagi menjadi beberapa jenis atau bentuk, yaitu tari tunggal (solo), tari duet (pas de deax) atau massal berpasangan, dan tari kelompok (group choreography) yang didasarkan pada jumlah penarinya.
Adapun tari nonetnik adalah sebutan dari kategori tari yang terlepas dari ikatan etnik (kesukuan). Tari kreasi nonetnik merupakan tari hasil kreasi sendiri yang menggambarkan gerak sehari-hari atau gerak binatang. Gerak tari kreasi nonetnik cenderung membuka lebar-lebar keinginan penari. Tubuh beserta anggota tubuh di perlakukan secara luwes yang bias digerakkan kemana saja sesuai dengan tujuan tari. Satu hal yang selalu mencirikan tari kreasi nonetnik adalah “kebebasan”.

B.            Rumusan Masalah
1.             Apa pengertian tari tunggal dan kelompok?
2.             Jelaskan apa saja yang terdapat dalam pola garapan?
3.             Jelaskan apa saja yang terdapat dalam orientasi social?
4.             Jelaskan apa saja yang terdapat dalam orientasi artistic?
5.             Jelaskan berapa saja jumlah penari dalam tari tunggal, massal, berpasangan, serta berkelompok?

C.           Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini guna memenuhi tugas dari guru Seni Budaya yaitu ibu Fitriyanti, S.Pd. manfaat yang dapat di peroleh oleh penyusun melalui makalah ini yaitu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu acuan  dalam membuat makalah berikutnya, sehingga dalam penyusunan makalah yang akan datang hal-hal yang sudah baik ditingkatkan dan yang salah diperbaiki serta untuk menambah wawasan kami mengenai seni tari di Indonesia. Melalui makalah ini manfaat yang dapat diperoleh oleh pelajar adalah sehingga setelah membaca makalah ini, pelajar dapat terus menjaga dan melestarikan seni tari serta menemukan cara-cara terbaru untuk mengatasinya agar tarian suatu daerah di Indonesia dapat terjaga sampai generasi selanjutnya.





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pola Garapan/koreografi dan Jenis Tari Menurut Pola Garapan/ Koreografi
1.      Pengertian Pola Garapan/koreografi
Koreografi adalah melatih daya kreatif seseorang untuk diungkapkan dalam penyusunan tari. Sal Murgianto mengemukakan tentang pemahaman kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau ide-ide baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh penyusunnya sendiri. Komposisi atau composition berasal dari kata to composeyang artinya, mengatur atau menata bagian-bagian  sedemikian rupa sehingga satu sama lain saling berhubungan dan secara bersama membentuk kesatuan yang utuh.  Istilah koreografi berbeda dengan komposisi, komposisi lebih luas dan umum penerapannya. Koreografi adalah proses pemilihan dan pengaturan gerakan-gerakan menjadi sebuah tarian, dan di dalamnya terdapat laku kreatif.
Dari pemahaman di atas, koreografi dan komposisi merupakan kerja kreatif dalam mewujudkan karya tari, dan untuk keberhasilannya dibutuhkan acuan ilmu/pengetahuan sebagai bahan pertimbangan, berupa prinsip-prinsip tari agar mendapatkan hasil karya tari yang baik.
Kemampuan seseorang untuk melaksanakan tugas ini bergantung pada pendidikan, pengalaman, selera, perkembangan artistik, pembawaan pribadi, kemampuan kreatif, dan keterampilan teknisnya. Kemampuan membuat keputusan atau kemampuan memilih ide, bahan dan cara-cara pelaksanaan yang sesuai dan menolak yang tidak sesuai dengan kebutuhan kreatif seseorang, biasanya dianggap bersifat intuitif (gerak hati). Namun pada kenyataannya penilaian artistik ini dipengaruhi oleh adanya prinsip-prinsip bentuk seni yang tampaknya dipahami, diakui dan yang membimbing usaha manusia sejak memulai kesenian. Prinsip-prinsip semacam ini tidaklah membeku menjadi sekumpulan aturan kaku yang merumuskan bentuk seni. Akan tetapi, lebih merupakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam rangka mencapai sebuah komposisi yang memenuhi syarat secara estetis.




Berdasarkan pola garapannya,  tari di Indonesia dapat dibagi menjadi dua yakni tari tradisional dan tari kreasi baru. Tari tradisional adalah tarian yang mengalami masa yang cukup lama dan selalu berpola pada kaidah-kaidah (tradisi) yang telah ada. Tari kreasi baru adalah tarian yang tidak berpijak pada kaidah kaidah yang telah ada, tetapi sudah mengarah kepada kebebasan dalam pengungkapannya. Tari tradisional berdasarkan nilai artistik garapannya dibagi menjadi 3 yakni tari primitif, tari rakyat dan tari klasik. Sedangkan tari kreasi baru dibagi menjadi 2 yakni tari kreasi baru yang bersumber pada pola tradisi, dan tari kreasi baru yang tidak berpijak pada pola tradisi yang ada.

2.      Jenis Tari Berdasarkan Pola Garapan
a.      Tari Tradisional
Kata tradisi dalam perbincangan umum, sering diartikan sebuah kebiasaan. Tradisi adalah suatu  kebiasaan yang sifatnya turun temurun, berulang-ulang dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam kurun waktu yang panjang. Didalam suatu tradisi terkandung nilai-nilai dan norma-norma yang mengikat bagi masyrakatnya. Bertitik tolak dari pandangan umum,  tari tradisional adalah tarian yang tumbuh dan berkembang dalam suatu wilayah atau suatu komunitas, sehingga kemudian menciptakan suatu identitas budaya dari masyarakat bersangkutan.  Berdasarkan uraian di atas kemudian dikenal tari-tarian Minang, Sunda, Jawa, Bali, Kalimantan dan sebagainya. Akan tetapi tari tradisi bukan hanya hidup dan berkembang di wilayah  asalnya saja, melainkan banyak juga yang berkembang di luar wilayah tersebut. Misalnya tari Aceh, Minang dan Jawa berkembang pula di kota Jakarta.  Demikian pula tari Bali juga bisa berkembang di Yogyakarta atau di kota Bandung yang secara geografis bukan wilayah Bali. Tetapi dimanapun tari tradisi berkembang, tarian tersebut bisa dikenali dari ciri-cirinya yang khas, dan diakui berasal dari wilayah asalnya. Ciri-ciri tersebut meliputi unsur gerak, tata rias,  busana, dan  musik pengiringnya.
Selain dari wilayah geografis etnisnya, tingkatan atau strata sosial budaya suatu kelompok masyarakat ikut pula wewarnai kekhasan kehidupan tarinya. Oleh sebab itu  tari-tarian yang tumbuh di lingkungan kaum bangsawan (ningrat) atau istana, bentuk tariannya berbeda dengan tarian yang hidup dalam kalangan rakyat umum di desa-desa. Demikian juga tarian di kota berbeda dengan tarian di desa atau kampung.

Tari tradisional berdasarkan  nilai artistik garapannya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu tari primitif, tari rakyat, dan tari klasik.
1)           Tari Primitif
Tari primitif bersifat magis atau sakral dan berciri khas sederhana. Apabila ditinjau dari terminologi primitif berasal dari kata primus  (bahasa latin) yang berarti pertama. Dengan demikian tarian ini dapat dikatakan tarian yang paling tua umurnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa tarian primitif telah ada semenjak manusia ada di dunia ini, atau boleh dikaitkan hampir seumur manusia. Bentuk-bentuk gerak tarian primitif nampaknya belum digarap komposisinya. Tata busana, tata rias, iringan musiknyapun sangat sederhana,  terutama pada  tata panggung dengan segala perlengkapannya. Pada jaman dahulu tarian primitif terdapat di mana-mana, di seluruh pelosok dunia yaitu pada jaman prasejarah, tetapi sekarang hanya terdapat di suku pedalaman yang masih menjalankan tata kehidupan masyarakat primitif. Tarian ini hanya diselenggarakan pada upacara-upacara adat dan agama. Gerak tariannya  sangat sederhana, yaitu merupakan desain-desain global, yang  hanya berupa depakan-depakan kaki, loncatan-loncatan, langkah-langkah dan gerakan anggota badan tertentu saja.Bentuk tari-tarian mereka masih sederhana pula sesuai instrumen musik pengiringnya yang sederhana dan hanya terdapat satu macam instrumen musik. Tari-tarian mereka hanya menirukan gerak alam dengan gerakan tangan, kepala, serta depakan kaki.
Tari primitif lebih mengutamakan ungkapan ekspresi kehendak atau keyakinan dari pada artistiknya.
Oleh karenanya gerak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu saja. Fungsi tari tersebut untuk upacara kelahiran, upacara akil balig, upacara perkawinan, menyambut tamu, kematian, akan melakukan perburuan, untuk mendatangkan hujan (untuk kesuburan), akan melakukan peperangan, untuk menyambut kemenangan dan sebagainya. Musik pengiringnya sangat sederhana sekali, dengan ritme yang berulang-ulang sehingga sangat mudah untuk diikuti oleh penari-penarinya. Ritme yang demikian ini berlangsung sangat lama yang mengakibatkan penari makin menyatu dengan ritme tersebut sehingga terjadi gerakan di bawah sadar yakni menimbulkan daya magis dan akhirnya penari menjadi trance (kerasukan).
Dalam keadaan demikian ini biasanya penari-penari tersebut mempunyai kekuatan kekuatan di luar kemampuan manusia biasa seperti menyembuhkan penyakit, tak terluka dengan senjata tajam, tak hangus oleh api, bisa menari sangat indah dan menarik.
Instrumen pengiring jumlahnya tidak banyak, kadang kala hanya berupa kentongan saja, gendang, genta, sungu, terompet yang terbuat dari bambu, kayu, kulit keong dan sebagainya, bahkan sering hanya diiringidengan gerakan-gerakan kaki, tepukan tangan, nyanyian, dan teriakan-teriakan saja.
a.             Tari primitif merupakan tari yang berkembang didaerah yang menganut kepercayaan animisme, dan dinamisme. Tari ini merupakan tari yang memuja roh para leluhur dan estetika seni. Tari primitif biasanya merupakan wujud dan kehendak berupa pernyataan maksud permohonan tarian tersebut dilaksanakan. Ciri tari pada zaman primitif adalah kesederhanaan pada kostum, gerak dan iringan. Tujuan utama dari tarian ini adalah untuk mewujudkan suatu kehendak tertentu, sehingga ekspresi  yang dilakukan berhubungan dengan permintaan yang diinginkan. Ciri-ciri  tari  primitif antara lain:  gerak dan iringan sangat sederhana berupa hentakan kaki, tepukan tangan/  simbol suara/  gerak-gerak saja yang dilakukan.
b.             Gerakan dilakukan untuk tujuan tertentu misalnya menirukan gerak binatang karena berburu, proses inisiasi, kelahiran, perkawinan, dan panen.
c.             Instrumen sangat sederhana terdiri dari tifa, kendang, / intrumen yang hanya dipukul secara tetap bahkan tanpa memperhatikan dinamika.
d.             Tata rias sederhana bahkan bisa berakulturasi dengan alam sekitar.
e.             Tari bersifat sakral karena untuk upacara keagamaan.
f.              Tarian primitif tumbuh dan berkembang pada masyarakat sejak zaman prasejarah yaitu zaman sebelum munculnya kerajaan sehingga belum mempunyai pemimpin secara formal. Kehidupan masyarakat masih bergerombol, berpindah -pindah dan bercocok tanam.
g.             Tarian primitif dasar geraknya adalah maksud dan kehendak hati dan pernyataan kolektif. 
h.             Atribut pakaian menggunakan bulu-buluan dan daun-daunan.
i.               Formasi pada tarian primitif biasanya berbentuk lingkaran karena menggambar kekuatan.
j.               Tarian ini berkembang pada masyarakat yang menganut  pola tradisi primitif / purba dimana berhubungan dengan pemujaan nenek moyang dan penyembahan leluhur.

Berikut ini beberapa contoh tari primitif.
a)            Tari Kataga (Nusa Tenggara Timur)
Tari Kataga diselenggarakan sebelum maju ke medan perang sebagai sarana untuk menggugah semangat para ksatria yang akan maju ke medan perang. Dalam tarian  ini seorang penghulu membawakan syair-syair yang mengkisahkan sebab-sebab perang  sampai terjadinya  perang, serta menjelaskan bahwa pihak yang benar selalu akan menang. Pembacaan syair-syair ini diikuti gerak-gerak tari yang indah yang diiringi oleh instrumen musik yang berupa gong dan kendang. Para penari membawa senjata perang berupa pedang dan perisai.

b)            Tari Perang (Irian Jaya)
Tari perang oleh  orang Irian Jaya dilakukan pada upacara akan berangkat ke medan perang, dengan harapan agar dalam perang nanti musuhnya dapat dipengaruhi oleh kekuatan yang tidak kelihatan yang terdapat pada tari tersebut. Oleh orang-orang Timorini tari perang ini digunakan pula untuk mengusir maklhuk halus yang mereka sebut kugi.Kugi ini sering mengganggu kampung dan biasanya menimbulkan wabah penyakit menular, orang-orang Timorini menyelenggarakan tari perang yang dilakukan oleh penari-penari pria yang berpakaian perang dan senjata lengkap. Dalam menari mereka juga menyanyi. Para penari berjalan berbaris mengelilingi kampung serta diiringi pula oleh hiruk pikuk penduduk yang makin lama makin bertambah ribut, dengan maksud untuk menakut-nakuti kugi agar mau keluar dari kampung yang kena wabah.




2)           Tari Rakyat
Tari-tarian rakyat di Indonesia sebenarnya masih bertumpu pada unsur primitif,  seperti Sang Hyang dari Bali, Kuda  Kepang Jawa, dan sebagainya.  Tari rakyat  sering berfungsi sebagai tari upacara atau kelengkapan sosial dan juga hiburan dalam kehidupan masyarakat. Ada sebagian tari rakyat yang penyajiannya langsung terkait dengan upacara ritual. Dalam hal ini tempat dan waktu upacaranya ditentukan, begitu pula dengan para penarinya, biasanya tarian tersebut bersifat supranatural. Misalnya adanya saji-sajian khusus yang diperuntukkan  bagi roh-roh halus yang diyakini oleh mereka memiliki  kehidupan, kekuasaan dan kekuatan yang berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakatnya.Tari rakyat lebih menekankan pada nilai-nilai kebersamaan dan kepemilikan secara kolektif. Budaya kerakyatan sangat kuat peran dan fungsinya di lingkungan masyarakat agraris dan juga masyarakat pesisir. Sistem kehidupan sosial budaya  juga selalu terkait dengan sistem kepercayaan dan sistem mata pencaharian (pertanian, perikanan, perdagangan, dan lain-lain). Norma-norma kehidupan kolektif itu merupakan hasil kesepakatan bersama yang berguna untuk menjaga keselarasan dan keseimbangan alam kehidupan.
Pada perkembangan berikutnya tari rakyat bisa pula dilakukan untuk dua kepentingan. Pertama sebagai hiburan pada acara pesta atau upacara-upacara sosial kemasyarakatan. Ke dua tarian rakyat  yang dikemas secara khusus untuk kepentingan-kepentingan tertentu, misalnya festival, lomba atau kepentingan lainya yang secara khusus diadakan untuk upaya menumbuh kembangkan serta meningkatkan frekuensi pementasan.

3)           Tari Klasik
Tari Klasik adalah tari yang telah mengalami kristalisasi artistik yang tinggi yang ada semenjak jaman feodal. Tari klasik pasti mempunyai nilai-nilai tradisional, sedangkan  tarian tradisional belum tentu mempunyai nilai klasik, karena tari klasik selain berciri tradisional juga memiliki nilai  keindahan yang tinggi. Terminologi klasik berasal dari kata latin classic yang berarti golongan masyarakat yang tinggi pada jaman Romawi kuna. Pada jaman Romawi, Tullius membagi masyarakat menjadi 6 golongan berdasarkan atas kekayaannya. Golongan yang terendah disebut Klasproletari dan yang tertinggi disebut kelas  Classici.
Oleh Aulus Geullius istilah  Classici ini dipakai untuk menyebut hasil karya dari pengarang-pengarang bangsa Romawi yang berprestasi atau bermutu tinggi. Kemudian pengarangnya disebut  Sciptor  Classicus.  Berdasarkanpengutaraan mengenai arti klasik dari jaman Romawi itu dapat dikatakan bahwa salah satu khas klasik adalah mengandung nilai keindahan yang tinggi.
Tari Jawa gaya Yogyakarta merupakan contoh tari klasik, sebab tarian tersebut tampak dengan jelas adanya bentuk-bentuk aturan baku yang sangat mengikat. Jenis geraknya sudah ditentukan  mulai dari, posisi, komposisi termasuk pakaian dan dialognya pula. Dialog dalam drama tari  Jawa berupa jenis suara, yaitu tekanan tinggi, rendah, keras, serta lembut yang telah ditentukan dan ada standar yang mengikat. Tari Jawa gaya Surakarta meskipun masih dapat dikatakan klasik namun sedikit mendekati romantik. Sebenarnya ada standar ataupun pola, baik pada bentuk gerak hubungannya dengan komposisi dan pakaian maupun dialog, namun tidak begitu mengikat. Geraknya lebih gemulai, pakaiannya lebih gemerlapan cahaya warna dan variasinya.Sedangkan dialognya lebih merupakan ekspresi emosi dari si penari yang lebih komunikatf.

B.      Orientasi Sosial
            Peranan seni tari untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia adalah dengan melalui stimulan individu, social dan komunikasi. Dengan demikian tari dalam memenuhi kebutuhan individu dan social merupakan alat yang digunakan untuk penyampaian ekspresi jiwa dalam kaitannya dengan kepentingan lingkungan. Oleh karena itu tari dapat berperan sebagai pemujaan, sarana komunikasi, dan pernyataan batin manusia dalam kaitannya dengan ekspresi kehendak. Secara garis besar fungsi tari ada 3 antara lain :
1.             Tari Sebagai Upacara
Fungsi tari sebagai sarana upacara merupakan bagian dari tradisi yang ada dalam suatu kehidupan masyarakat yang sifatnya turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya sampai masa kini yang berfungsi sebagai ritual. tari dalam upacara pada umumya bersifat sakral dan magis. pada tari upacara faktor keindahan tidak diutamakan, yang diutamakaan adalah kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri ataupun hal hal diluar dirinya. Ciri – ciri tari untuk upacara antara lain :
a.             diselenggarakan pada tempat dan waktu tertentu, 
b.             bersifat sacral dan magis,
c.             ada sesaji,
d.             dilaksanakan di tempat terbuka dan massal,
e.             hidup dan berkembang dalam tradisi yang kuat sebagai sarana untuk persembahan,
f.              sebagai sarana memuja dewa,
g.             bersifat kebersamaan dan berulang ulang,
h.             yang datang dianggap peserta upacara bukan penonton ,
i.               ditarikan oleh penari yang terpilih dan dianggap suci,
j.               gerak tari imitatif, meniru gerak - gerik alam sekitar,
k.             ungkapan gerak mirip ekspresi kehendak jiwa penarinya.

Tari upacara dibagi menjadi 2 yaitu tari adat dan agama
a.             Tari Adat
beberapa contoh tari uapacar adat adalah bedhoyo  ketawang (penobatan raja) gambyong, karonsih, dan gatot kaca gandrung ( adat perkawinan), kuda lumping, jatilan (seni tontonan rakyat) tari sekapur sirih untuk penyambutan tamu agung dan tari rangguk (jambi) untuk persembahan untuk tamu biasa

b.             Tari Agama
 tari upacara agama adalah tari yang diyakini memiliki karismatik khusus. Apabila tidak dilaksanakan akan berdampak kepada peri kehidupan selanjutnya. Tari upacara agama memiliki tradisi khusus., dilaksanakan dalam konteks yang berhubungan dengan pernyataan penghayan keagamaan di mana mereka lebih asyik apabila melakukan dengan penghayatan dalam dan bersifat memuja, dan penghayantan persembahan secara total. Contoh tari pendet, rangde, rejang, keris, pasraman, gabor, ngaben bedoyo semang, bendaya ketawang, gandari

2.             Tari Sebagai Sarana Hiburan
salah satu bentuk penciptaan tari ditujukan hanya untuk di tonton. Tari ini memiliki tujuan hiburan pribadi lebih mementingkan kenikmatan dalam menarikan. Tari hiburan disebut tari gembira, pada dasarnya tarian gembira tidak bertujuan untuk ditonton akan tetapi tarian ini cenderung untuk kepuasan para penarinya itu sendiri. Keindahan tidak diutamakan, tetapi mementingkan kepuasan individual, bersifat spontanitas dan improvisasi. Cirri – cirri tari hiburan
a.             mudah melibatkan peserta
b.             pakaiannya bebas
c.             relative mudah dipelajari
d.             mood yang bergembira ria
e.             unsure gerak gembira dan bebas

contoh tari hiburan tari tayub (jatim, jateng), ketuk tilu (jabar), gandrung (banyuwangi), jogged bumbung (bali), serampang dua belas (Sumatra)

3.             Tari Sebagai Sarana Pertunjukkan
tari pertunjukkan adalah bentuk momunikasi sehingga ada penyampai pesan dan penerima pesan. Tari ini lebih mementingkan bentuk estetika dari pada tujuannya. Tarian ini lebih digarap sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat’ tarian ini sengaja disusun untuk dipertontonkan. Oleh sebab itu penyajian tari mengutamakan segi artistiknya yang konsepsional yang mantab, koreografer yang baik serta tema dan tujuan yang jelas. Cirri – cirri tari pertunjukkan
a.             pola garapannya merupakan penyajian yang khusus untuk dipertunjukkan
b.             adanya factor imajinatif / kreativitas
c.             adanya ide yang mengandung dan mengarah kepada konteks pementasan yang professional
d.             kadang kala pementasannya menghendaki penonton tertentu dengan harapan adanya evaluasi apresiatif yang dijalankan dengan undangan atau karcis
e.             lokasi pementasan di tempat yang khusus atau teater baik tempat itu berupa gedung pertunjukkan tradisional, modern, panggung terbuka, ataupun panggung tertutup.
f.              Contoh tari pertunjukan tari piring (Sumatra), tari ngremo(jatim), gambyong ( surakarta)

A.           Tari Rakyat
Adalah tari yang lair dan berkembang dilingkungan rakyat jelata yang menandakan perkembangan tari primitif. Contohnya Tari :
1.             Ketuk Tilu (Jawa Barat)
2.             Tayuban (Jawa Tengah)
3.             Lengger (Banyumas)
4.             Gandrung (Banyuwangi)
5.             Tor Tor (Batak)
6.             Ndi (Papua)



B.            Tari Klasik/Istana
Adalah tari yang lahir dan berkembang hanya dilingkungan isana yang mempunyai nilai artistik yang tinggi, memiliki konsep yang matang, dan koreografinya sudah tertata dengan baik. Berdasarkan Orientasi Sosial, Tari Tradisi Adalah yang lebih menekankan pada penggarapan estetika seni dan mempunyai gerak dan iringan lebih sederhana. Macam-macam tari tradisi di Indonesia :
Meliputi 26 Provinsi ;
1.             Aceh (Samman, Seudati)
2.             Sumut (Tor Tor, Serampang Dua Belas)
3.             Sumbar (Lilin, Piring)
4.             Sumsel (Gendhing Sriwijaya, Ngibing)
5.             Riau (Persembahan, Joget)
6.             Bali (Kecak, Legong)
7.             Jambi (Kipas, Gunjing)
8.             Bengkulu (Bidadari, Saputangan)
9.             Lampung (Batin, Lepas)
10.        DKI Jakarta (Ronggeng, Ondel-ondel)
11.        Jabar (Merak, Topeng, Jaipong)
12.        Jateng (Golek, Bondan)
13.        D.I.Y (Bedhoyo, Srimpi)
14.        Jatim (Remo, Jejer)
15.        NTT (Padoa, Sokapapak)
16.        NTB (Udeg, Nuri, Gandrung)
17.        Kalbar (Capin, Totokang)
18.        Kalteng (Tambung, Giring-giring)
19.        Kaltim (Perang, Gantar)
20.        Sulteng (Banggai, Cindi)
21.        Sultera (Lengse, Lumense)
22.        Sulsel (Padudupa, Pejaga)
23.        Sulut (Lenso, Kebesaran)
24.        Maluku (Cakar Lele, Lenso)
25.        Irian Jaya (Weur, Dombe, Yosman)











C.           Orientasi Artistik
Tarian ini lebih menekankan penggarapan estetika seni. Tarian ini dibagi: tari rakyat ,Klsik/ istana,dan tari primitif (tradisi). Ciri- ciri tari tradisi:
a.             Gerak dan iringan sangat sederhana, misalnya hanya gerak kaki yang di hentakkan
b.             Gerakan dibuat untuk  tujuan
c.             Instrumen yang sangat sederhana yang terdiri dari tifa,kendang,tanpa melihat           atau    memperhatikan alat musik
d.             Tata Rias masih sederhana
e.             Bersifat sakral (keagamaan)
f.              ada sejak saman prasejarah
g.             Gerak menekankan  pada hentakan kaki

D.           Jumlah Penarinya
Jumlah penari dalam sebuah tarian berbeda-beda, ada tarian yang dibawakan oleh seorang penari saja dan ada yang dibawakan secara massal.
1.             Tari Tunggal
Tari tunggal adalah tari yang dibawakan oleh seorang penari saja. Contohnya tari Gambyong dari Surakarta. Namun tari tunggal juga dapat ditarikan oleh banyak penari. Beberapa contoh tarian tunggal Nusantara antara lain :
1.             Tari Kancet Ledo dari Kalimantan (Dayak Kenyah)
2.             Tari Gandrung dari Banyuwangi Jawa Timur
3.             Tari Taledhek dari Jawa timur
4.             Tari Gambyong dari Jawa tengah
5.             Tari Cokek dari Jawa tengah
6.             Tari Batek baris dari Sumbawa
7.             Tari Kancet papatai dari Kalimantan (Dayak kenyah)
8.             Tari Kancet lasan dari Kalimantan (Dayak kenyah)
9.             Tari Leleng dari Kalimantan
10.        Tari Hudoq dari Kalimantan
11.        Tari Persembahan dari Kutai Kertanegara
12.        Tari Dewa memanah dari Kutai Kewrtanegara
13.        Tari Srimpi dari Jawa Tengah
14.        Tari Bondhan dari Jawa Tengah
15.        Tari Golek manis dari Jawa Tengah
16.        Tari Golek Kanya dari Jawa Tengah
17.        Tari Mani poring
18.        Tari Merak dari Sunda dan Bali
19.        Tari Pendet dari Bali

2.             Tari Berpasangan
Tari ini ditarikan secara berpasangan oleh dua orang penari, pasangan bisa pria semua, wanita semua, ataupun pria dan wanita. Rangkaian gerak tari jenis berpasangan saling mengisi,melengkapi,dan terdapat interaksi dan respons gerak antar penarinya. Beberapa contoh tari berpasangan antara lain :
1.             Tari Gandrung (Banyuwangi, Jawa Timur)
2.             Tari Remo (Jawa Timur)
3.             Tari salipuk (Nganjuk, Jawa Timur)
4.             Tari Serampang dua belas (Sumatera Utara)
5.             Tari Cokek (Betawi),
6.             Tari Jaipong (Jawa Barat),
7.             Tari Panji Asmara Bangun (yogyakarta),
8.             Tari Oleg Tamulilingan, Tari Sekar Ibing, Tari Cendrawasih, Tari Joged Bumbung, Tari Legong Keraton (Bali),
9.             Tari Payung (Sumatra Barat)
10.        Tari, Joget Lambak (Riau), dan
11.        Tari maengket (Sulawesi Utara).
12.        Tari Retno Tinanding, Tari Retno Ngayudo, Tari karno tanding, Tari Panji kembar, Tari lawung, Tari bogis kembar, Tari bondoyudo, Tari Srikandi Mustokoweni, Tari Srikandi Larasati, Tari Adanenggar, Kelaswara, Tari Srikandi Cakil, Tari Srikandi Burisrawa, Tari Srikandi Bisma, Tari Endah, Tari Karonsih, Tari Lambang Sari, Tari Dri Asamara, Tari Enggar-enggar, Tari Regol Gunungsari Tari Klana Sembung Langu, Tari Dayun Minak Jinggo (Jawa Tengah)

3.             Tari Kelompok
Tari kelompok ditarikan oleh lebih dari dua orang penari. Gerak yang dilakukan oleh penari belum tentu sama, sebab setiap penari kadang-kadang mempunyai peran yang berbeda. Posisi penari pada saat menari juga diatur. Penari yang satu dengan yang lainya harus bisa bekerja sama. Contoh tarian kelompok antara lain: Tari Serimpi (Yogyakarta), Tari Datun (Kalimantan Timur), Tari Kecak, Tari Baris Gede, Pendhet (Bali). Tari Saman, Seudati (NAD), Tari Cakalele(Maluku), dan Tari Tor Tor(Sumatera Utara), Tari Poco-Poco(Sulawesi Utara), Tari Sajojo(Papua), Tari Kuda Lumping, Gambyong (Jawa Tengah).



BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Berdasarkan bentuk koreografinya, tari dapat dibagi menjadi beberapa jenis atau bentuk, yaitu tari tunggal (solo), tari duet (pas de deax) atau massal berpasangan, dan tari kelompok (group choreography) yang didasarkan pada jumlah penarinya. Koreografi adalah melatih daya kreatif seseorang untuk diungkapkan dalam penyusunan tari. Sal Murgianto mengemukakan tentang pemahaman kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau ide-ide baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh penyusunnya sendiri. Komposisi atau composition berasal dari kata to composeyang artinya, mengatur atau menata bagian-bagian  sedemikian rupa sehingga satu sama lain saling berhubungan dan secara bersama membentuk kesatuan yang utuh.
Peranan seni tari untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia adalah dengan melalui stimulan individu, social dan komunikasi. Dengan demikian tari dalam memenuhi kebutuhan individu dan social merupakan alat yang digunakan untuk penyampaian ekspresi jiwa dalam kaitannya dengan kepentingan lingkungan.

B.            Saran
1.             Dengan mengenal lebih banyak tarian adat di seluruh provinsi di Indonesia mudah-mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini.
2.             Sekolah seni tertentu di Indonesia seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STIS) di Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) yang tersebar di Denpasar, Yogyakarta, dan Surakarta kesemuanya mendukung dan menggalakkan siswanya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seni tari tradisional di Indonesia. Beberapa festival tertentu seperti Festival Kesenian Bali dikenal sebagai ajang ternama bagi seniman tari Bali untuk menampilkan tari kreasi baru karya mereka.
3.             Semoga seluruh rakyat Indonesia dapat terus menjaga dan melestarikan seni tari serta menemukan cara-cara terbaru untuk mengatasinya agar tarian suatu daerah di Indonesia dapat terjaga sampai generasi selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangat berharga bagi saya

Survey Monkey

Survey Monkey/Monkey Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan umpan balik untuk membantu mengumpulkan informasi & data pelanggan dari surv...